Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
42
Safety Culture Pada Lingkungan Rumah Tangga
Aye Sudarto
a,1
, Hevi Oktiawati
b,2
, Erda Ermawati
c,3
a,b,c
IAI Agus Salim Metro Lampung, Jl. Jenderal Sutiyoso No.7, Metro, Kec. Metro Pusat, Kota Metro,
Lampung 34125
1
ayesudarto18@gmail.com,
2
oktiawatihevi@gmail.com,
3
erdaermawat[email protected]
Naskah diterima: 15 Januari 2026, direvisi: 12Februari 2026, disetujui: 28Februari 2026
Abstrak
Bagi pekerja rumah tangga, kecelakaan kerja tentu sangat merugikan, berpotensi
mengakibatkan hilangnya pekerjaan dan pendapatan karena hingga saat ini belum ada
jaminan kesehatan atau perlindungan terhadap kecelakaan kerja. Selama ini budaya
K3 hanya terbatas pada sektor ketenagakerjaan formal seperti perkantoran, pabrik
besar, konstruksi, perbengkelan dan tempat kerja yang tunduk pada pengawasan
ketenagakerjaan. Namun bagi sektor ketenagakerjaan informal seperti usaha kecil dan
menengah, pedagang kaki lima, industri rumah tangga, pertanian, peternakan,
perikanan, termasuk rumah tangga, pelaksanaan dan pemantauan pemeriksaan K3
masih menjadi tantangan karena kurangnya sumber daya manusia dan sumber daya
untuk pengawasan ketenagakerjaan. Kegiatan pengabdian dilaksanakana di kelurahan
Iringmulyo Kecamatan Metro Timur Kota Metro Lampung. Metodologi pengabdian
masyarakat untuk mengimplementasikan budaya keselamatan (safety culture) pada
lingkungan rumah tangga dapat dilakukan melalui beberapa langkah strategis. Berikut
metodologi yang diterapkan: Identifikasi Kebutuhan: Perencanaan Program,
Pelaksanaan Program, Monitoring dan Evaluasi, Perbaikan Berkelanjutan. Pelatihan
K3 dengan fokus pada safety culture di lingkungan rumah tangga telah berhasil
meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan peserta dalam menjaga
keselamatan dan kesehatan.
Kata Kunci: Safety Culture, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, K3 Rumah Tangga
Abstract
For domestic workers, work accidents are certainly very detrimental, potentially
resulting in loss of jobs and income because until now there has been no health
insurance or protection against work accidents. So far, the K3 culture has only been
limited to the formal employment sector such as offices, large factories, construction,
workshops and workplaces that are subject to labor supervision. However, for the
informal employment sector such as small and medium enterprises, street vendors,
home industries, agriculture, livestock, fisheries, including households, the
implementation and monitoring of K3 inspections is still a challenge due to the lack of
human resources and resources for labor supervision. Community service activities
were carried out in Iringmulyo Village, Metro Timur District, Metro City, Lampung.
The community service methodology for implementing a safety culture in the
household environment can be carried out through several strategic steps. The
following is the methodology applied: Identification of Needs: Program Planning,
Program Implementation, Monitoring and Evaluation, Continuous Improvement. K3
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
43
training with a focus on safety culture in the household environment has succeeded in
increasing the knowledge, awareness, and skills of participants in maintaining safety
and health.
Keywords: Safety Culture, Occupational Safety and Health, Household K3
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
44
PENDAHULUAN
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(K3) tidak hanya berlaku di tempat kerja,
tetapi juga penting di lingkungan rumah
tangga. Urgensi K3 di rumah tangga
adalah untuk mencegah kecelakaan,
cedera, dan penyakit yang bisa terjadi
akibat aktivitas sehari-hari.(International
Labour Organization 2018). Beberapa
alasan mengapa K3 penting di lingkungan
rumah tangga. Banyak kecelakaan rumah
tangga yang bisa dicegah dengan
memperhatikan aspek K3. Misalnya, jatuh
dari tangga, luka akibat alat tajam, atau
kebakaran. Mengurangi Risiko
Penyakit:(Abdurrozzaq Hasibuan,
Bonaraja Purba, Ismail Marzuki,
Mahyuddin Efendi Sianturi, Rakhmad
Armus, Sri Gusty, Muhammad Chaerul
Efbertias Sitorus, Khariri, Erniati Bachtiar,
Andi Susilawaty 2020). Lingkungan rumah
yang bersih dan aman dapat mencegah
penyakit. Misalnya, memastikan ventilasi
yang baik dapat mengurangi risiko
penyakit pernapasan.
