Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Februari 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
28
Sosialisasi Pentingnya Komunikasi Keluarga Dalam Pengawasan
Anak Berinternet Di Era Digital
Azis Dwi Saputraa
a,1
, Anung Prasetyo
b,2,
Muhammad Hasnan Fariz
c,3
, Elissa Erna Putri
d,4
, Laurence
Ester Margaretha Haurissa
e,5
, Hamida Syari Harahap
f,6
a,b,c,d,e,f
Program Studi Ilmu Komunikasi;Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya,
Bekasi*
1
202210415202@mhs.ubharajaya.ac.id;
2
202210415332@mhs.ubharajaya.ac.id;
3
202210415001@mhs.ubharajaya.ac.id;
4
202110415372@mhs.ubhharajaya.ac.id;
5
202210415218@mhs.ubharajaya.ac.id;
6
hamida.syari@dsn.ubharajaya.ac.id
Naskah diterima: 5 Januari 2025, direvisi: 15 Februari 2025, disetujui: 28 Februari 2025
Abstrak
Internet telah menjadi bagian integral kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak. Namun, dampak
negatif seperti kecanduan internet dapat muncul akibat kurangnya pengawasan orang tua. Artikel ini
membahas pentingnya komunikasi keluarga dalam pengawasan anak menggunakan internet di era digital,
dengan studi kasus di RW 07 Kelurahan Harapan Mulya. Sosialisasi dilakukan untuk membangun
kesadaran orang tua mengenai pentingnya mengawasi anak dalam berinternet. Metode yang digunakan
terbagi tiga tahap, yaitu: Tahap pertama adalah persiapan, menyusun materi, banner, proyektor dengan
tujuan menarik perhatian masyarakat dan mudah dipahami, tahap kedua adalah pelaksanaan kegiatan yang
meliputi sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Tahap ketiga adalah evaluasi dan tindak lanjut,
mahasiswa mengumpulkan reaksi dari masyarakat mengenai efektivitas kegiatan yang telah dilaksanakan.
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta antusias dan menyadari pentingnya komunikasi efektif dalam
keluarga untuk meminimalkan dampak negatif internet. Kesimpulan didapatkan dengan melakukan
wawancara dan menyebar kuesioner ke audience sosialisasi, mengenai sosialisasi Pentingnya Komunikasi
Keluarga dalam Pengawasan Anak Berinternet di Era Digital. Kuesioner dan wawancara menunjukkan
30,4% anak yang bermain internet berdurasi 3 jam. Setelah diberikan edukasi pada orang tua menjadi 1-2
jam. Orang tua diharapkan mampu lebih aktif mendampingi anak saat menggunakan internet, menetapkan
batasan jelas, serta menciptakan komunikasi yang terbuka agar anak dapat memanfaatkan teknologi secara
bijak.
Kata-kata Kunci:
Komunikasi keluarga; Pengawasan Anak; Kecanduan Internet; Era Digital; Sosialisasi
Masyarakat.
Abstract
The internet is an essential part of daily life, including for children, but lack of parental
supervision can lead to negative effects such as internet addiction. This article explores the role
of family communication in monitoring children's internet use in the digital era, with a case study
in RW 07 Harapan Mulya Village. A socialization program was conducted to raise parents'
awareness of the importance of supervision. The method involved three stages: (1) Preparation,
including creating materials and media to attract public attention; (2) Implementation, which
involved educating the community through socialization; and (3) Evaluation and follow-up,
where students collected feedback on the program’s effectiveness. The results showed that
participants were enthusiastic and recognized the importance of family communication in
minimizing the internet's negative impact. Surveys and interviews revealed that 30.4% of children
initially spent three hours online daily, but after parental education, this decreased to 12 hours.
Parents are encouraged to actively guide their children, set clear boundaries, and foster open
communication to help them use technology wisely.
Keywords
: Family communication; Child Supervision; Internet Addiction; Digital Era;
Community Outreach
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Februari 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
28
PENDAHULUAN
Di era digital yang semakin
berkembang, penggunaan internet telah
menjadi bagian integral dari kehidupan
sehari-hari. Perkembangan internet
memberikan dampak yang luar biasa
terhadap penggunanya, internet
memberikan kemudahan untuk
mendapatkan segala informasi baik
positif dan negatif. Internet dapat
diakses oleh berbagai kalangan, bahkan
anak usia dini telah menggunakan
fasilitas internet. Perkembangan
internet dapat diibaratkan bagai pisau
bermata dua. Internet dapat bermanfaat
jika digunakan untuk tujuan positif.
