15
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
Sex Education sebagai Bentuk Preventif Tindak Kekerasan Seksual
Pada Anak
Dewi Ayu Hidayati
a,1
*, Junaidi Junaidi
b,2
, Erna Rochana
c,3
, Pairulsyah
d,4
a,b,c,d
Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lampung, Bandar Lampung
Email: *dewiayu.hidayati@fisip.unila.ac.id
Naskah diterima: 15 Januari 2026, direvisi: 12 Februari 2026, disetujui: 28 Februari 2026
Abstrak
Pendidikan seks usia dini sangat diperlukan sebagai bentuk preventif dari tindakan kekerasan
seksual. Pendidikan seks dapat meningkatkan pengetahuan anak akan pentingnya menjaga diri
terutama menjaga bagian reproduksi yang rentan terhadap kekerasan seksual. Berangkat dari
hal tersebut, diperlukannya sosialisasi dan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya
pendidikan seks pada anak. Tujuanannya, yakni untuk meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman tentang pendidikan seks, serta kesadaran para orang tua untuk menanamkan nilai-
nilai edukasi seks sejak dini, sehingga dapat mepencegahan dalam tindak kekerasan seksual
pada anak. Metode yang akan digunakan dalam kegiatan pengabdian ini adalah tahap
persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan tindaklanjut. Tahap persiapan yang dilakukan dalam
bentuk merencanakan serta mempersiapkan bentuk kegiatan yang akan dijalankan. Tahap
pelaksanaan dilakukan dalam bentuk sosialisasi dan edukasi terkait pentingnya pendidikan
seks bagi anak. Tahap evaluasi, dimana hasil kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan
pemahaman dan pengetahuan tentang pendidikan seks yang perlu diberikan kepada anak. Hasil
dari kegiatan PKM ini menunjukkan adanya keberhasilan karena telah terjadi peningkatan
pengetahuan peserta sebesar 8% dan terlihat dari partisipasi aktif serta antusiasme peserta
kegiatan ketika sesi penyampaian materi serta diskusi dilakukan dalam kegiatan tersebut.
Kesimpulannya pengabdian ini dapat sebagai sarana mencegah kekerasan seksual pada anak.
Tindaklanjutnya diperlukannya kegiatan serupa, sehingga bermanfaat bagi kehidupan di
masyarakat.
Kata-kata kunci: sex education, preventif, tindak kekerasan seksual, anak
Abstract
Early age sex education is very necessary as a form of prevention from sexual violence. Sex
education can increase children's knowledge of the importance of protecting themselves,
especially protecting the reproductive organs that are vulnerable to sexual violence. Based on
this, there is a need for socialization and education to parents about the importance of sex
education for children. The goal is to increase knowledge and understanding of sex education,
as well as awareness of parents to instill the values of sex education from an early age, so that
it can prevent sexual violence against children. The methods that will be used in this
community service activity are the preparation, implementation, evaluation and follow-up
stages. The preparation stage is carried out in the form of planning and preparing the form of
activities that will be carried out. The implementation stage is carried out in the form of
socialization and education related to the importance of sex education for children. Evaluation
stage, where the results of this activity are expected to increase understanding and knowledge
about sex education that needs to be given to children. The results of this PKM activity show
success because there has been an increase in participant knowledge by 8% and can be seen
from the active participation and enthusiasm of participants during the material delivery
session and discussions carried out in the activity. In conclusion, this community service can
be a means of preventing sexual violence against children. The follow-up is needed for similar
activities, so that it is beneficial for community life.
Keywords: sex education, prevention, sexual violence, children
16
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
PENDAHULUAN
Kekerasan seksual pada anak
semakin tahun semakin marak terjadi apalagi
saat ini perkembangan teknologi semakin
canggih sehingga anak lebih mudah untuk
mengakses informasi tentang apapun
termasuk tentang aktivitas seksual melalui
media online. Selain itu, saat ini kasus
kekerasan seksual banyak terjadi justru
pelakunya adalah orang terdekat baik itu
keluarga, tetangga, guru, teman sepermainan
dan lainnya. Oleh karena itu diperlukan
upaya secara nyata yang dilakukan oleh
orang tua terutama ibu untuk melakukan
pendidikan seks serta pengawan kepada anak
sejak dini guna mencegah atau menghindari
kasus kekerasan seksual yang banyak terjadi
pada anak (Anggraiani dkk, 2017). Seperti
halnya menurut data KPAI tahun 2023
melangsir bahwa kasus kekerasan seksual
pada anak hingga 31 Desember 2023
sebanyak 3000 kasus yang terjadi (KPAI,
2023 dalam rri.co.id, 2024). Kasus kasus
yang berkaitan dengan kekerasan seksual
pada anak antara lain terjadi pada anak
berusia 3 tahun berinisial AN di Rusunawa
Marunda Jakarta Utara dimana ia mengalami
tindakan pencabulan yang dilakukan oleh
tetangganya sendiri. Selain itu kasus
kekerasan seksual yang terjadi pada bocah
perempuan di Kebun Jeruk Jakarta dimana ia
mengalami tindakan pencabulan yang
dilakukan oleh ayahnya sendiri. Kasus
lainnya yaitu aksi pencabulan yang
dilakukan oleh seorang laki laki terhadap
anak aki laki berusia 11 tahun. Selain itu
juga aksi pencabulan yang dilakukan oleh
guru agama pada muridnya di Tanggerang
dan Duren Sawit (Kompas.com, 2023)
Melihat banyaknya kasus kekerasan
seksual yang terjadi ditengah tengah
masyarakat seperti menjadi sebuah fenomena
sosial yang tidak ada akhirnya, banyak kasus
yang terjadi tidak selesai di jalur hukum
tetapi penyelesaian banyak dilakukan dengan
cara damai antara pelaku dengan korban,
karena masih ada yang beranggapan bahwa
kasus seperti ini apabila di laporkan akan
menjadi peristiwa yang memalukan pada
keluarga mereka (Noviana, 2015). Dari
banyaknya kasus yang terjadi khususnya
yang menimpa anak anak sebagai generasi
penerus bangsa menjadikan keluarga sebagai
lingkungan terdekat khususnya orangtua
perlu memberikan pendidikan seks sejak dini
guna meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman kepada anak anak tentang
aktivitas seksual yang tidak boleh dilakukan
beserta dampak dampak negatifnya sehingga
anak anak lebih memahami dan dapat
melakukan aksi nyata sebagai bentuk
penolakan apabila hak tersebut menimpanya
dan dapat segera melaporkan kepada
orantuanya.