Lingkungan rumah yang aman dan
sehat berkontribusi pada kesejahteraan dan
kenyamanan penghuni rumah. Anak-anak
lebih rentan terhadap kecelakaan di rumah.
Mengamankan tempat-tempat berbahaya
seperti dapur dan kamar mandi sangat
penting untuk melindungi mereka. Banyak
rumah tangga menggunakan bahan kimia
seperti pembersih rumah tangga, yang bisa
berbahaya jika tidak disimpan dan
digunakan dengan baik dan benar
(Afifudin 2019). Memiliki rencana darurat
dan perlengkapan pertolongan pertama
sangat membantu dalam mengatasi
kejadian tak terduga seperti kebakaran atau
bencana alam, seperti pada gambar berikut
ini:
Gambar 1. diskusi kebutuhan K3
Instalasi listrik dalam kondisi baik,
gunakan stop kontak yang aman, dan
hindari penggunaan terlalu banyak
peralatan listrik pada satu soket. Simpan
bahan kimia rumah tangga di tempat yang
aman dan jauh dari jangkauan anak-anak.
Rumah memiliki ventilasi yang baik untuk
mencegah akumulasi gas berbahaya dan
menjaga kebersihan untuk mencegah
penyakit. Gunakan peralatan rumah tangga
sesuai dengan instruksi penggunaan dan
lakukan perawatan secara rutin untuk
mencegah kerusakan (Dewi et al. 2024).
Pasang keset anti-slip di kamar mandi dan
periksa kebocoran pada pipa untuk
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
45
mencegah genangan air yang bisa
menyebabkan kecelakaan. Edukasi semua
anggota keluarga mengenai pentingnya K3
dan langkah-langkah yang harus diambil
untuk menjaga keselamatan di rumah.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip K3 di
lingkungan rumah tangga, kita dapat
menciptakan lingkungan yang lebih aman
dan sehat bagi seluruh anggota keluarga.
Pekerja rumah tangga, sebagai
salah satu jenis pekerjaan yang dibutuhkan
penggunanya, tentunya perlu dilindungi
sepenuhnya (David Briggs 2003). Pekerja
rumahtangga memerlukan jaminan dari
lingkungan keluarga dan lingkungan
masyarakat serta negara mendorong
terciptanya lingkungan kerja yang
berkelanjutan. Penting untuk menciptakan
kesadaran dan kepedulian bersama bahwa
anak merupakan generasi penerus bangsa,
memiliki peran strategis di masa depan dan
PRT merupakan sosok yang perlu
dilindungi oleh semua pihak. Kebanyakan
orang menganggap keluarga adalah tempat
paling aman, padahal pekerjaan memiliki
banyak bahaya dan risiko (Mulyani 2020).
Banyak kecelakaan kerja yang tidak hanya
merugikan dan menimbulkan akibat
langsung bagi pekerja rumah tangga
namun juga bagi majikan dan keluarganya,
seperti kebakaran rumah, korsleting listrik,
tangki bensin, bahan beracun, dan senjata
tajam, lantai licin, tindak pidana
pencurian, penipuan.
Bagi pekerja rumah tangga,
kecelakaan kerja tentu sangat merugikan,
berpotensi mengakibatkan hilangnya
pekerjaan dan pendapatan karena hingga
saat ini belum ada jaminan kesehatan atau
perlindungan terhadap kecelakaan kerja.
Selama ini budaya K3 hanya terbatas pada
sektor ketenagakerjaan formal seperti
perkantoran, pabrik besar, konstruksi,
perbengkelan dan tempat kerja yang
tunduk pada pengawasan ketenagakerjaan
(Sudaro 2019). Namun bagi sektor
ketenagakerjaan informal seperti usaha
kecil dan menengah, pedagang kaki lima,
industri rumah tangga, pertanian,
peternakan, perikanan, termasuk rumah
tangga, pelaksanaan dan pemantauan
pemeriksaan K3 masih menjadi tantangan
karena kurangnya sumber daya manusia
dan sumber daya untuk pengawasan
ketenagakerjaan. Oleh karena itu, perlu
didorong perluasan budaya K3 di
masyarakat untuk menghindari kerugian
akibat kecelakaan kerja, salah satunya di
bidang pekerjaan rumah tangga.(Hidayati
2023) Upaya pembentukan budaya K3 di
sektor rumah tangga tidak dapat dilakukan
secara formal seperti yang dilakukan di
dunia usaha, melainkan memerlukan
pendekatan informal dan partisipatif
lainnya.