Misalnya, dapat digunakan untuk
mencari bahan pelajaran, mencari
informasi, belajar jarak jauh, membaca
berita, mengirim surat, berkomunikasi,
dan mencari hiburan untuk
menghilangkan stres. Namun, saat ini
internet sering disalahgunakan, seperti
membuka situs web yang tidak senonoh,
menghujat satu sama lain, dan
menyebarkan informasi yang salah.
(Megawati, 2022).
Penggunaan media sosial tidak
hanya memberikan dampak positif,
tetapi juga bisa menimbulkan dampak
negatif jika tidak digunakan dengan
bijak. Penggunaan yang salah dapat
berujung pada masalah hukum yang
mengancam penggunanya dengan
kategori tindak pidana yang berpotensi
dijatuhi hukuman penjara. Selain
hukuman penjara, pelaku juga dapat
diminta untuk bertanggung jawab
secara finansial, terutama jika tindakan
mereka menyebabkan kerugian baik
secara materiil maupun non-materiil
bagi orang lain.
Semakin maju perkembangan
internet di masa kini, dikhawatirkan
menjadi sarana untuk melampiaskan
emosi dari pengguna satu ke pengguna
lainnya. Salah satu contohnya adalah
penggunaan game online. Dalam
penelitian yang dilakukan oleh Akbar
DKK, 2024 Menjabarkan bahwa
didapati anak-anak berucap hal yang
tidak senonoh untuk melampiaskan
emosinya di dalam game online. Ada
satu faktor yang menjadi penyebab
anak-anak menganggap berucap tak
senonoh di game online, faktor pertama
adalah karena faktor tontonan mereka di
media sosial, mereka kerap kali
menonton ‘pro player’ yang menjadi
panutan mereka dalam bermain game
online. Sayangnya ‘pro player’ yang
menjadi panutan mereka sering sekali
berucap kasar dan tidak patut dicontoh
anak-anak (Akbar dkk, 2022).
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Februari 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
29
Data Badan Pusat Statistik (BPS)
menunjukkan, hampir separuh anak usia
dini di Indonesia sudah bisa
menggunakan handphone (HP) atau
gawai, juga mengakses internet pada
2022. Secara total, ada 33,44% anak
usia dini di Indonesia yang
menggunakan handphone atau gawai
nirkabel. Sementara anak usia dini yang
bisa mengakses internet mencapai
24,96%.
Banyaknya data penggunaan
handphone (HP) oleh anak-anak di
indonesia di atas, dikhawatirkan dapat
memicu terjadinya perilaku kecanduan
internet terhadap anak-anak. Menurut
studi UNICEF, sebanyak 89 persen
anak-anak di Indonesia menghabiskan
rata-rata 5,4 jam per hari menggunakan
internet. Sebagian besar waktu tersebut
mereka gunakan untuk bersosialisasi
melalui media sosial (86,5%) dan
menonton video.
Kini perkembangan internet sudah
menyeluruh di Indonesia, hampir di
semua wilayah mengalaminya, salah
satunya adalah di RW 07 Kelurahan
Harapan Mulya. Fenomena ini juga
terlihat pada anak-anak tingkat sekolah
dasar yang telah menggunakan fasilitas
internet sebagai bagian dari aktivitas
sehari-hari. Berdasarkan data lapangan
anak-anak di RW 07 Kelurahan
Harapan Mulya lebih cenderung
bermain internet untuk bermain sosial
media.
Gambar 1. Pentingnya Peran Orang Tua
dalam Mengawasi Anak Berinternet
Sumber: (Hasil Kuesioner Rata-Rata Jenis
Penggunaan internet , 2025
Berdasarkan data yang telah mahasiswa
riset kepada ibu-ibu RW 07 Kelurahan
Harapan Mulya tersebut mayoritas anak-anak
di RW 07 Kelurahan Harapan Mulya
memanfaatkan internet untuk mengakses
media sosial, yang mencapai 30,4% dari
keseluruhan aktivitas internet mereka.
Aktivitas ini disusul oleh kebiasaan menonton
video atau streaming, yang mencapai 26,1%,
menunjukkan bahwa konsumsi konten
hiburan digital juga menjadi pilihan utama
mereka. Selain itu, sebanyak 17,4% dari
anak-anak menggunakan internet untuk
bermain game online dan mencari informasi
untuk tugas sekolah, menandakan bahwa
mereka juga memanfaatkan internet untuk
keperluan pendidikan dan hiburan interaktif.