16
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
Orang tua sebagai lingkungan
terdekat sebaiknya memiliki informasi dan
pengetahuan yang cukup sehingga dapat
memberikan pendidikan terbaik pada anak
anaknya termasuk sex educatioan sehingga
fungsi pendidikan yang diberlakukan orang
tua dapat terealisasi dengan baik sebagai
bentuk preventif terjadinya tindakan
kekerasan seksual pada anak. Seperti halnya
menurut (Draucker et al., 2011) yang
menyatakan bahwa sebaiknya pendidikan
seks mulai dilakukan di lingkungan rumah
oleh orang tua sebagai bagian dari
lingkungan terdekat anak. Oleh karenanya
orang tua berperan penting dalam pendidikan
dan pengasuhan anak termasuk pada
pendidikan seksual serta intensitas
pemantauan dan penjagaan yang harus terus
diawasi oleh orang tua
Sekolah IT Al-Khair merupakan
salah satu lingkungan pendidikan anak TK
dan SD di kelurahan Labuhan Bandar
Lampung. Sekolah IT Al-Khair menjadi
lokasi kegiatan pengabdian karena pendikan
seks bagi anak anak sekolah dasar sangat
penting untuk diberikan, harapannya budaya
tabu yang melekat selama ini pada beberapa
keluarga untuk memberikan informasi
tersebut mengalami perubahan dimana para
orang tua lebih memiliki kesadaran untuk
meningkatkan pengetahuan atau informasi
tentang seks kepada anak anaknya sehingga
dapat menjadi upaya preventif bagi
pencegahan kekerasan seksual pada anak.
METODE
Metode yang digunakan dalam kegiatan
pengabdian kepada masyarakat ini mencakup
beberapa tahapan, antara lain:
Tahapan Persiapan
Pada tahap ini dilaksanakan upaya persiapan
untuk melaksanakan kegiatan inti PKM.
Kegiatan persiapan dalam bentuk
perencanaan kegiatan dengan team
pengabdian, berkoordinasi dengan mitra
tentang rencana kegiatan, melakukan analisis
masalah dengan mitra, serta meninjau lokasi
kegiatan PKM.
Tahapan Pelaksanaan
Pada tahapan ini, dilaksanakan kegiatan inti
dari PKM yaitu melaksanakan kegiatan
sosialisai dan edukasi dengan para orang tua
dan guru yang ada di TK Al-Khair yang
sebekum pelaksanaan kegiatan diawali
dengan melakukan pretest untuk mengetahui
pengetahuan awal peserta sebelum
dilaksanaka kegiatan PKM selesai
pelaksanaan sosialisasi dan edukasi
dilanjutkan dengan tanya jwab serta mengisi
lembar post test untuk mengetahui
pengetahuan dan pemahaman peserta setelah
pelaksanaan kegiatan.
17
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
Tahapan Evaluasi dan tindak lanjut
program
Tahapan ini dengan melakukan evaluasi
dengan team pengabdian dan pihak mitra
sehingga bisa diketahui letak kekurangan
pada pelasanaaan PKM tersebut. Selain itu
dilaksanakan rencana untuk melakukan
tindak lanjut program guna kegiatan ini ada
keberlanjutannya dengan tema tema yang
sejenis dan dilakukan secara berkelanjutan.
Selain itu pada aspek ini, tim PkM akan
merekomendasikan kepada pihak pihk
terkait dalam melakukan edukasi atau
sosialisasi yang berkaitan dengan
peningkatan pemahaman orang tua dalam
menjalankan perannya didalam keluarga.
Uraian tidak lanjut dan program, dilakukan
desiminasi kepada mitra di TK Al- Khair
Kelurahan Labuhan Ratu Kedaton Bandar
Lampung. desiminasi pengabdian tersebut
dapat diliaht pada table di bawah ini:
Tabel 1. Deskripsi desiminasi kepada
Masyarakat
No.
Kegiatan Sosialisasi dan
edukasi pendidikan seks
pada anak
Desiminasi ke
Masyarakat
1.
Sosialisasi dan edukasi
tentang peran orang tua
dalam menjalankan
fungsi sosialisasi dan
pendidikan termasuk
pendidikan seks pada
anak
Peningkatan
pengetahuan dan
pemahaman
tentang fungsi
sosialisasi dan
pendidikan orang
tua terhada anak
Peningkatan
pengetahuan dan
pemahaman
tentang pentingnya
pendidikan seks
pada anak
Sosialisasi dan edukasi
bentuk bentuk tindak
kekerasan seksual pada
anak serta dampak bagi
tumbuh kembang anak
Peningkatan
pengetahuan dan
pemahaman
tentang bentuk
bentuk tindak
kekerasan pada
anak
Peningkatan
pengetahuan dan
pemahaman
tentang dampak
tindak kekerasan
seksual bagi
tumbuh kembang
anak
Sosialisasi dan edukasi
tentang implementasi
pendidikan seks yang
perlu diberikan kepada
anak
Peningkatan
pengetahuan dan
pemahaman
tentang bentuk
bentuk pendidikan
seks yang perlu
diketahui oleh
anak
Peningkatan
pengetahuan dan
pemahaman
manfaat
pendidikan seks
bagi anak
Sosialisasi tentang bentuk
bentuk pola asuh yang
diberikan kepada anak
Peningkatan
pengetahuan dan
pemahaman
tentang bentuk
bentuk pola asuh
orang tua terhadap
anak
Peningkatan
pengetahuan dan
pemahaman
tentang bentuk
pola asuh yang
ideal diberikan
kepada anak
Kegiatan Sosialisasi
tentang pemberian fungsi
fungsi dalam keluarga
Peningkatan
pengetahuan dan
pemahaman
tentang pentingnya
pemberian fungsi
fungsi dalam
keluarga
Pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan
pengabdian ini, yaitu Para guru TK Al Khair
dan Para orang tua. Peserta yang terlibat
dalam kegiatan pengabdian ini adalah para
guru dan para orang tua yang anak anaknya
bersekolah di TK Al-Khair Labuhan Ratu
Kedaton Bandar Lampung. Mengacu
18
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
sebagaimana yang diungkapkan oleh
Harwood (2010), partisipasi/keterlibatan
mitra (masyarakat lokal) akan berperan pada
aspek perencanaan, konstruksi,
pemeliharaan, dan pengelolaan
pengembangan. Harapannya dengan adanya
peran serta atau keterlibatan berbagai
komponen peserta tersebut dapat
meningkatkan pengetahuan dan pemahaman
yang dapat diimplemantasikan dalam
kehidupan nyata sehingga dapat
menghasilkan tujuan atau manfaat dari
kegiatan ini.