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
46
Situasi Kesadaran Masyarakat Dan
Taget Luaran
Penerapan pelatihan Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (K3) di masyarakat
sering kali menghadapi berbagai tantangan
dan masalah, terutama terkait dengan
kesadaran masyarakat dan pencapaian
target luaran yang diinginkan. Beberapa
masalah situasi kesadaran masyarakat serta
target luaran dalam pelatihan K3: Masalah
Situasi Kesadaran Masyarakat. Kurangnya
Pengetahuan dan Pemahaman: Banyak
orang belum memahami pentingnya K3
dan bagaimana penerapannya dapat
mencegah kecelakaan dan penyakit.(Taufiq
Chalil 2024) Sikap Acuh Tak Acuh: Ada
kecenderungan untuk menganggap remeh
risiko yang ada di sekitar, terutama di
lingkungan rumah tangga, sehingga
langkah-langkah K3 sering diabaikan.
Gambar 2. sosialisasi kebutuhan K3
Beberapa masyarakat memiliki
kebiasaan atau budaya yang tidak
mendukung penerapan K3, seperti
penggunaan alat-alat yang tidak aman atau
cara kerja yang tidak memperhatikan
keselamatan.(Sudarto and Erda Ermawati;
Hevi Oktiawati; 2024). Tidak semua
masyarakat memiliki akses yang memadai
terhadap informasi dan pelatihan K3,
terutama di daerah-daerah terpencil atau
kurang berkembang. Regulasi dan
kebijakan yang mendukung penerapan K3
sering kali kurang efektif atau tidak
ditegakkan dengan baik di tingkat
masyarakat. Target Luaran Pelatihan K3.
1) Peningkatan Pengetahuan dan
Kesadaran: Masyarakat menjadi lebih
paham tentang pentingnya K3 dan cara-
cara praktis untuk menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari. 2) Perubahan Sikap
dan Perilaku: Terjadi perubahan positif
dalam sikap dan perilaku masyarakat
terhadap keselamatan dan kesehatan,
dengan lebih proaktif dalam mencegah
risiko dan bahaya. 3)Penerapan Praktik
K3: Masyarakat mulai menerapkan
praktik-praktik K3 yang diajarkan dalam
pelatihan, seperti penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD) yang sesuai,
penataan lingkungan yang aman, dan
pengelolaan bahan berbahaya dengan
benar. 4) Penurunan Angka Kecelakaan
dan Penyakit: Salah satu target utama
adalah menurunkan angka kecelakaan dan
penyakit yang disebabkan oleh faktor
lingkungan dan aktivitas sehari-hari. 5)
Pembentukan Budaya K3: Masyarakat
mengembangkan budaya keselamatan dan
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
kesehatan kerja yang berkelanjutan, di
mana aspek K3 menjadi bagian dari
kehidupan sehari-hari. 6) Peningkatan
Kualitas Hidup: Dengan menerapkan
prinsip-prinsip K3, kualitas hidup
masyarakat diharapkan meningkat, baik
dari segi kesehatan fisik, mental, maupun
kesejahteraan secara umum.
Untuk mencapai target luaran
tersebut, pelatihan K3 perlu dirancang
dengan pendekatan yang sesuai dengan
kondisi dan kebutuhan masyarakat
setempat. Strategi komunikasi yang efektif,
penggunaan media yang tepat, serta
dukungan dari pemerintah dan organisasi
terkait sangat penting untuk meningkatkan
kesadaran dan penerapan K3 di
masyarakat.
METODE
Kegiatan pengabdian dilaksanakana
di kelurahan Iringmulyo Kecamatan Metro
Timur Kota Metro Lampung. Metodologi
pengabdian masyarakat untuk
mengimplementasikan budaya keselamatan
(safety culture) pada lingkungan rumah
tangga dapat dilakukan melalui beberapa
langkah strategis. Berikut metodologi yang
diterapkan (Sudarto, Haryadi, and Malik
2021). Seperti pada gambar berikut ini:
Gambar 3. identifikasi & perencanaan
kebutuhan K3
1. Identifikasi Kebutuhan: Survei Awal:
Lakukan survei untuk mengidentifikasi
pengetahuan dan kesadaran masyarakat
tentang budaya keselamatan di rumah.