Terakhir, hanya 8,7% anak-anak yang
menggunakan internet untuk berkomunikasi
melalui aplikasi pesan seperti WhatsApp atau
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Februari 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
30
Telegram. Hal ini mengindikasikan bahwa
penggunaan internet oleh anak-anak lebih
didominasi oleh konsumsi konten
dibandingkan interaksi langsung.
Anak-anak di RW 07 Kelurahan Harapan
Mulya, dalam menggunakan berbagai jenis
platform yang terkoneksi dengan internet,
bisa menghabiskan waktu berjam-jam setiap
harinya. Berdasarkan data kuesioner yang
diisi oleh orang tua, rata-rata waktu
penggunaan internet oleh anak-anak di RW
07 berkisar antara 1 hingga 3 jam per hari. Hal
ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak-
anak menghabiskan waktu yang cukup
signifikan di dunia maya, baik itu untuk
mengakses media sosial, menonton video,
bermain game, atau kegiatan lainnya yang
melibatkan penggunaan perangkat digital.
Namun, ada juga anak-anak yang
menggunakan internet lebih dari 3 jam dalam
sehari. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai
faktor, seperti tingginya minat anak terhadap
konten hiburan digital atau kebutuhan untuk
mengakses informasi untuk keperluan
pendidikan. Dengan durasi penggunaan yang
lebih panjang, anak-anak ini mungkin lebih
terlibat dalam kegiatan online seperti bermain
game online, mengikuti streaming video, atau
berinteraksi dengan teman-teman melalui
platform media sosial.
Durasi penggunaan internet yang
bervariasi ini menunjukkan perbedaan dalam
kebiasaan dan kebutuhan anak-anak terhadap
teknologi. Bagi sebagian anak, internet
menjadi alat yang sangat penting untuk
hiburan dan relaksasi, sementara bagi yang
lain, internet juga berfungsi sebagai sarana
untuk belajar atau mencari informasi terkait
tugas sekolah. Terlepas dari alasan di balik
durasi penggunaan yang berbeda-beda,
kenyataannya adalah bahwa anak-anak di RW
07 semakin terhubung dengan dunia digital,
yang membawa dampak besar terhadap pola
hidup dan interaksi mereka dengan
lingkungan sekitar. Selain itu, hal ini juga
mengindikasikan bahwa orang tua perlu lebih
aktif dalam memantau dan mengatur waktu
penggunaan internet anak-anak, agar dapat
menciptakan keseimbangan antara kegiatan
online dan offline yang sehat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa akses
internet yang semakin luas memang
memberikan banyak manfaat, namun juga
berpotensi membawa dampak negatif,
terutama terkait dengan kecanduan internet
pada anak-anak. Kecanduan internet ini
seringkali menjadi salah satu akibat dari
kurangnya perhatian dan komunikasi yang
intens antara anak dan orang tua, sehingga
anak tidak memiliki atau bahkan tidak
memahami batasan yang seharusnya dalam
menggunakan internet. Padahal, tujuan utama
orang tua mengizinkan anak-anak mereka
menggunakan internet adalah untuk
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Februari 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
31
menunjang pembelajaran yang semakin
berkembang di era digital. Penggunaan
internet tidak bisa lepas dari kehidupan
sehari-hari, khususnya remaja. Hal tersebut
dikarenakan hampir sebagian besar kegiatan
remaja membutuhkan internet, baik untuk
kebutuhan akademik maupun non-akademik
(Raharjo & Sumardjijati, 2024).
Oleh karena itu, sangat penting untuk
menjalin komunikasi keluarga menjadi peran
sentral dalam menghindari anak dari efek
negatif internet yang merugikan anak dan
orang tua, seperti kecanduan (Raharjo &
Sumardjijati, 2024). Keluarga merupakan
sekumpulan orang yang terikat oleh sebuah
sistem perkawinan, darah dan adopsi (Syukur,
2023). Keluarga memiliki sebuah sistem
komunikasi tersendiri, dan biasanya
komunikasi di sebuah keluarga memiliki
tujuan untuk mempererat keharmonisan
dalam keluarga, atau bahkan komunikasi
dalam keluarga bisa memecahkan masalah
yang ada di dalam keluarga tersebut.
Keluarga sendiri menjadi tempat di mana
mereka mendapatkan pendidikan dari orang
tua. Interaksi ini secara tidak langsung
mempengaruhi perilaku sosial anak-anak,
selain juga berfungsi sebagai sumber
perawatan dan pengasuhan. Peran keluarga
dalam membentuk karakter dan kepribadian
anak-anak sangatlah penting (Sitanggang et
al., 2021).