Adapun rancangan evaluasi yang diterapkan
dalam pengabdian ini mencakup dua
aktivitas, diantaranya yakni evaluasi/analisis
kondisi sebelum implementasi kegiatan PkM
dan evaluasi sesudah kegiatan PkM
diimplementasikan. Dari dua aktivitas
evaluasi tersebut akan diketahui/ diukur
perubahan yang terjadi. Adapun kriteria
perubahan yang dimaksud diantaranya:
1. Peningkatan pengetahuan dan
pemahaman para peserta tentang bentuk
bentuk pola asuh orang tua yang
diberikan kepada anak serta dampaknya
bagi anak
2. Peningkatan pengetahuan dan
pemahaman para peserta tentang
pentingnya pemberian fungsi keluarga
kepada anak
3. Peningkatan pengetahuan dan
pemahaman peserta kegiatan tentang
pentingnya pendidikan seks bagi anak
oleh orang tua serta manfaat bagi anak
4. Peningkatan pengetahuan dan
pemahaman peserta terkait bentuk
bentuk pendidikan seks yang diperlukan
bagi anak
5. Peningkatan pengetahuan dan
pemahaman peserta tentang bentuk
bentuk tindak
kekerasan seksual yang perlu
diwaspadai serta dampak kekerasan
seksual pada anak
6. Peningkatan pengetahuan dan
pemahaman peserta tentang bentuk
bentuk tindakan kenakalan anak atau
remaja yang disebabkan karena faktor
keluarga.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Realisasi Kegiatan
Kegiatan pengabdian ini
dilaksanakan mengacu pada tahapan
rancangan kegiatan yang telah disusun, yang
secara garis besar terbagi ke dalam empat
tahapan kagiatan, yakni: persiapan
pelaksanaan, sosialisasi, evaluasi, dan
pelaporan.
Persiapan Kegiatan
Persiapan pelaksanaan kegiatan
pengabdian ini dilakukan selama dua bulan.
Adapun beberapa hal yang dipersiapkan
19
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
diantaranya: koordinasi di antara tim
pelaksana PkM dan koordinasi dengan pihak
sekolah TK Alam Al-Khair. Secara teknis,
tim PkM juga melakukan beberapa hal
berikut, di antaranya: penyiapan materi,
persiapan teknis kegiatan pengabdian dan
perlengkapan lainnya seperti ketersediaan
tempat/lokasi pelatihan, kelengkapan alat
kegiatan pengabdian, dan perangkat
dokumentasi.
Pelaksanaan Kegiatan
Mengacu pada kerangka pemecahan
masalah, maka materi yang disampaikan
dalam sosialisasi mencakup:
Bentuk Bentuk Pola Asuh dalam
Keluarga (MATERI 1)
Anak adalah titipan Allah yang harus
kita jaga dan dan didik sedemikian rupa agar
setelah mereka besar dapat menjadi orang
yang berguna bagi masyarakat, bangsa,
negara, serta dapat membahagiakan dan
membanggakan orang tua yang telah
membesarkannya dengan cinta dan kasih
sayang. Oleh karena itu peran orang tua
sangat penting sebagai pranata sosial yang
pertama dan utama yang memiliki peran
paling strategis dalam mengisi dan
membekali nilai-nilaikehidupan
Pengertian Pola Asuh
Pola asuh terdiri dari dua kata yaitu
“pola” dan “asuh”. Pola yang berarti corak,
model, sistem, cara kerja, bentuk (struktur)
yang tepat. Sedangkan kata “asuh” dapat
berarti menjaga (merawat dan mendidik),
membimbing (membantu, melatih, dan
sebagainya).
Pola asuh orang tua adalah suatu
keseluruhan interaksi antara orang tua
dengan anak, dimana orang tua bermaksud
menstimulasi anaknya dengan mengubah
tingkah laku, pengetahuan serta nilai-nilai
yang dianggap paling tepat oleh orang tua.
Semua sikap dan perilaku anak dalam
keluarga dipengaruhi oleh pola asuh
orangtua. Dengan kata lain, pola asuh orang
tua akan mempengaruhi perkembangan jiwa
anak, sehingga sudah sepatutnya orang tua
memilih pola asuh yang ideal untuk anak,
namun dalam pelaksanaannya banyak
orangtua masih kaku dan terbatas dalam
menerapkan.
Tipe atau bentuk Pola Asuh Orang Tua
Terhadap Anak
a. Pola asuh permissif (liberal) yaitu jenis
pola pengasuhan anak yang cuek terhadap
anak, jadi apapun yang diinginkan anak
diperbolehkan, tetapi kontrol dari orang
tua rendah. Adapun yang termasuk pola
asuh permisif adalah sebagai berikut
- Membiarkan anak bertindak sendiri
tanpa memonitor dan
membimbingnya.
- Mendidik anak acuh tak acuh,
bersikap pasif dan masa bodoh.
- Mengutamakan kebutuhan material
saja
20
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
- Membiarkan saja apa yang dilakukan
anak (terlalu memberikan kebebasan
untuk mengatur diri sendiri tanpa ada
peraturan-peraturan dan norma-
norma yang digariskan orang tua).
- Namun orang tua tipe ini biasanya
bersifat hangat, sehingga seringkali
disukai oleh anak.