Analisis Risiko: Identifikasi potensi
risiko di lingkungan rumah tangga,
seperti bahaya listrik, kebakaran,
penggunaan bahan kimia berbahaya,
dan lain-lain.
2. Perencanaan Program. Penetapan
Tujuan: Tentukan tujuan spesifik dari
program pengabdian masyarakat,
seperti peningkatan kesadaran,
pengurangan kecelakaan rumah tangga,
dll. Pengembangan Materi: Buat materi
edukasi yang mencakup berbagai aspek
keselamatan, termasuk pencegahan
kecelakaan, penanganan keadaan
darurat, dan penggunaan alat
keselamatan.
3. Pelaksanaan Program. Sosialisasi:
Adakan seminar, lokakarya, dan
penyuluhan di komunitas atau
lingkungan rumah tangga untuk
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
48
menyebarkan informasi tentang budaya
keselamatan. Pelatihan Praktis: Berikan
pelatihan langsung tentang penggunaan
alat pemadam kebakaran, pertolongan
pertama, dan teknik evakuasi darurat.
4. Monitoring dan Evaluasi. Pengawasan
Berkala: Lakukan kunjungan rutin ke
rumah-rumah untuk memantau
implementasi budaya keselamatan.
Evaluasi Efektivitas: Gunakan
kuesioner atau wawancara untuk
mengevaluasi seberapa efektif program
yang telah dilaksanakan.
5. Perbaikan Berkelanjutan. Feedback dan
Penyesuaian: Kumpulkan masukan dari
masyarakat dan lakukan penyesuaian
terhadap program sesuai dengan
kebutuhan dan kondisi lapangan.
Pengembangan Lanjutan: Kembangkan
program lebih lanjut berdasarkan hasil
evaluasi dan kebutuhan masyarakat.
Dengan metodologi ini, diharapkan budaya
keselamatan di lingkungan rumah tangga
dapat ditingkatkan, mengurangi risiko
kecelakaan, dan menciptakan lingkungan
yang lebih aman bagi semua anggota
keluarga.
Silabus Pelatihan K3
Deskripsi: Pelatihan K3
(Keselamatan dan Kesehatan Kerja) Safety
Culture pada Lingkungan Rumah Tangga
bertujuan untuk meningkatkan pemahaman
dan keterampilan anggota keluarga dalam
menjaga keselamatan dan kesehatan di
rumah. Pelatihan ini dirancang untuk
memberikan pengetahuan yang mendalam
mengenai potensi bahaya, cara-cara
pencegahan, serta teknik pertolongan
pertama yang tepat, sehingga setiap
anggota keluarga mampu menciptakan dan
mempertahankan lingkungan yang aman
dan sehat.
Tujuan Pelatihan: Meningkatkan
Kesadaran: Menumbuhkan kesadaran
pentingnya keselamatan dan kesehatan di
rumah tangga. Meningkatkan Pengetahuan:
Memberikan pengetahuan tentang bahaya
umum dan langkah-langkah pencegahan di
rumah. Meningkatkan Keterampilan:
Meningkatkan keterampilan praktis dalam
pertolongan pertama, penyusunan rencana
tanggap darurat, dan penggunaan alat
keselamatan. Mendorong Implementasi:
Mendorong peserta untuk menerapkan
budaya keselamatan dan kesehatan dalam
kehidupan sehari-hari di rumah.
Gambar 4. detail rincian kebutuhan K3
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
49
Kompetensi Pelatihan:
Kemampuan Identifikasi Bahaya: Peserta
mampu mengidentifikasi berbagai jenis
bahaya yang ada di lingkungan rumah
tangga. Keterampilan Penilaian Risiko:
Peserta mampu melakukan penilaian risiko
dan menentukan langkah-langkah
pencegahan yang tepat. Keterampilan
Pertolongan Pertama: Peserta terampil
dalam memberikan pertolongan pertama
dasar pada kecelakaan di rumah.
Kemampuan Penyusunan Rencana
Tanggap Darurat: Peserta mampu
menyusun rencana evakuasi dan
penanganan darurat yang efektif.