Komunikasi keluarga melibatkan
penggunaan kata-kata, bahasa tubuh, intonasi
suara, serta tindakan untuk membangun
harapan, mengekspresikan perasaan, dan
berbagi pemahaman. Berdasarkan definisi
tersebut, elemen-elemen seperti kata-kata,
bahasa tubuh, intonasi, dan tindakan memiliki
tujuan untuk mengajarkan, mempengaruhi,
serta memberikan pemahaman. Sementara
itu, tujuan utama komunikasi keluarga adalah
menciptakan dan menjaga interaksi antar
anggota keluarga sehingga terwujud
komunikasi yang efektif (Aziz Safrudin
dalam Sabarua & Mornene, 2020).
Pada dasarnya, komunikasi dalam
keluarga, terutama antara orang tua dan anak,
memiliki peran yang sangat penting bagi
keduanya. Melalui komunikasi yang efektif
dan konsisten, hubungan keakraban,
keterbukaan, serta perhatian satu sama lain
dapat terjalin dengan baik. Selain itu, orang
tua juga dapat lebih memahami
perkembangan anak, baik dari segi fisik
maupun psikologis (Sabarua & Mornene,
2020). Sosialisasi ini bertujuan untuk
meningkatkan kesadaran orang tua dalam
mengawasi anak berinternet.
METODE
Kegiatan ini dilaksanakan menggunakan
pendekatan diskusi interaktif dalam bentuk
sosialisasi. Kegiatan ini melibatkan
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Februari 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
32
mahasiswa Proyek Membangun Desa (PMD)
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
Kelompok 6 serta masyarakat RW 07
Kelurahan Harapan Mulya. Tujuan utama
sosialisasi ini adalah meningkatkan kesadaran
keluarga mengenai pentingnya komunikasi
dalam pengawasan anak menggunakan
internet di era digital. Tahap pertama adalah
persiapan, dimana mahasiswa menyusun
materi berupa PowerPoint, banner, proyektor
dengan tujuan menarik perhatian masyarakat
dan mudah dipahami.
Tahap kedua adalah pelaksanaan
kegiatan yang meliputi sosialisasi dan edukasi
kepada masyarakat. Dalam tahap ini,
mahasiswa memberikan pemaparan interaktif
tentang pentingnya komunikasi keluarga
sebagai langkah pencegahan terhadap
dampak negatif penggunaan internet oleh
anak-anak. Penyampaian dilakukan secara
persuasif, disertai data dan informasi relevan,
sehingga masyarakat dapat memahami
pentingnya pengawasan berbasis komunikasi
yang baik. Selain itu, sesi diskusi interaktif
diadakan untuk memberikan ruang bagi orang
tua dalam berbagi pengalaman dan tantangan
yang dihadapi dalam mengawasi anak-anak
mereka. Dalam diskusi ini, mahasiswa
memberikan saran dan solusi praktis yang
dapat diterapkan oleh keluarga.
Tahap ketiga adalah evaluasi dan tindak
lanjut, dimana mahasiswa mengumpulkan
umpan balik dari masyarakat mengenai
efektivitas kegiatan yang telah dilaksanakan.
Berdasarkan hasil evaluasi, mahasiswa
menyusun laporan kegiatan serta
merekomendasikan langkah-langkah untuk
mendukung keberlanjutan program
komunikasi keluarga di RW 07.
Metode ini diharapkan dapat
meningkatkan kesadaran masyarakat tentang
pentingnya komunikasi keluarga dalam
pengawasan penggunaan internet oleh anak-
anak, sehingga dampak negatif internet dapat
diminimalkan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan sosialisasi tentang Pentingnya
Komunikasi Keluarga dalam Pengawasan
Anak Bermain Internet di Era Digital yang
dilaksanakan oleh mahasiswa PMD (Proyek
Membangun Desa) Universitas Bhayangkara
kelompok 6 di RW 07 Kelurahan Harapan
Mulya. Kegiatan ini berlangsung pada hari
Jumat, tanggal 13 Desember 2024. Peserta
kegiatan terdiri dari orang tua, serta anak-
anak di RW 07 yang berjumlah 22 orang.
Kegiatan dimulai dengan pembukaan yang
dilakukan oleh Moderator, disaksikan oleh
dosen pendamping, mahasiswa PMD
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
Kelompok 6, dan peserta sosialisasi.
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Februari 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
33
Gambar 2. Pembukaan Sosialisasi oleh
Moderator
Sumber: Tim Dokumentasi Pengabdi
Setelah pembukaan, sesi inti diawali
dengan seminar interaktif mengenai
pentingnya komunikasi keluarga dalam
pengawasan penggunaan internet pada anak.