Pola pengasuhan seperti ini biasanya
dikarenakan orang tua yang terlalu sibuk
dengan pekerjaan ataupun urusan yang
lain yang akhirnya lupa untuk mendidik
anak dengan baik dengan begitu anak
hanya diberi materi atau harta saja dan
terserah anak itu mau tumbuh dan
berkembang menjadi apa. Anak yang
diasuh dengan metode seperti ini
menyebabkan perilaku anak cenderung
berkembang menjadi anak yang kurang
perhatian, merasa tidak berarti, rendah
diri, nakal, memiliki kemampuan
sosialisasi yang buruk, kontrol diri buruk,
salah bergaul, kurang menghargai orang
lain.
b. Pola pengasuhan otoriter yaitu pola
pengasuhan anak yang bersifat
pemaksaan, keras dan kaku dimana orang
tua akan membuat aturan yang saklek
yang harus dipatuhi anaknya tanpa mau
tahu perasaan anak.
Pola pengasuhan seperti ini biasanya
dikarenakan orang tua yang memiliki
tingkat emosi yang tinggi, sehingga ketika
anak melakukan hal yang tidak sesuai
dengan yang diinginkan oleh orang
tuanya maka orang tua akan mudah sekali
marah bahkan sering memberikan
hukuman fisik dan mental dengan alasan
agar anak terus tetap patuh dan disiplin
serta menghormati orang tua yang telah
membesarkannya.
Pola pengasuhan seperti ini biasanya
dikarenakan orang tua yang memiliki
tingkat emosi yang tinggi, sehingga ketika
anak melakukan hal yang tidak sesuai
dengan yang diinginkan oleh orang
tuanya maka orang tua akan mudah sekali
marah bahkan sering memberikan
hukuman fisik dan mental dengan alasan
agar anak terus tetap patuh dan disiplin
serta menghormati orang tua yang telah
membesarkannya
Adapun ciri-ciri pola asuh otoriter
adalah sebagai berikut:
- Anak harus mematuhi peraturan orang
tua dan tidak boleh membantah.
- Orang tua cenderung mencari
kesalahan-kesalahan anak dan
kemudian menghukumnya.
- Orang tua cenderung memberikan
perintah dan larangan kepada anak.
- Jika terdapat perbedaan pendapat
antara orang tua dan anak, maka anak
dianggap pembangkang.
- Orang tua cenderung memaksakan
disiplin.
21
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
- Orang tua cenderung memaksakan
segala sesuatu untuk anak dan anak
hamyasebagai pelaksana.
- Tidak ada komunikasi antara orang tua
dan anak (komunikasi satu arah)
Anak yang besar dengan teknik
pengasuhan seperti ini biasanya tidak
bahagia, paranoid, mudah sedih dan
tertekan, senang berada di luar rumah,
benci orang tua. Namun ada hal
positifnya, yaitu biasanya anak dengan
didikan orang tua yang otoriter lebih bisa
mandiri, bisa menjadi orang sesuai
keinginan orang tuanya, lebih disiplin dan
bertanggung jawab dalam menjalani
hidup.
c. Pola asuh otoritatif (demokratis)
Pola asuh orang tua terhadap anak
yang memberikan kebebasan kepada anak
untuk berkreasi dan mengeksplorasi berbagai
hal sesuai dengan kemampuan anak dengan
sensor batasan dan pengawasan yang baik
dari orang tua.
Adapun ciri-ciri pola asuh demokratis
adalah sebagai berikut:
- Menentukan peraturan dan disiplin denga
memperhatikan dan mempertimbangkan
alasan-alasan yang dapat diterima dan
dipahami dandimengerti oleh anak.
- Memberikan pengarahan tentang
perbuatan baik yang harus dipertahankan
oleh anak dan yang tidak baik
agar ditinggalkan.
- Memberikan bimbingan dengan penuh pe
ngertian.
- Dapat menciptakan keharmonisan dalam
keluarga.
- Dapat menciptakan suasana komunikatif
antara orang tua, anak dan sesama
keluarga.
- Memberikan sanksi tegas yang mendidik
Pola asuh ini adalah pola asuh yang
cocok dan baik untuk diterapkan para orang
tua kepada anaknya. Anak yang di asuh
dengan teknik ini akan hidup menyenangkan,
kreatif, cerdas, prcaya diri, menghargai dan
menghormati orang tua, tidak mudah stress
dan depresi, berprestasi baik dan disukai
linggkungan.
d. Pola Asuh Penelantar
Orang tua tipe ini pada umumnya
memberikan waktu dan biaya yang sangat
minim pada anaknya. Waktu banyak digunak
an untuk keperluan pribadi mereka, seperti
bekerja. Sehingga, selain kurangnya
perhatian dan bimbingan, fungsi ekonomi
juga tidak berjalan khususnya pada anak,
Pola asuh penelantar memiliki ciri-ciri:
- Orang tua menghabiskan banyak
waktu diluar rumah
- Orang tua kurang memperhatikan
perkembangan anak
22
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
- Orang tua membiarkan anak bergaul
terlalu bebas di luar rumah
- Orang tua membiarkan anak berada
dijalan
- Meskipun pola pengasuhan terbagi dalam
empat macam, tetapi pembagian ini bukan
merupakan hal yang kaku, karena tidak
ada manusia yang sempurna (Sonia &
Apsari, 2020).
Fungsi Fungsi Keluarga (MATERI 2)
Fungsi Keluarga penting untuk diketahui
sebab dari sinilah terukur dan terbaca sosok
keluarga yang ideal dan harmonis.
Munculnya krisis dalam keluarga
dikarenakan kurang berfungsinya salah satu
fungsi keluarga.
1. Fungsi Biologis
Berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan
seksual suami dan isteri. Keluarga ialah
lembaga pokok yang secara absah
memberikan ruang bagi pengaturan dan
pengorganisasian pengaturan seksual.
2. Fungsi Sosialisasi Anak
Menunjuk pada peranan keluarga dalam
membentuk kepribadian anak. Orang tua
berusaha memberikan bekal sebesar-
besarnya kepada anak dengan
memperkenalkan tingkah laku, sikap,
keyakinan, cita-cita dan nilai-nilai yang
dianut masyarakat serta mempelajari peranan
yang diharapkan akan dijalankan mereka.
3. Fungsi Afeksi
Pemenuhan kebutuhan kasih sayang atau
cinta kasih. Kasih sayang dan perhatian
sangat dibutuhkan pada setiap anak. Materi
bukanlah yang utama bagi anak tapi
bagaimana orang tua meluangkan waktu dan
memberikan kualitas yang terbaik untuk
anak.