Kemampuan Penggunaan Alat
Keselamatan: Peserta mahir dalam
menggunakan berbagai alat keselamatan
dan teknologi deteksi bahaya. Kemampuan
Edukasi Keluarga: Peserta dapat
mengedukasi anggota keluarga tentang
pentingnya K3 dan cara-cara menjaga
keselamatan di rumah.
Metode Pelatihan: Ceramah
Interaktif: Penyampaian materi dengan
metode tanya jawab dan diskusi untuk
meningkatkan pemahaman. Studi Kasus:
Analisis kasus nyata untuk
mengaplikasikan teori ke dalam situasi
praktis. Praktik Langsung: Latihan
langsung seperti simulasi evakuasi,
demonstrasi penggunaan alat keselamatan,
dan praktek pertolongan pertama.
Workshop dan Diskusi Kelompok: Diskusi
kelompok untuk meningkatkan partisipasi
dan pemahaman melalui sharing
pengalaman. Role Play: Simulasi peran
untuk meningkatkan kemampuan
komunikasi dan penerapan konsep K3
dalam situasi keluarga. Evaluasi dan
Refleksi: Penilaian hasil pelatihan melalui
tes, kuis, dan diskusi reflektif untuk
mengukur pemahaman dan penerapan
peserta.
Silabus Pelatihan K3 (Keselamatan
dan Kesehatan Kerja) Safety Culture pada
Lingkungan Rumah Tangga:
Tebal 1. Silabus Pelatihan K3
No
Pokok
Bahasan
Sub Pokok
Bahasan
JPL
1
Penjelasan
umum
pelatihan dan
kontrak
belajar
o Penjelasan
umum pelatihan
o Bina swasana
o Kontrak belajar
1
2
Pengenalan
K3 dan Safety
Culture
Pengenalan
K3
o Definisi dan
pentingnya K3
o Prinsip dasar K3
o Regulasi dan
standar K3 yang
relevan
o Konsep Safety
Culture
o Definisi budaya
keselamatan
o Elemen-elemen
budaya
keselamatan
o Manfaat
menerapkan
budaya
keselamatan di
rumah tangga
o
2
3
Identifikasi
dan Penilaian
Risiko di
Rumah
Tangga
Identifikasi
o Bahaya fisik
(kebakaran,
listrik, jatuh)
o Bahaya kimia
(pembersih
rumah tangga,
2
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
50
Bahaya
Pencegahan
dan
Pengendalian
Risiko
pestisida)
o Bahaya biologi
(bakteri, virus)
o Bahaya
ergonomi
(postur yang
salah,
pengangkatan
berat)
o Penilaian Risiko
o Metode
penilaian risiko
sederhana
o Matriks risiko
o Studi kasus
penilaian risiko
di rumah tangga
o Teknik
Pencegahan
Risiko
o Identifikasi
sumber bahaya
o Langkah-
langkah
pencegahan dan
kontrol
o Penggunaan
peralatan
pelindung diri
(APD) di rumah
tangga
o Tindakan
Pengendalian
Risiko
o Pengendalian
teknis
o Pengendalian
administratif
Penggunaan APD
yang tepat
4
Penanganan
Keadaan
Darurat di
Rumah
Edukasi dan
Pelatihan
untuk
Keluarga
o Mendidik
Keluarga
tentang
Keselamatan
o Membuat
program edukasi
untuk anak-anak
o Melibatkan
semua anggota
keluarga dalam
kegiatan K3
o Metode
komunikasi
yang efektif
tentang
keselamatan
o Pelatihan
Praktis
o Simulasi situasi
darurat
2
o Pelatihan
penggunaan alat
pemadam
kebakaran
o Demonstrasi
teknik
pertolongan
pertama
5
Rencana
Tindak Lanjut
Monitoring
dan Evaluasi
o Monitoring
Keselamatan di
Rumah
o Melakukan
inspeksi rutin
o Mencatat dan
melaporkan
insiden
o Evaluasi dan
tindak lanjut
perbaikan
o Evaluasi
Program K3
o Mengukur
efektivitas
pelatihan
o Kuesioner dan
wawancara
dengan peserta
o Pengembangan
dan peningkatan
program
berdasarkan
hasil evaluasi
1
1 Jam Pelajaran (JPl) = 45 Menit
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan pengabdian masyarakat
dilakukan oleh team pada tanggal 31 Juli
2024 di Kelurahan Iring Mulyo Metro
Timur Kota Metro dengan rangkaian acara
dan materi pengabdian masyarakat sebagai
berikut:
Tebal 2. Jadwal Pelatihan K3
Waktu
Materi
Pemateri
Pendamping
07.00 08.00
Regristasi
Peserta
Panitia
08.00 08.45
Pembukaan
Panitia
08.45 09.00
Istirahat
Panitia
09.00 10.30
Penjelasan
umum
pelatihan
dan kontrak
belajar
Aye
Sudarto
Hevi
Oktiawati
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
51
10.30 -12. 00
Pengenalan
K3 dan
Safety
Culture
Pengenalan
K3
Erda
Ermawati
Hevi
Oktiawati
12.00 13.00
Istirahat
13.00 14.30
Identifikasi
dan
Penilaian
Risiko di
Rumah
Tangga.
