PENDAHULUAN
Sampah masih menjadi permasalahan
serius di berbagai wilayah, termasuk di
lingkungan sekolah. Pengelolaan sampah
yang tidak memadai dapat memicu
pencemaran lingkungan, seperti polusi tanah,
air, dan udara, serta berdampak negatif pada
kesehatan masyarakat (Agustina et al.,
2017)(Sari, Amrina and Rahmah,
2021)(Widjaja and Gunawan, 2022). Di
Kabupaten Klaten, pengelolaan sampah
belum merata, dengan delapan kecamatan
dari total 26 kecamatan belum memiliki
tempat pengelolaan sampah (Mustaghfiroh et
al., 2020). Situasi ini mengindikasikan
perlunya pendekatan yang lebih inklusif
untuk meningkatkan kesadaran dan
keterampilan pengelolaan sampah, terutama
di lingkungan pendidikan sebagai tempat
pembentukan karakter sejak dini (Marsyom
et al., 2024)(Intan Paradita, 2018).
Di SDIT Salsabila Baiturahman
Prambanan, permasalahan sampah juga
menjadi perhatian. Banyak warga sekolah,
baik siswa maupun guru, belum memiliki
kebiasaan tertib dalam membuang sampah
pada tempatnya. Selain itu, pengetahuan
mengenai pemilahan sampah sesuai jenisnya
dan pengelolaannya agar menjadi sesuatu
yang bermanfaat masih terbatas. Padahal,
sampah yang dikelola dengan baik tidak
hanya berdampak positif pada kesehatan
lingkungan, tetapi juga dapat memberikan
nilai ekonomi yang signifikan (Asep Risman
& Eka Saputra, 2023) dan (Hartono, 2023).
Sebagai sekolah penggerak, SD IT Salsabila
Baiturahman memiliki tanggung jawab besar
dalam mendukung tercapainya Profil Pelajar
Pancasila melalui program yang relevan dan
bermakna. Salah satu program unggulan
yang dijalankan adalah Projek Penguatan
Profil Pelajar Pancasila (P5), yang
bertujuan memberikan pengalaman belajar
kontekstual kepada siswa.
Tujuan dari kegiatan ini yaitu untuk
melakukan pendampingan program P5 yang
dilaksanakan dengan melaksanakan edukasi
pengelolaan sampah dan menerapkan
program sedekah sampah. Dalam konteks
ini, program pengelolaan sampah berbasis
prinsip 5R (Refuse, Reduce, Reuse, Recycle,
Repair) menjadi pilihan strategis yang
selaras dengan visi sekolah untuk mencetak
generasi Qurani yang cakap, cendekia, dan
berakhlak mulia. Konsep 5R mengajarkan
siswa berbagai kebiasaan positif terkait
pengelolaan sampah (Dewi et al., 2022) dan
(Budi Setianingrum, 2018). Refuse
mengajarkan siswa untuk menolak barang
sekali pakai, seperti plastik dan sedotan,
guna mengurangi produksi sampah. Reduce
mendorong siswa untuk mengurangi
penggunaan barang yang tidak diperlukan,
seperti membawa botol minum sendiri untuk
menghindari kemasan plastik. Reuse
mengajarkan siswa memanfaatkan kembali