4. Fungsi Edukatif
Keluarga (orang tua) merupakan guru
pertama dalam mendidik anak. Hal ini dapat
terlihat ketika anak dari lahir, balita, remaja,
dstnya semuanya diajari orang tua. Jadi
orang tua memberikan pendidikan yang
pertama dan utama bagi seorang anak
sehingga kepribadian anak bisa terbentuk
dengan baik.
5. Fungsi Religius
Fungsi keagamaan yang dikembangkan
dalam keluarga, sehingga anggota keluarga
menjadi insan agama yang penuh keimanan
dan ketakwaan pada Tuhan YME, dengan
cara menampilkan perilaku keagamaan dlm
keluarga dan menampilkan fisik berupa
sarana ibadah dalam keluarga.
6. Fungsi Protektif
Keluarga merupakan tempat yang paling
nyaman bagi para anggotanya. Orang tua
selalu berusaha untuk memberikan rasa
nyaman kepada anak-anaknya sehingga anak
selalu menginginkan untuk berada ditengah-
tengah keluarganya.
23
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
7. Fungsi Ekonomis
Orang tua berusaha untuk memberikan
pemenuhan kebutuhan ekonomi bagi anak-
anaknya, sehingga apapun yang menjadi
kebutuhan anak bisa didapat dari orang
tuanya.
8. Fungsi Penentuan status
Orang tua bisa menjadi sarana untuk
menentukan status untuk anak-anaknya
kelak, ketika orang tua menginginkan
anaknya untuk memperoleh status yang
diharapkan maka orang tua berusaha
mendidik, membimbing, dan mengarahkan
anak-anaknya agar sesuai dengan harapan
mereka tersebut.
9. Fungsi Rekreatif
Orang tua selalu berusaha untuk memberikan
suasana segar dan gembira bagi anak-
anaknya, sehingga anak tidak selalu merasa
tertekan, tapi mereka bisa memperoleh
suasana yang menyenangkan & menghibur
bagi mereka (Kawengian dkk, 2022).
Pendidikan Seksual Anak Usia Dini
(Materi 3)
Beberapa bentuk kekerasan seksual pada
anak, yaitu pemerkosaan, incest, kekerasaan
seksual melalui media sosial, pelecehan
seksual, dan bentuk lainnya. Hal tersebut
dapat terjadi karena:
1. Adanya orientasi Seksual terhadap anak
anak (Pedofilia) kelainan seksual pada
orang dewasa yang memiliki hasrat
erotis yangabnormal pada anak-anak
(prapubertas).
2. Pengaruh Pornografi media Massa
Majalah, televisi, internet, film, dan
papan reklame memunculkankevulgaran
perilaku seksual akan memengaruhi
konseptualisasi danpengalaman
seksualitas anak.
3. Ketidakpahaman anak akan persoalan
seksual balita yang tidak mengerti akan
pendidikan seksual cenderung mudah
diperalat oleh para pelaku kejahatan
seksual (Fauziah, 2016).
Oleh karena itu penting sekali
pendidikan seksual pada anak, namun
banyak persepsi yang berkembang
mengenai pentingnya pendidikan seksual
ini dimana ada yang menganggap itu
adalah mitos namun ada yang
beranggapan itu adalah fakta.
Mitos yang berkembang antara lain:
1. Memberikan Pendidikan seksual
pada anak Akan melakukan
hubungan seksual lebih dini
2. Pendidikan seks pada balita adalah
hal yang tabu, karena anak-anak
sudah diajarkan tentang perilaku
seksual
3. Pendidikan seks dimulai ketika anak
sudah remaja
Fakta yang berkembang antara lain:
1. Pendidikan seksual akan membuat
anakmengetahui fungsi organnya,
24
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
tanggung jawab,apa yang boleh dan
tidak boleh dilakukan yang justru
akan menghindarkannya melakukan
hubseksual saat mereka masih anak-
anak/remaja
2. Pendidikan seksual pada balita
bertujuan untuk memperkenalkan
organ intim yang mereka
miliki,fungsi, serta cara
melindunginya
Berdasarkan penelitian Kirby, Laris &
Rolleri, (2007):
“Pendidikan Seks pada anak sedini
mungkin, terbukti berhasil mencegah
perilaku beresiko
seperti penyimpangan seksual,
pelecehan seksual, dan melindungi
remaja melakukan sekssebelum
menikah”
“Keluarga sebagai agen
dasar pendidikan memiliki tanggung
jawabyang besar dalam memberikan
pendidikan seks yang memadai bagi
anak-anak mereka”
Hal apa saja yang harus diperhatikan
dalam mengajarkan pendidikan seksual
pada anak:
1. Membangun komunikasi sportif
Orang tua menjadi pendengar yang
baik ketika anak berbicara dan
memahaminya tanpa memaksa anak
masuk ke dalam kerangka pikir orang
dewasa.
2. Bersikap jujur dan terbuka
Dalam memberikan informasi,
hendaknya orang tua memberikan
dengan cara yang benar dan apa
adanya, mengapa? Karena jawaban
yang asal-asalan akan membuat
kebingungan pada anak, dan akhirnya
anak memiliki konsep seksual yang
salah.
3.Step by step
Pengajaran dilakukan dari hal
sederhana yang dibiarkan
mengalirsesuai dengan
pertanyaananak dan pemahaman
umur anak
Tahapan pendidikan seksual
BALITA berdasarkan tingkatan
umur:
1. Infancy: 0-2 tahun
Pada umur ini,anak-anak mengetahui
nama ilmiah alat kelamin mereka
(penis & vagina) dan sudah
mengetahui perbedaan antara pria
dan wanita.
2. Early Childhood: 2-5 tahun Anak-
anak mengetahui reproduksi secara
sederhana bahwa bayi tercipta karena
wanita dan pria, atau bayi tumbuh di
25
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
dalam rahim ibu mereka. Anak sudah
paham akan bagian tubuh mereka dan
bagian mana yang boleh/tidak boleh
disentuh orang lain
Pendidikan seksual yang
perlu diterapkan pada Anak adalah:
- BagianTubuh Anak
- Rasa Malu
- Perbedaan Laki-laki dan
perempuan
- Memisahkan tempat tidur anak
dengan orang tua/saudara beda
kelamin
- Mengajarkan tentang kebersihan
alat kelamin.
- Membedakan antara keluarga dan
orang asing.