Materi yang disampaikan meliputi pengertian
komunikasi keluarga, dampak positif dan
negatif penggunaan internet oleh anak, serta
strategi pengawasan yang efektif di era
digital. Materi dipaparkan secara persuasif
dengan memanfaatkan data-data relevan dan
contoh kasus yang menarik perhatian peserta.
Gambar 3. Pemaparan Materi Komunikasi
Keluarga.
Sumber: Tim Dokumentasi Pengabdi
Gambar 4. Pemaparan Materi Psikologi
Anak
Sumber: Tim Dokumentasi Pengabdi
Gambar 5. Pemaparan Materi Ekonomi
Kreatif
Sumber: Tim Dokumentasi Pengabdi
Para mahasiswa kemudian memandu sesi
diskusi interaktif, di mana peserta diberi
kesempatan untuk berbagi pengalaman serta
tantangan mereka dalam mengawasi anak
dalam penggunaan internet. Kemudian dosen
pembimbing memberikan solusi praktis yang
dapat diterapkan oleh keluarga, seperti
menciptakan aturan penggunaan internet,
meningkatkan waktu kebersamaan dalam
keluarga, dan mengatur screen time
penggunaan gadget pada anak. Selain seminar
dan diskusi, dosen pembimbing juga
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Februari 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
34
melaksanakan praktik pembuatan sabun cuci
tangan untuk bimbingan terkait UMKM.
Kegiatan sosialisasi ini tentunya
memberikan banyak manfaat untuk
masyarakat RW 07 Kelurahan Harapan
Mulya. Berdasarkan wawancara dengan
masyarakat RW 07 Kelurahan Harapan
Mulya ditemukan bahwa warga merasakan
adanya manfaat dari kegiatan sosialisasi yang
dilakukan mahasiswa. Salah satu warga
menyatakan bahwa kegiatan ini sangat
membantu, memberikan pengetahuan baru,
serta menjadi kesempatan bagi ibu-ibu untuk
berbagi pengalaman dan berdiskusi tentang
solusi menghadapi tantangan dalam
pengasuhan anak. Namun, di sisi lain, ada
juga tantangan yang diungkapkan oleh warga
terkait kebiasaan anak-anak menggunakan
gawai.
Informan 1
, Sari Oktora yang merupakan ibu
dari seorang anak laki-laki memberikan
umpan balik positif mengenai Sosialisasi
Komunikasi Keluarga: Pentingnya Peran
Orang Tua Dalam Mengawasi Anak
Berinternet,
“Mengenai sosialisasi kemarin, banyak saya
dapatkan, contohnya mengenai pentingnya
peran saya sebagai orang tua dalam
mengawasi anak saya bermain internet.
Sosialisasi kemarin juga bikin saya jadi lebih
deket sama anak saya, soalnya saya lebih
meluangkan waktu untuk mengawasi jam
anak saya ketika bermain internet”
Dari pendapat informan di atas, kami bisa
mengetahui bahwa sosialisasi yang kami
lakukan dapat memberikan dampak positif
terkait hubungan orang tua dan anak,
khususnya dalam pengawasan anak bermain
internet.
Selain itu, sosialisasi yang kami lakukan
juga membantu membangun kesadaran orang
tua tentang betapa pentingnya peran orang tua
untuk mengawasi anak-anaknya ketika
mereka berinternet. Hal ini diungkapkan oleh
informan 2 (Ibu Diah).
Informan 2,
Ibu Diah mengatakan: “Sebelum
sosialisasi itu saya sudah tahu kalau bermain
internet lama-lama itu ada dampak
negatifnya, tapi saya yang bersikap biasa aja
gitu. Nah karena sosialisasi kemarin, saya
mulai ngasih tau anak saya kalo bermain
internet itu bisa nimbulin beberapa efek
negatif”.
Informan 3
, Imaslia sebagai salah satu warga
RW 07 Kelurahan Harapan Mulya
mengatakan: Oh, bagus itu. Malah ngasih
ilmu buat ibu-ibu. Kita dapat ilmu juga dari
ada sosialisasi gitu kan, seenggaknya kita
bisa curhat kita bisa tau gitu bagus sih
maksudnya ada sosialisasi kaya gitu. Emang
disinikan jarang bukannya jarang emang gak
ada sosialisasi kaya gitu selama
disini gak
pernah sih kaya dosen begitu masuk terus
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Februari 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
35
bikin sosialisasi. Sangat membantu banget
sebenernya.”
