Analisis Kualitas Briket Biomassa Tempurung Kelapa Menggunakan Variasi Perekat

Authors

  • Nissa Adiarifia Program Studi Teknik Mesin, Universitas Pamulang

Keywords:

Biomass, Coconut Shell Briquettes, Adhesive, Briquette Quality, Sustainable Energy

Abstract

Biomass energy, especially in the form of briquettes, represents a promising alternative to reduce reliance on fossil fuels while fostering the transition toward a sustainable energy system. This research aimed to assess and compare the quality of coconut shell briquettes prepared with three different binders, namely sago starch, tapioca starch, and molasses, at concentrations of 10% and 20%, and to identify the formulation that best complies with SNI standards. The evaluation covered parameters such as moisture content, ash content, volatile matter, and burning rate. The findings revealed that briquettes containing 10% sago starch binder had the lowest moisture content (6.65%), whereas those with 20% tapioca starch binder produced the lowest ash and volatile matter values (5.25% and 14.88%). In contrast, the use of molasses resulted in lower performance in most quality aspects. Overall, briquettes made with 10% sago starch and 20% tapioca starch exhibited superior quality and met the SNI requirements. The outcomes of this study provide valuable insights into the development of efficient, environmentally friendly biomass briquette technology that supports sustainable energy practices.

Abstrak: Energi biomassa, khususnya dalam bentuk briket, merupakan alternatif yang menjanjikan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus mendorong transisi menuju sistem energi yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai dan membandingkan kualitas briket tempurung kelapa yang dibuat dengan tiga jenis perekat berbeda, yaitu tepung sagu, tepung tapioka, dan molase, masing-masing pada konsentrasi 10% dan 20%, serta menentukan formulasi yang paling sesuai dengan standar SNI. Evaluasi dilakukan terhadap beberapa parameter, meliputi kadar air, kadar abu, zat mudah menguap, dan laju pembakaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa briket dengan perekat tepung sagu 10% memiliki kadar air terendah (6,65%), sedangkan perekat tepung tapioka 20% menghasilkan kadar abu dan zat mudah menguap terendah (5,25% dan 14,88%). Sebaliknya, penggunaan molase menunjukkan performa yang lebih rendah pada sebagian besar parameter kualitas. Secara keseluruhan, briket dengan perekat tepung sagu 10% dan tepung tapioka 20% memiliki mutu terbaik dan memenuhi persyaratan SNI. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan teknologi briket biomassa yang lebih efisien dan ramah lingkungan serta mendukung praktik energi berkelanjutan.

References

[1] O. F. Obi, R. Pecenka, and M. J. Clifford, “A Review of Biomass Briquette Binders and Quality Parameters,” Energies, vol. 15, no. 7. p. 2426, 2022. doi: https://doi.org/10.3390/en15072426.

[2] E. Carter et al., “Development of renewable, densified biomass for household energy in China,” Energy Sustain. Dev., vol. 46, pp. 42–52, 2018, doi: https://doi.org/10.1016/j.esd.2018.06.004.

[3] Maryono, Sudding, and Rahmawati, “Pembuatan dan Analisis Mutu Briket Arang Tempurung Kelapa Ditinjau dari Kadar Kanji,” Chem. J. Ilm. Kim. dan Pendidik. Kim., vol. 14, no. 1, pp. 74–83, 2013, doi: https://doi.org/10.35580/chemica.v14i1.795.

[4] A. Halim and M. Rante, “Pengaruh Dua Jenis Perekat Terhadap Briket Arang Tempurung Kelapa,” Innov. J. Soc. Sci. Res., vol. 4, no. 1, pp. 11408–11418, Feb. 2024, doi: https://doi.org/10.31004/innovative.v4i1.9127.

[5] A. P, A. Z. Syaiful, and M. Tang, “Pembuatan Briket Arang dari Tempurung Kelapa dengan Metode Pirolisis,” J. SAINTIS, vol. 1, no. 2, pp. 3–48, 2020.

[6] E. W. Kurniawan, “Studi Karakteristik Briket Tempurung Kelapa dengan Berbagai Jenis Perekat Briket,” Bul. Loupe Lap. Umum Penelit., vol. 15, no. 01, pp. 31–37, Dec. 2019, doi: https://doi.org/10.51967/buletinloupe.v15i01.24.

[7] S. Bahri, Muhammad, M. A. Furqan, R. Mulyawan, and Z. Ginting, “Pembuatan Briket dari Tempurung Kelapa dengan Variasi Jenis Perekat Organik (Bonggol Pisang, Ubi Kayu dan Biji Nangka),” Chem. Eng. J. Storage, vol. 5, no. 1, pp. 23–34, 2025, doi: https://doi.org/10.29103/cejs.v5i1.19656.

[8] L. O. Rusman, L. Lestari, S. Raharjo, I. Usman, and D. Chrismiwahdani, “Pengaruh Temperatur Aktivasi Terhadap Kualitas Briket Arang Aktif Sekam Padi,” JOP (Journal Online Physics), vol. 8, no. 3, pp. 39–46, 2023, doi: https://doi.org/10.22437/jop.v8i3.23846.

[9] B. S. Nasional, “SNI 06-3730-1995: Arang Aktif Teknis,” Badan Standardisasi Nasional, Jakarta, 1995.

[10] B. S. Nasional, “SNI 01-6235-2000: Briket Arang Kayu,” Badan Standardisasi Nasional, Jakarta, 2000.

[11] Faijah, R. Fadilah, and Nurmila, “Perbandingan Tepung Tapioka dan Sagu pada Pembuatan Briket Kulit Buah Nipah (Nypafruticans),” J. Pendidik. Teknol. Pertan., vol. 6, no. 2, pp. 201–210, 2020, doi: https://doi.org/10.26858/jptp.v6i2.10922.

[12] A. Masturin, “Sifat Fisik dan Kimia Briket Arang dari Campuran Arang Limbah Gergajian Kayu,” Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, 2002.

[13] N. M. Sari, Violet, K. Nisa, and Syamsudin, “Pengaruh Campuran Limbah Tunggak Kayu Tumih (Combretocarpus rotundatus (Miq) Danser) dan Limbah Kayu Galam (Melaleuca cajuputi) terhadap Karakteristik Briket Arang dari Kayu Khas Lahan Basah di Kalimantan Selatan,” J. Hutan Trop., vol. 9, no. 2, pp. 432–444, 2021, doi: https://dx.doi.org/10.20527/jht.v9i2.11295.

Downloads

Published

2025-11-14

How to Cite

Adiarifia, N. (2025). Analisis Kualitas Briket Biomassa Tempurung Kelapa Menggunakan Variasi Perekat. Jurnal Inovasi Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi (JIPTEK), 7(1), 9–15. Retrieved from https://openjournal.unpam.ac.id/index.php/JIPT/article/view/54249