- Membiasakan anak mengetuk pintu
sebelum masuk ke kamar orang tua
Agar anak tidak menjadi korban
pelecehan seksual, kita perlu
mengajarkan:
a. Mengajarkan 3 jenis sentuhan
1. Sentuhan “boleh”, yaitu diatas bahu
dan dibawah lutut seperti membelai
kepala atau mencubit pipi.
2. Sentuhan “waspada”, yaitu sentuhan
dibawah bahu hingga atas lutut
tubuh, dan membingungkan antara
nafsu atau kasih sayang
3. Sentuhan ”terlarang”, yaitu
sentuhan pada daerah privasi
b. Mengajarkan Anak Berani Berkata
Tidak
Beri pengertian pada anak bahwa ia
berhak menolak dan mengatakan
“tidak” dengan tegas dan berani jika
sentuhan “waspada” atau “terlarang”
terjadi
c. Mengajarkan anak untuk dapat
mengidentifikasi situasi Kenalkan anak
situasi-situasi bahaya yang dapat
mengancam mereka, hal apa saja yang
membuat mereka tidak nyaman atau
sesuatu yang dianggap tidak
sesuai dengan nilai nilai norma.
Kenakalan Remaja karena Faktor
Keluarga (MATERI 4)
Juvenile delinquency atau kenakalan
remaja adalah perilaku jahat atau kenakalan
anak-anak muda, merupakan gejala sakit
(patologis) secara sosial pada anak-anak dan
remaja yang disebabkan oleh satu bentuk
pengabaian sosial, sehingga mereka
mengembangkan bentuk perilaku yang
menyimpang.
Pada dasarnya kenakalan remaja
menunjuk pada suatu bentuk perilaku remaja
yang tidak sesuai dengan norma-norma yang
hidup di dalam masyarakatnya. Berdasarkan
teori perkembangan fisik, remaja dibagi
menjadi remaja awal dan remaja akhir.
Remaja awal dimulai dari usia 13-17 tahun
sedangkan remaja akhir dimulai dari usia18-
26
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
20 tahun Keluarga merupakan sosialisasi
manusia yang terjadi pertama kali sejak lahir
hingga perkembangannya menjadi dewasa.
Peran keluarga sangat penting bagi
sosialisasi anak dimasa perkembangannya.
Faktor keluarga sangat berpengaruh
terhadap timbulnya kenakalan remaja.
Pengaruh keluarga yang bisa menyebabkan
kenakalan remaja adalah:
1. Keluarga yang Broken Home
Masalah keluarga yang broken home bukan
menjadi masalah baru tetapi merupakan
masalah yang utama dari akar-akar
kehidupan seorang anak. Keluarga
merupakan dunia keakraban dan diikat oleh
tali batin, sehingga menjadi bagian yang
vital dari kehidupannya
Penyebab timbulnya keluarga yang broken
home antara lain:
a. Orang Tua yang Bercerai
Perceraian menunjukkan suatu kenyataan
dari kehidupan suami istri yang tidak lagi
dijiwai oleh rasa kasih sayang dasar-dasar
perkawinan yang telah terbina bersama telah
goyah dan tidak mampu menompang
keutuhan kehidupan keluarga yang
harmonis. Dengan demikian hubungan suami
istri tersebut makin lama makin renggang,
masing-masing atau salah satu membuat
jarak sedemikian rupa sehingga komunikasi
terputus sama sekali.
b. Kebudayaan yang bisu
Kebudayaan bisu ditandai oleh tidak adanya
komunikasi dan dialog antar anggota
keluarga. Keluarga yang tanpa dialog dan
komunikasi akan menumpukkan rasa frustasi
dan rasa jengkel dalam jiwa anak-anak.
Kenakalan remaja dapat berakar pada
kurangnya dialog dalam masa kanak-kanak
dan masa berikutnya.
c. Perang dingin dalam keluarga
Dapat dikatakan perang dingin adalah lebih
berat dari pada kebudayaan bisu. Sebab
dalam perang dingin selain kurang
terciptanya dialog juga disisipi oleh rasa
perselisihan dan kebencian dari masing-
masing pihak
2. Pendidikan yang salah
a. Sikap Memanjakan Anak
Menyebabkan anak menjadi manja dan
merasa semua yang diinginkan musti
dipenuhi meskipun dari lingkungannya.
b. Anak tidak diberikan pendidikan agama.
Hal ini dapat terjadi bila orang tua tidak
meberikan pendidikan agama atau
mencarikan guru agama di rumah
Seseorang yang tidak patuh pada ajaran
agama mudah terjerumus pada perbuatan
keji dan mungkar.
c. Pendidikan yang diwarnai dengan
tindakan kekerasan
Kekerasan pendidikan yang dilandasi
kekasaran dan kekerasan seperti marah,
memaki, berteriak/membentak, bertengkar
27
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
dan memukul, ini mengakibatkan jiwa dan
psikologi remaja menjadi tertekan, selalu
sedih, tidak percaya diri, tidak berguna,
tidak mampu mengendalikan diri,
mendendam, dan memberontak. Remaja
seperti ini tidak akan mampu menghargai
diri sendiri dan tidak mampu mengelola
serta mengontrol emosinya. Remaja ini
melampiaskan emosinya di luar rumah
dalam bentuk perilaku nakal seperti
memalak, mencuri, narkoba, free sex,
berkelahi/tawuran dan menyakiti fisik
orang lain
2. Anak yang ditolak
Anak-anak yang ditolak akan merasa
diabaikan, terhina dan malu sehingga
mereka mudah sekali mengembangkan
pola penyesalan, kebencian, dan agresif.
3. Kurangnya dukungan keluarga seperti
kurangnya perhatian orang tua terhadap
aktivitas anak.
4. Kurangnya penerapan disiplin yang
efektif.