Para orang tua merasa serba salah karena
di satu sisi mereka membutuhkan gawai
sebagai cara agar anak tetap tenang ketika
orang tua sedang sibuk. Namun, disisi lain,
mereka juga khawatir terhadap dampak
negatifnya, seperti ketergantungan terhadap
gawai atau kurangnya interaksi sosial anak.
Beberapa ibu bahkan mengungkapkan
kesulitan dalam mengawasi penggunaan
gawai pada anak-anak yang lebih besar,
terutama remaja, karena sudah memiliki
privasi dan kebiasaan sendiri. Hal ini
menunjukkan perlunya edukasi tambahan
terkait manajemen penggunaan teknologi
dalam keluarga, agar anak tetap berkembang
secara optimal tanpa mengabaikan kebutuhan
emosional dan sosial mereka.
Informan 3
, Imaslia juga mengatakan:
Serba salah juga yah sekarang kita nyari
antengnya kaya gitu kita mau lepaskan tau
sendiri ya makanya serba salah deh kalo kaya
gitu. Sebenernya sih gak pengen ya ngasih
anak kita hp di sisi lain kita juga butuh gitu
juga karna pertama kita repot kedua kita
emang butuh biar anaknya antenng soalnya
kita kan bukan ibu-ibu yang ibaratnya ada
asistennya lah kalo ada asistennya kan kita
bisa entah harian gitu ngawasin anak kita,
kita bisa ya. Kalo dah gede kan kita serba
salah kan kaya sekarang nih anak dewasa
juga nih udah SMA hpnya aja udah pasti yang
privasiin gitu kita kendalanya disitu kan kita
mau coba ngecek kan kalo kita nanya mau
minta dong ininya gitu kan dia lebih gimana-
gimana padahal kita udah ngeluarin
ultimatum kan sama dia sekarang nomor aku
udah diblokir.”
Hal ini mengungkapkan tantangan besar
yang dihadapi oleh para orang tua, terutama
dalam menghadapi kebiasaan anak
menggunakan gawai. Orang tua merasa
terjebak dalam dilema antara memberikan
akses kepada gawai agar anak tenang saat
mereka sibuk dan menjaga keseimbangan
interaksi sosial serta perkembangan anak.
Permasalahan ini semakin kompleks pada
anak remaja, di mana orang tua menghadapi
kesulitan dalam mengontrol penggunaan
gawai karena meningkatnya privasi dan
otonomi anak. Hal ini menunjukkan perlunya
pendekatan edukatif yang berfokus pada
manajemen penggunaan teknologi dalam
keluarga, serta penguatan nilai-nilai
komunikasi dan kedisiplinan yang
mendukung perkembangan anak secara
menyeluruh.
Hasil dari kegiatan ini menunjukkan
bahwa peserta sangat antusias dalam
mengikuti seluruh rangkaian acara. Peserta
memberikan umpan balik positif terkait
materi yang diberikan, menyatakan bahwa
materi mudah dipahami dan relevan dengan
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Februari 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
36
kondisi mereka. Para orang tua mengaku
mendapatkan wawasan baru tentang cara
menjaga komunikasi yang efektif dengan
anak dan pentingnya pengawasan
penggunaan internet. Antusiasme ini terlihat
dari keterlibatan aktif peserta dalam sesi
diskusi dan tingginya minat untuk
menerapkan strategi yang telah diajarkan.
Dengan keberhasilan ini, kegiatan diharapkan
dapat memberikan dampak positif jangka
panjang dalam mendukung pengawasan anak
dalam menggunakan internet di era digital.
Komunikasi Keluarga
Keluarga menurut Galvin dan Brommel
(Tubbs & Moss dalam Prabandi & Rahmiaji,
2019), diartikan sebagai sekelompok orang
yang menjalin hubungan melalui perkawinan,
ikatan darah, dan komitmen. Mereka saling
berbagi kehidupan bersama dalam jangka
waktu yang panjang dan memiliki harapan-
harapan bersama untuk masa depan.
Keluarga adalah agen sosialisasi yang
memiliki pengaruh terbesar dalam
membentuk pola komunikasi serta nilai-nilai
budaya dalam kehidupan masyarakat
(Bahfiarti et al., 2022).
Menurut Eadie dalam Prabandari dan
Rahmiaji, 2019 Kehidupan dalam sebuah
keluarga terbentuk melalui interaksi yang
dijalin antara anggotanya. Melalui
komunikasi, setiap anggota dapat memahami
peran, aturan, dan harapan yang ada, serta
cara mereka membangun dan mengelola
hubungan satu sama lain. Dengan demikian,
mereka dapat saling berinteraksi secara
efektif. Dalam konteks ini, keluarga juga
dikenal sebagai kelas komunikasi pertama.