Identifikasi
Bahaya
Pencegahan
dan
Pengendali
an Risiko
Hevi
Oktiawati
Erda
Ermawati
14.30 16.00
Penanganan
Keadaan
Darurat di
Rumah
Edukasi
dan
Pelatihan
untuk
Keluarga
Aye
Sudarto
Hevi
Oktiawati
16.00 17.00
Rencana
tindak
lanjut dan
Evaluasi
dan
penutupan
Erda
Ermawati
Hevi
Oktiawati
Partisipasi dan Keterlibatan
Peserta. Jumlah Peserta: 30 orang dari
berbagai latar belakang usia dan profesi.
Tingkat partisipasi tinggi, dengan 90%
peserta aktif dalam diskusi dan simulasi.
Peningkatan Pengetahuan dan Kesadaran.
Evaluasi Sebelum dan Sesudah
Pelatihan:Pengetahuan Awal: Rata-rata
skor 55 dari 100. Pengetahuan Setelah
Pelatihan: Rata-rata skor 85 dari 100.
Peningkatan Kesadaran: Peserta
menunjukkan peningkatan signifikan
dalam kesadaran akan pentingnya K3 dan
safety culture di rumah tangga.
Implementasi Praktis. Pembuatan
Rencana Tanggap Darurat: 100% peserta
berhasil menyusun rencana tanggap darurat
sesuai dengan kondisi rumah masing-
masing.
Gambar 5. Foto bersama selesai
pelatihan K3
Pelatihan Pertolongan Pertama:
Peserta mampu melakukan praktik dasar
pertolongan pertama dengan baik, seperti
penanganan luka bakar, patah tulang, dan
pingsan. Keterampilan dan Pengetahuan
Baru. Penggunaan Alat Keselamatan:
Peserta mampu menggunakan alat
pemadam kebakaran dan alat deteksi asap
dengan benar. Simulasi Keadaan Darurat:
Latihan simulasi evakuasi dan pertolongan
pertama berjalan lancar, dengan 95%
peserta mampu menangani situasi dengan
baik. Tingkat Kepuasan Peserta. Survei
Kepuasan: Rata-rata skor kepuasan 4.7 dari
5, menunjukkan tingkat kepuasan yang
tinggi terhadap materi, metode
penyampaian, dan fasilitas pelatihan.
Efektivitas Materi Pelatihan.
Kesesuaian Materi: Materi yang
disampaikan sesuai dengan kebutuhan
peserta, dengan kombinasi teori dan
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
52
praktik yang seimbang. Penggunaan Studi
Kasus: Studi kasus yang relevan dengan
kehidupan sehari-hari peserta membantu
memperjelas penerapan konsep K3 di
rumah tangga.
Metode Pembelajaran. Keterlibatan
Peserta: Metode ceramah, diskusi, dan
simulasi membuat peserta lebih aktif dan
antusias. Diskusi kelompok dan tanya
jawab berjalan interaktif. Latihan Praktis:
Latihan langsung (simulasi evakuasi,
pertolongan pertama) sangat efektif dalam
meningkatkan keterampilan praktis
peserta.
Peningkatan Kesadaran dan
Perilaku Perubahan Sikap: Banyak peserta
melaporkan perubahan sikap, dengan lebih
memperhatikan keselamatan dan kesehatan
di rumah tangga mereka. Implementasi
Rencana Tanggap Darurat: Sebagian besar
peserta mengimplementasikan rencana
tanggap darurat di rumah mereka dan
berkomitmen untuk melakukan
pemeriksaan rutin.
Kendala dan Tantangan. Faktor
Waktu dan Keterbatasan Sumber Daya:
Beberapa peserta mengeluhkan waktu yang
terbatas untuk pelatihan dan perlu adanya
dukungan lebih dari pihak terkait. Kendala
Teknis dalam Simulasi: Beberapa
perangkat simulasi mengalami kendala
teknis, sehingga perlu penanganan lebih
lanjut untuk pelatihan berikutnya.
Rekomendasi untuk Pengembangan
Selanjutnya
Pengembangan Materi:
Memperbarui dan memperkaya materi
pelatihan dengan kasus-kasus terbaru dan
teknologi terkini. Peningkatan Fasilitas dan
Peralatan: Memperbaiki dan menambah
fasilitas serta peralatan pelatihan untuk
mendukung simulasi yang lebih realistis.
Program Berkelanjutan:
Menyelenggarakan sesi refresher secara
berkala dan program lanjutan untuk
memastikan keberlanjutan penerapan
budaya keselamatan di rumah tangga.
KESIMPULAN
Pelatihan K3 dengan fokus pada
safety culture di lingkungan rumah tangga
telah berhasil meningkatkan pengetahuan,
kesadaran, dan keterampilan peserta dalam
menjaga keselamatan dan kesehatan.
Peningkatan signifikan dalam pemahaman
dan penerapan K3 menunjukkan bahwa
program ini sangat bermanfaat dan perlu
dilanjutkan dengan pengembangan lebih
lanjut untuk menciptakan lingkungan
rumah yang aman dan sehat.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrozzaq Hasibuan, Bonaraja Purba,
Ismail Marzuki, Mahyuddin Efendi
Sianturi, Rakhmad Armus, Sri Gusty,
Muhammad Chaerul Efbertias
Sitorus, Khariri, Erniati Bachtiar,
Andi Susilawaty, Jamaludin. 2020.
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 8 No. 1 Maret 2026
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
Teknik Keselamatan Dan Kesehatan
Kerja. Yayasan Kita Menulis.
Afifudin, Mokh. 2019. Melaksanakan
Prosedur Keselamatan Dan
Kesehatan Kerja. Grobogan Jawa
tengah: CV. Sarnu Untung.
David Briggs. 2003. Making a Difference:
Indicators to Improve Children’s
Environmental Health. World Health
Organzationi.
Dewi, Shabrina Syntha, Marwan
Ramdhany Edy, Femmy Angreany,
Ria Sakinah, Universitas Negeri
Makassar, Universitas Atma, and
Jaya Makassar. 2024. “Edukasi
Keselamatan Penggunaan Listrik
Bagi Kalangan Ibu Rumah Tangga
Di Kelurahan Tombolo.” Volkatek
02(02):11017.
Hidayati, Fadilla Noor. 2023. “Civil
Society Dan Strategi Advokasi
(Studi Atas Strategi Advokasi
Jaringan Nasional Advokasi Pekerja
Rumah Tangga Terhadap Upaya
Pemenuhan Hak Pekerja Rumah
Tangga).” UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
International Labour Organization. 2018.
Keselamatan Dan Kesehatan Kerja
(K3). Jakarta: Promote-ILO.
Mulyani, Leni Widi. 2020. “Perspektif
Viktimologis Bagi Pekerja Rumah
Tangga Dalam Hal Kelayakan
Bekerja.” Litigasi 19(2):16391. doi:
10.23969/litigasi.v19i2.2006.
Sudaro, Aye Sudarto. 2019. “Tenaga Kerja
Outsourcing Dalam Tinjauan Hukum
Islam Dan UU No 13 Tahun 2003
Tentang Ketenagakerjaan.” Nizham
07(1).
Sudarto, Aye, and Erda Ermawati; Hevi
Oktiawati; 2024. “Rapat Team
Koordinasi Juli 2024.”
Sudarto, Aye, Haryadi, and Anas Malik.
2021. “Peningkatan Usaha Kerupuk
Kremes Menuju UKM Yang Berdaya
Saing.” Al-Mu’awanah: Jurnal
Pengabdian Kepada Masyakarat
2(1):716.
Taufiq Chalil. 2024. Wawancara 5 Juli
2024. Metro.