Di dalam menghadapi kenakalan remaja,
orang tua kehendaknya dapat mengambil dua
sikap atau cara yaitu
1. Sikap atau cara yang bersifat preventif
yaitu perbuatan/tindakan orang tua terhadap
anak yang bertujuan untuk menjauhkan si
anak daripada perbuatan buruk atau dari
lingkungan pergaulan yang buruk. Dalam
menjalankan sikap yang bersifat preventif,
pihak orang tua dapat memberikan atau
Mengadakan tindakan sebagai berikut:
a. Menanamkan rasa disiplin dari oang tua
terhadap anak
b. Memberikan pengawasan dan
perlindungan terhadap anak oleh ibu
c. Pencurahan kasih sayang dari kedua
orang tua terhadap anak
d. Menjaga agar tetap terdapat suatu
hubungan yang bersifat intim dalam satu
ikatan keluarga.
e. Komunikasi yang baik dan terbuka dalam
keluarga
Disamping keempat hal yang diatas maka
hendaknya diadakan pula:
a. Pendidikan agama untuk meletakkan
dasar moral yang baik dan berguna.
b. Penyaluran bakat si anak ke arah
pekerjaan yang berguna dan produktif.
c. Rekreasi yag sehat sesuai dengan
kebutuhan jiwa anak
d. Pengawasan atas lingkungan pergaulan
anak sebaik-baiknya
2. Sikap atau cara yang bersifat represif
Upaya yang dilakukan orang tua agar
anak tidak lagi melakukan perilaku
menyimpang
a. Mengadakan introspeksi sepenuhnya akan
kealpaan yang telah diperbuatnya
28
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
sehingga menyebabkan anak terjerumus
dalam kenakalan.
b. Memahami sepenuhnya akan latar
belakang daripada masalah kenakalan
yang menimpa anaknya.
c. Meminta bantuan para ahli (psikolog atau
petugas sosial) di dalam mengawasi
perkembangan kehidupan anak, apabila
dipandang perlu.
d. Membuat catatan perkembangan pribadi
anak sehari-hari. (Rahayu & Astuti, 2022)
Tahapan pelaksanaan PkM dilakukan
pada sabtu, 29 Juni 2024 bertempat di Balai
pertemuan TK Alam Al-Khair Labuhan Ratu
Bandar Lampung. Aktivitas yang dilakukan
meliputi sosialisasi, diskusi, dan proses
evaluasi (pretest dan posttest). Pertemuan
masih dilakukan dengan intreaktif, hangat
serta kondusif. Peserta kegiatan terdiri dari
berbagai orang tua dan guru TK Alam Al
Khair. Antusiasme peserta kegiatan terlihat
sangat baik sehingga acara dapat berjalan
dengan baik terbukti dari peserta yang fokus
mendengarkan dan aktif untuk bertanya
kepada tim pemateri. Pada sesi penyampaian
materi Tim PkM mensosialisasikan beberapa
materi yang telah diuraikan diatas, setiap
pelaksanaan sosialisasi dengan memberikan
materi berdasarkan masing masing tema
yang ada kemudian dilanjutkan dengan sesi
diskusi atau tanya jawab dimana setiap sesi
sosialiasi dan diskusi untuk setiap temanya
dilaksanakan satu setengah jam.
Gambar Kegiatan PkM di TK Alam
Al-Khair Kelurahan Labuhan Ratu Bandar
Lampung dapat dilihat pada gambar di
bawah ini:
Gambar 1. Pemaparan Materi
Gambar 2. Pemaparan materi
Gambar 3. Peserta kegiatan
Gambar 4. Evaluasi Kegiatan
29
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
Gambar 5. Sesi Penutup
1.1. Hasil Evaluasi dan Pembahasan
Pada kegiatan pengabdian ini
evaluasi dilakukan sebanyak dua kali yaitu
evaluasi awal dan evaluasi akhir. Evaluasi
awal dilaksanakan sebelum peserta
mendapatkan materi kegiatan, sebagai upaya
untuk mengetahui tingkat pengetahuan para
peserta sebelum pelatihan. Evaluasi awal
dilakukan dengan memberikan beberapa
pertanyaan singkat sesuai dengan materi
yang diberikan.
Evaluasi akhir dilaksanakan pada
akhir kegiatan, setelah para peserta
mengikuti semua materi yang diberikan.
Evaluasi akhir dilakukan dengan
memberikan pertanyaan yang serupa dengan
evaluasi awal, sebagai upaya untuk
mengetahui perkembangan/peningkatan
pengetahuan para peserta tentang materi
yang diberikan. Dalam hal ini, para peserta
dimintakan penilaian/ tanggapannya (apakah
benar atau salah dan pilihan berganda)
berkaitan dengan materi berikut ini:
1. Pola asuh orang tua dan fungsi keluarga
2. Pendidikan seks sejak dini dalam
keluarga
3. penindakan kenakalan anak karena
faktor keluarga
Peserta yang mengikuti evaluasi awal
dan akhir berjumlah 30 orang yang
merupakan orangtua yang anaknya
bersekolah di TK Alam Al-Khair dari
berbagai lokasi di Bandar Lampung. Hal
tersebut dapat dilihat dari diagram berikut
ini.
Diagram Hasil Pretest dan Post test
Diagram 1. Hasil Prestest Kegiatan PKM
Diagram 2. Hasil post test kegiatan PKM
Berdasarkan diagram hasil perbandingan
antara nilai pre test dan post test pada
kegiatan PKM yang dihadiri 30 orang
peserta kegiatan menunjukkan nilai
perbandingan pre test dan pos ttest sebesar
10%. Hasil pre test yang di dapatkan dari
hasil jawaban kuesioner para peserta
menunjukan jumlah nilai benar sebesar 160
30
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
dengan rata-rata nilai sebesar 5,33 dan
jumlah nilai post test 181 dengan rata-rata
nilai sebesar 6,03. Peningkatan nilai rata-
rata nilai post test pada kegiatan ini
menunjukan keberhasilan dari kegiatan yang
sudah dilakukan sebesar 10%. Keberhasilan
kegiatan tidak hanya dilihat dari peningkatan
nilai itu saja tetapi terlihat dari partisipasi
aktif peserta yang mampu merespon
pertanyaan termasuk dari segi substansi
jawaban peserta terhadap pertanyaan pada
saat diskusi. Selain itu terlihat dari
antusiasme peserta dalam mengajukan
permasalahan sebagai bahan diskusi. Hal ini
makin mempertegas bahwa kegiatan ini telah
mampu memberikan pemahaman secara
menyeluruh kepada para peserta yang terlibat
dalam kegiatan ini.