Aspek-aspek Kecanduan Internet
Istilah "Kecanduan" terus berubah seiring
dengan perkembangan dalam kehidupan
masyarakat. Oleh karena itu, kecanduan tidak
hanya terkait dengan obat-obatan, tetapi juga
dapat muncul dari kegiatan atau hal-hal
tertentu yang menyebabkan seseorang
mengalami ketergantungan, baik secara fisik
maupun psikologis (Eklesia et al., 2020)
.
Kecanduan gadget menurut Young dalam
Dewi & Trikusumaadi, (2016) sebagai
berikut:
Fokus dengan aktivitas online.
Keinginan meningkat untuk bermain
internet.
Ketidakmampuan mengontrol
penggunaan internet.
Perasaan gelisah ketika tidak bermain
internet.
Durasi penggunaan internet yang
berlebihan.
Dampak Kecanduan Internet
Orang yang mengalami kecanduan
internet, umumnya banyak menghabiskan
waktu sekitar enam jam atau lebih setiap
harinya untuk menggunakan internet.
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Februari 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
37
Menurut Bong, Shu, Hyun, et al., (2021):
Kecanduan internet dapat menyebabkan
berbagai gangguan, seperti:
1. Pemusatan perhatian.
2. Membuat seseorang tidak berpikir
panjang dalam bertindak (tanpa
memikirkan konsekuensi).
3. Penyalahgunaan Narkoba.
4. Perjudian.
Menurut Lestari & Winingsih (dalam
Wulan, Nuning, Z, dkk., 2023):
1. Kecanduan internet merupakan
gangguan psikologis.
2. Pengakses internet menghabiskan
separuh waktunya untuk online.
3. Faktor penyebab meliputi: Rasa ingin
tahu yang tinggi, kurangnya
pengendalian diri (self-control), dan
minimnya keterlibatan dalam aktivitas
produktif sehari-hari. Hal ini
berpengaruh terhadap kemampuan
mereka untuk berinteraksi sosial dan
menyesuaikan diri dengan
lingkungannya.
Upaya Orang Tua dalam Mencegah Anak
Kecanduan Internet
Penggunaan internet oleh anak tanpa
pengawasan orang tua menurut cenderung
memberikan dampak negatif yang lebih
signifikan dibandingkan manfaat positifnya.
Anak-anak seringkali belum memiliki
kemampuan untuk memilah informasi secara
bijak. Contohnya, terdapat kasus seorang
siswa sekolah dasar yang tidak sengaja
mengakses konten video yang tidak pantas,
seperti pornografi. Meskipun anak mungkin
tidak sepenuhnya memahami makna dari
video tersebut, paparan seperti ini dapat
mendorong perilaku tertentu yang meniru apa
yang mereka lihat. Hal ini menunjukkan
pentingnya peran orang tua dalam
mendampingi dan mengontrol aktivitas anak
selama menggunakan internet, untuk
mencegah dampak buruk terhadap
perkembangan mereka (Kusumawardhani et
al., 2019).
Menurut Kusumawardhani et al., (2019)
Beberapa langkah yang dapat diambil orang
tua untuk mencegah anak menjadi kecanduan
internet antara lain:
1.
Memberikan Edukasi Tentang
Internet
Menjelaskan secara jelas dampak positif
dan negatif dari penggunaan internet kepada
anak, sehingga mereka dapat lebih memahami
konsekuensi dari setiap aktivitas online.
2.
Memberikan Contoh dari Kasus
Menceritakan kasus-kasus yang terjadi
akibat penyalahgunaan internet, seperti
penculikan atau pelecehan yang pernah
diberitakan di Indonesia, untuk meningkatkan
kewaspadaan mereka.
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Februari 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
38
3.
Membatasi
Screen Time
Menetapkan aturan waktu penggunaan
internet, misalnya hanya untuk
menyelesaikan tugas sekolah, dengan
pengawasan langsung dari orang tua.
4.
Mengawasi Pergaulan Anak
Memastikan bahwa anak berinteraksi
dalam lingkungan yang aman, terutama saat
bergaul dengan orang dewasa, guna
menghindari pengaruh negatif yang mungkin
timbul.
KESIMPULAN
Pentingnya komunikasi keluarga dalam
pengawasan anak berinternet memerlukan
perhatian khusus dari orang tua untuk
menghindari kecanduan internet pada anak,
yang dapat berdampak buruk pada
perkembangan sosial, emosional, dan
akademik mereka. Hal ini harus ditangani
dengan beberapa pendekatan yang melibatkan
orang tua dan anak. Maka diadakanlah
sosialiasi mengenai pentingnya komunikasi
keluarga dalam pengawasan orang tua dalam
mengasi anak berinternet. Kegiatan ini
terlihat dari antusiasme peserta dan
perubahan perspektif mereka terhadap
pengelolaan penggunaan internet oleh anak.
Berdasarkan data hasil kuesioner dan
wawancara menunjukkan 30,4% anak yang
bermain internet dengan durasi 3 jam. Setelah
diberikan edukasi pada orang tua menjadi 1-2
jam. Upaya ini diharapkan dapat menjadi
langkah awal yang berkelanjutan dalam
mendukung keluarga menghadapi tantangan
di era digital.
Orang tua diharapkan mampu
lebih aktif dalam mendampingi anak saat
menggunakan internet, menetapkan batasan
yang jelas, serta menciptakan komunikasi yang
terbuka agar anak dapat memanfaatkan
teknologi secara bijak.
REFERENSI
Akbar, M. F., Akram, M., & Fiddienika, A.
(2024). Fenomena Ketidaksopanan
Berbahasa Indonesia Pada Saat Bermain
Game Online. Jurnal Loyalitas Sosial:
Journal of Community Service in
Humanities and Social Sciences, 6(2),
8599.
https://doi.org/10.32493/JLS.v6i2.p85-
99
Astutik, S., & Zulaikha, B. A. (2020).
Penggunaan media sosial dan literasi
hukum di kalangan ibu PKK. Jurnal
Loyalitas Sosial, 2(1).
Dwy, S., & Santoso, H. L. (2024). Systematic
Literature Review: Efektivitas Layanan
Konseling Kontrak Perilaku dalam
Menangani Kecanduan Internet.
Proceedings Series of Educational
Studies, 88-95.
Eklesia, R. C., Mingkid, E., & Londa, J. W.
(2020). PERAN KOMUNIKASI ORANG
TUA DALAM MENCEGAH
KECANDUAN GADGET PADA ANAK
USIA DINI DI KELURAHAN
KAROMBASAN UTARA. 6.
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Februari 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
39
Fitrah, A. N., Bahfiarti, T., & Farid, M.
(2024). Dinamika Komunikasi Keluarga
Nelayan Suku Mandar dalam
Mentransfer Nilai-nilai Paissangang
Sumombal Perahu Sandeq. Sang
Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas
Muhammadiyah Buton, 10(3), 752-768.
Kusumawardhani, A., Segara, A. A., &
Supriadi, W. (2019). PERAN ORANG
TUA DALAM PENGAWASAN
PENGGUNAAN INTERNET PADA
ANAK. Jurnal Abdikarya, 03(03), 15.
Megawati, S. (2022). Bahaya Kecanduan
Internet Dan Kecemasan Komunikasi
Terhadap Karakter Anak Usia Dini Di
Desa Parit Pudin Kecamatan Pengabuan
…. At-Tadabbur: Jurnal Penelitian
Sosial , 12(Juni). http://ejournal.an-
nadwah.ac.id/index.php/Attadabbur/artic
le/view/384%0Ahttp://ejournal.an-
nadwah.ac.id/index.php/Attadabbur/artic
le/download/384/313
Muamar, Abdul. (2024). Keamanan
Penggunaan Internet di Kalangan Anak-
Anak Masih
Lemah.https://greennetwork.id/ikhtisar/k
eamanan-penggunaan-internet-di-
kalangan-anak-anak-masih-
lemah/#:~:text=Studi%20UNICEF%20
menemukan%20bahwa%2089,5%2C4%
20jam%20per%20hari diakses pada
tanggal 8 Januari 2025.
Prabandi, A. I., & Rahmiaji, L. R. (2019).
KOMUNIKASI KELUARGA DAN
PENGGUNAAN SMARTPHONE OLEH
ANAK. 123.
Rahmalia, S. M., & Laeli, S. (2024). Pengaruh
Lingkungan Keluarga Terhadap
Perkembangan Kepribadian Anak.
Karimah Tauhid, 3(9), 10007-10018.
Ramadhani, A., Wardani, S., & Samsiar, S.
(2024). Pemanfaatan Gadget sebagai
Teknologi.
Sabarua, J. O., & Mornene, I. (2020).
Komunikasi Keluarga dalam Membentuk
Karakter Anak. International Journal of
Elementary Education, 4(1), 83-89.
Yulianti, Y., & Astuti, M. T. (2023).
Komunikasi Keluarga Sebagai Sarana
Keharmonisan Keluarga. Innovative:
Journal Of Social Science Research,
3(2), 4609-4617.