KESIMPULAN
Kegiatan pengabdian kepada
masyarakat yang dilakukan di TK Alam Al
Khair Labuhan Ratu Bandar Lampung telah
mengarah pada tujuan kegiatan yaitu
meningkatkan pemahaman dan wawasan
orang tua tentang pola asuh orang tua
terhadap anak, fungsi ideal yang harus
diberikan dalam keluarga, serta pentingnya
pendidikan seks dalam keluarga sejak dini.
Kegiatan yang bertemakan tentang
pentingnya pendidikan seks sejak dini oleh
keluarga belum pernah ada sebelumnya,
walaupun kegiatan PKM pernah dilakukan
sebelumnya oleh tim PKM UNILA.Oleh
karena itu kehadiran Tim ini membawa
pemahaman baru kepada para peserta yang
didominasi oleh para orang tua muda yang
masih memiliki anak usia dini tentang
pentingnya pendidikan seks sejak dini
(balita) sebagai bagian dari upaya
pencegahan tindakan kekerasan seksual bagi
anak mereka.
Secara khusus, kegiatan ini telah
mengacu pada beberapa capaian diantaranya
yaitu terbentuknya komitmen bersama antara
pihak tim PKM dengan pihak mitra untuk
melakukan kegiatan serupa yang sangat
bermanfaat bagi peningkatan pengetahuan
orang tua maupun guru didik dalam
mendidik anak baik di lingkungan keluarga
maupun lingkungan pendidikan dengan tema
tema yang berbeda dan lebih variatif yang
tujuannya agar anak anak menjadi sosok
yang memiliki perilaku dan karakter yang
baik sehingga dapat terhindar dari tindakan
penyimpangan nilai dan norma yang berlaku
dimasyarakat.
Adapun saran hasil pelaksanaan PkM
diantaranya:
1. Diperlukan kegiatan sosialisasi yang
sejenis dengan kegiatan sosialisasi ini
yang bermanfaat bagi peningkatan
pengetahuan dan pemahaman bagi orang
tua dalam mendidik anak
2. Diperlukan kegiatan lain selain
sosialisasi bagi para orang tua yang
31
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
pada umumnya sebagai Ibu Rumah
Tangga untuk mengisi waktu yang
bermanfaat ketika berada dirumah
melalui kegiatan peningkatan
keterampilan dengan melakukan
pelatihan yang bermafaat bagi
peningkatan ekonomi keluarga.
3. Harapannya kegiatan sosialisasi tidak
hanya ditujukan kepada para orang tua
tetapi juga diperuntukkan bagi guru
sebagai orang tua di sekolah sehingga
terjalin kerjasama yang harmonis
dimana pendidikan pekerti tidak hanya
diberikan di keluarga tetapi juga di
sekolah begitupun sebaliknya.
REFERENSI
Anggraini, T., Riswandi, & Ari, S. (2017).
Pendidikan Seksual Anak Usia Dini:
Aku dan Diriku. Jurnal Pendidikan
Anak, 3(2), 114
Draucker, C.B.,Martsolf, D.F.,Roller, C.,
Knapik, G., Ratchneewan R., Andrea,
W.S, (2011). Healing from Childhood
Sexual Abuse: A Theoretical
Model.PMC PubMead Central, 20(4),
435-466
Fatimah, E. (2010). Psikologi
Perkembangan (Perkembangan
Peserta Didik). Bandung: Pustaka
Setia.
Fauziah, A. (2016). Kekerasan Seksual Pada
Anak. Jurnal Riset & PKM, Vol. 2 (1),
2-6.
Hermawan, S.B. 2010. Pentingnya
Pendidikan Seks pada Anak.
http://www.waspada.co.id
Kompas.com. (2023). Baru satu Setengah
Bulan sudah ada 6 Kasus Kekerasan
Seksual Anak di Jakarta dan
Tanggerang.https://megapolitan.kompa
s.com/read/2023/02/13/08314181/2023
-baru-satu-setengah-bulan-sudah-ada-
6-kasus-kekerasan-seksual-anak-
di?page=all
Kawengian, S., Tucunan, A.A.T., &
Korompis, G.E.C. (2022). Penerapan
Fungsi Keluarga. Jurnal Kesmas
Universitas Samratulangi, Vol.
11(2),57-71
Kirby, D., Laris, B. A., & Rolleri, L. (2007).
Sex and HIV Education Programs:
Their Impact on Sexual Behaviors of
Young People throughout the World.
Journal of Adolescent Health, 40, 206-
217.
http://dx.doi.org/10.1016/j.jadohealth.2
006.11.143
Mubarak dan Chayatin N. (2009). Ilmu
kesehatan masyarakat, teori dan
aplikasi. Jakarta: Salemba Medika.
Noviana I. (2015). Kekerasan Seksual
Terhadap Anak: Dampak dan
Penanganannya. Jurnal Sosio Informa,
Vol. 01 (1), 1-27.
Rahayu, S.F., & Astuti, N.W. (2022).
Keluarga Broken Home Pemicu
Kenakalan remaja. Jurnal EMPATI,
Vol 9 (1), 77-86.
RRI.co.id. (2024).Kekerasan Seksual Anak
Capai 3000 kasus di 2023.
https://www.rri.co.id/nasional/500834/
kekerasan-seksual-anak-capai-3-000-
kasus-di-2023.
Sonia, G., & Apsari, N.C. (2022).Pola Asuh
yang Berbeda dan Dampaknya
Terhadap Perkembangan Kepribadian
Anak. Prosiding Penelitian dan
Pengabdian Masyarakat Unpad, Vol
7(1), 128-135.
32
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
Wirdhana, I., et all. (2012). Komunikasi
Efektif Orang Tua dan remaja. Jakarta:
BKKBN.
Ariani, P. A. (2009). Aplikasi Metodologi
Penelitian Kebidanan dan Kesehatan
reproduksi. Yogyakarta: Nuha Medika
Istiati
Wirdhana, I., Muin, Edi., Windrawati, W.,
Hendardi, A., Nuranti, A., Trihantoro,
D., Angkawijaya, A., Isyanah, A.,
Suparyati, R., Marifah, K.,
Kusumastuti, I., Suharno, R.,
Soetriningsih., Zuhdi, A., Setiadi, E.,
Susilo, P., 2013. Buku Pegangan
Kader BKR Tentang Delapan Fungsi
Keluarga. Jakarta: Badan
Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional.