Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Maret 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
1
Peran Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Dalam Menangkal Bullying di Sekolah
Herdi Wismanjaya
a,1
, Abi Robian
b,2
, Dini Handayani
c,3
a,b,c
Program Studi PPKn, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pamulang*
1
dosen00989@unpam.ac.id;
2
dosen00900@unpam.ac.id,
3
dosen00989@unpam.ac.id
*Herdi Wismanjaya
Naskah diterima: 2 Januari 2025, direvisi: 5 Februari 2025, disetujui: 28 Februari 2025
Abstrak
Mitra merupakan sekolah SMK Sasmita Jaya 2 yang berdomisili di Kecamatan Pamulang Kota
tangerang Selatan. Sebagaimana Pasal 3 UU RI nomor 20 tahun 2023, pendidikan seyogyanya
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang memiliki nilai nilai pancasila serta berdisiplin.
Berdasarkan hasil observasi serta data sekolah, kasus bullying masih kerap ditemukan di
sekolah SMK Sasmita Jaya 2. Salah satu contoh bullying lazim terjadi yaitu dengan menjauhi
atau mengucilkan teman di sekolah. Dengan adanya praktik bullying ini teman yang dikucilkan
dan dijauhi akan merasa sedih, tertekan, dan membuatnya merasa tidak nyaman bahkan
minder. Masalah bullying ini tentunya menjadi perhatian serius bagi seluruh pihak, baik
menejemen sekolah, guru, serta lembaga non pendidikan melihat bahaya bullying sangat
berdampak negative bagi psikologis peserta didik. Tujuan dari kegiatan PKM ini adalah
memberikan penyuluhan kepada peserta didik untuk memberikan pemahaman tentang bahaya
bullying, dampak negative bullying secara fsikologis dan upaya pencegahannya melalui
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Bentuk pengabdian masyarakat ini yaitu melalui
kegiatan penyuluhan langsung dengan bebebrapa metode yang digunakan, yaitu metode
ceramah, metode diskusi interaktif dan metode simulassi sesuai tema dan audiens yang telah
ditentukan. Melalui pengajaran nilai-nilai Pancasila, seperti kemanusiaan yang adil dan
beradab serta persatuan Indonesia, siswa diajak untuk memahami pentingnya menghargai
perbedaan, menjunjung tinggi martabat manusia, dan bekerja sama dalam keberagaman.
Dengan pendekatan ini, siswa dapat mengembangkan sikap saling menghormati dan
memperkuat hubungan yang harmonis dalam kehidupan sehari-hari. Perlunya intensifikasi
pembelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan secara konsisten, hal ini dapat membangun
budaya sekolah yang bebas dari bullying, di mana setiap siswa merasa dihargai dan dilindungi.
Kata-kata kunci: Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan; bullying; Sekolah
Abstract
Partner refers to SMK Sasmita Jaya 2, a vocational high school located in Pamulang
District, South Tangerang City. As stated in Article 3 of Law No. 20 of 2023 of the
Republic of Indonesia, education should aim to develop students' potential so they
become individuals who are faithful and devoted to God Almighty, possess noble
character, good health, knowledge, competence, creativity, independence, and
discipline, and uphold Pancasila values as responsible citizens. Based on observations
and school data, bullying cases are still frequently found at SMK Sasmita Jaya 2. One
common form of bullying is social exclusion, where a student is deliberately avoided
or isolated by their peers. This practice makes the excluded student feel sad, pressured,
uncomfortable, and even inferior. Bullying is a serious concern for all parties,
including school management, teachers, and non-educational institutions, considering
the severe negative psychological impact on students. The goal of this community
service program (PKM) is to provide counseling to students to raise awareness about
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Maret 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
2
the dangers of bullying, its negative psychological effects, and preventive measures
through Pancasila and Civic Education (PPKn). This community service initiative is
conducted through direct counseling sessions using several methods, including the
lecture method, interactive discussion, and simulation techniques, tailored to the theme
and audience. By teaching Pancasila values, such as just and civilized humanity and
Indonesian unity, students are encouraged to understand the importance of respecting
differences, upholding human dignity, and fostering cooperation in diversity. Through
this approach, students can develop a mutual respect attitude and strengthen
harmonious relationships in their daily lives. Consistent reinforcement of Pancasila
and Civic Education is essential in building a school culture free from bullying,
ensuring that every student feels valued and protected.
Keywords: Pancasila and Civic Education; Bullying; School
.
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Maret 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
3
PENDAHULUAN
Pendidikan sebagai parameter atau tolak
ukur kemajuan bangsa dan negara, maka
bagaimana penerapan pendidikan tentu menjadi
suatu hal penting dalam mencerdaskan anak
bangsa. Dalam hal ini, perencanaan pendidikan
memiliki peranan penting dan berpengaruh besar
pada pelaksanaan pendidikan. Oleh karena itu,
kurikulum sebagai perangkat dan pedoman
merupakan bagian dari suatu perencanaan
pendidikan semestinya dapat dirancang secara
matang dan menyeluruh.
Secara sepesifik, pendidikan seyogyanya
yaitu bertujuan untuk mengembangkan potensi
pesertadidik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang
memiliki nilai nilai pancasila serta berdisiplin.
Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 3
UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem
Pendidikan Nasional (Lembaran Negara RI
Tahun 2003 No.78, Tambahan Lembaran Negara
No.4301). Tujuan pendidikan tersebut hendaknya
kita sadari betul, sehingga pendidikan yang kita
selenggarakan bukan hanya sekedar untuk
mengembangkan salah satu potensi peserta didik,
dan menjadi manusia yang berilmu saja, bukan
hanya untuk terampil bekerja saja dan
sebagainya, melainkan demi berkembangnya
seluruh potensi peserta didik dalam konteks
keseluruhan dimensi kehidupannya secara
keseluruhan.
Diperlukannya pendidikan dalam upaya
membentuk Sumber Daya Manusia yang
berkualitas, baik untuk dirinya sendiri sebgai
indivdu, auapaun sebagai anggota dari kelompok
dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan
dapat diartikan sebagau usaha untuk
mengembangkan kemampuan diri. Sebagai
bangsa yang besar ini memang masih saja terjadi
polemik dalam dunia pendidikan yang selalu saja
mecuri perhatian. Seperti yang diketahui
bahwasanya polemik mengenai pendidikan di
negeri ini yang seakan tiada habisnya dan
menemukan titik terang. Penyelengaraan
pendidikan yang merata dan menyeluruh
tentunya menjadi dambaan bagi seluruh lapisan
masyarakat di negeri ini, namun terkadang hal
tersebut hanya menjadi harapan angan-angan
saja.
Pendidikan yang sejatinya menjadi awal
dari tumpuan dan tolak ukur bagi pesertadidik
sebagai penerus bangsa dalam menlanjutkan
perjuangan bangsa ini untuk menentukan nasib
kedepanya akan seperti apa. Jika kita kaitkan
pendidikan ini dengan Pembukaan Undang-
Undang Dasar 1945 dimana dalam naskahnya
tertulis seperti yang dikutip “…..mencerdaskan
kehidupan bangsa….”, maka dalam upaya untuk
mencerdasakan kehidupan bangsa tersebut,
pendidikan bisa dijadikan batu loncatan untuk
menitikan langkah menuju terwujudnya cita-cita
bangsa tersebut. Kemudian selain dalam
Pembukaan Undang- Undang Dasar 1945, secara
lebih lanjut mengenai pendidikan ini juga diatur
dalam batang tubuh dari UUD 1945 tepatnya
alam pasal 31 ayat 1 dan 2 yang berbunyi “Setiap
warga negara berhak mendapat pendidikan. (ayat
1) dan “Setiap warga negara wajib mengikuti
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Maret 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
4
Pendidikan dasar dan pemerintah wajib
membiayainya (ayat 2)”. Diperlukannya
pendidikan dalam upaya membentuk Sumber
Daya Manusia yang berkualitas, baik untuk
dirinya sendiri sebagai individu, ataupun sebagai
anggota dari kelompok dalam kehidupan
bermasyarakat (Lembaran Negara RI Tahun
2003 No.78, Tambahan Lembaran Negara
No.4301).
Kendati pendidikan di Indonesia secara
lagsung diamanatkan oleh Undang-Undang
Dasar RI 1945, pelaksanaan pendidikan ini
sejatinya kurang berjalan dengan kondusif
mengingat banyaknya permasalahan terjadi di
dalamnya. Salah satu permasalahan umum di
Indonesia saat ini, yaitu hampir terjadi di setiap
sekolah di Indonesia adalah bullying yang di
lakukan antar sesama peserta didik. Menurut
Katyana Wardhana (2015:09) Bullying
(“penindasan/risak” dalam bahasa Indonesia)
adalah segala bentuk kekerasan atau penindasan
yang dilakukan secara sengaja maupun tidak
sengaja oleh satu atau kelom pok orang yang
lebih berkuasa dan bertujuan menyakiti dan
sering dilakukan terus-menerus kepada korban.
Perilaku bullying juga dapat dibedakan menjadi
4 jenis, yaitu bullying secara verbal, bullying
relasional, bullying fisik, dan ciber bullying.
Faktor yang menyebabkan terjadinya bullying
yaitu faktor keluarga, faktor sekolah, faktor
kelom pok, kondisi lingkungan sosial, serta
media cetak dan tayangan televisi (Fikhri, M., &
Ramdhan, Z, 2020).
Penomena peraktik bullying beserta
bahaya serta dampak yang ditimbulkan dari
prilaku negative bullying tersebut, baik secara
fisik maupun psikologis peserta didik. Ini
tentunya menjadi sasalah satu perhatian berbagai
pihak yang berkepentingan atas terselenggaranya
proses pendidikan yang baik dan kondusif di
Indonesia, baik pemerintah, dinas pendidikan,
sekolah, guru, masyarakat secara keseluruhan
serta lembaga non pendidikan lainnya yang
berkepentingan atas out-put pendidikan yang
baik di Indonesia tidak terkecuali civitas
sekolah SMK Sasmita Jaya 2 Pamulang, dimana
permasalahan bullying ini mejadi perhatian
semuanya.
Permasalahan bullying ini tentunya
menambah daftar dari kompleksitas
permasalahan dan tantangan pelaksanaan
pendidikan di Indonesia, dimana diperlukan
adanya perubahan paradigma pendidikan untuk
mengatasi masalah ini. Untuk itu diperlukan
komitmen, dukungan, dan sumber daya yang
memadai dari pemerintah, stake holder
pendidikan dan masyarakat secara keseluruhan
untuk bersama-sama menyikapi serta mencari
solusi dari peraktik bullying ini.
Dalam menyikapi maraknya peraktik
bullying ini, Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan dianggap paling berpotensi
untuk dapat digunakan dalam menangkal serta
meredam penomena bullying ini, mengingat
sejatinya Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan merupakan salah satu bidang
studi di Indonesia yang sedari awala dibuat dan
diupayakan untuk dapat membentuk sikap
mental dan karakter warga-negara Indonesia
yang baik (Khoiri, A. Susilawati, dan E.
Hamidah, M.P., dkk. 2023). Sebagai salah satu
bidang studi Pendidikan Pancasila dan
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Maret 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
5
Kewarganegaraan mempunyai peranan penting
dalam membentuk peserta didik sebagai sumber
daya manusia Indonesia yang berkualitas.
Dimana bidang studi ini berfokus pada urgensi
dari pendidikan politik berupa pemahaman akan
hak dan kewajiban sebagai warga negara,
kesadaran hidup bermasyarakat, serta prinsip-
prinsip demokrasi. Tentunya termasuk
mengajarkan prinsip-prinsip tentang hak asasi
manusia dan cara-cara untuk menyelesaikan
konflik dengan cara damai (Sartika, R., & Ndona,
J.2024).
Mengingat urgensi dari Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan ini,
dirumuskanlah konsepsi Profil Pelajar Pancasila
sebagai panduan dalam proses pendidikan
karakter di Indonesia. Profil Pelajar Pancasila
merupakan perwujudan pelajar Indonesia sebagai
pelajar sepanjang hayat yang memiliki
kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan
nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama:
beriman bertakwa kepada Tuhan YME, dan
berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong
royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif
(Kusumawati, E.2022).
Keberadaan Profil Pelajar Pancasila ini
diharapkan berjalan dengan lancar dan terealisasi
dengan baik sehingga menghasilkan pelajar-
pelajar Indonesia yang berakhlak mulia, memiliki
kualitas yang dapat bersaing secara nasional
maupun global, mampu bekerjasama dengan
siapapun dan dimanapun, mandiri dalam
melaksanakan tugasnya, meniliki nalar yang
kritis, serta mempunyai ide-ide kreatif untuk
dikembangkan. Tentu untuk tercapainya cita-cita
tersebut harus ada kerjasama juga dari pihak
pelajar seluruh Indonesia. Selaras dengan
pandangan ini, Kemendikbud merespons
problematika modern ini dengan menggagas
program sekolah penggerak dengan tujuan
mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yaitu pelajar
yang berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis,
kreatif, bergotong royong dan berkebhinnekaan
global (Roza, I., & Ramadan, Z. H.2023).
Gambar 1: Enam Profil Pelajar Pancasila
(Sumber: Kemendikbud, 2020)
Sebagaimana mestinya penerapan
memerlukan sebuah konseptual atau gambaran
yang sudah terstruktur dan terjamin
keberhasilannya. Konseptual terhadap
implementasi profil pelajar Pancasila sangat
berpengaruh jika diterapkan dari sekolah dasar.
Perlu diketahui bahwa pelajar yang masih
menginjak sekolah dasar mempunyai tingkat rasa
ingin tahu yang tinggi dan mempunyai daya
tangkap yang kuat. Sehingga sangat mudah
mendoktrin atau menanamkan nilai-nilai pancasila
dalam proses belajar mengajar untuk diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari dan untuk
keberlangsungan hidup mereka nantinya. Untuk
itu diharapkan guru harus memiliki konsepsi
sendiri tentang Profil Pelajar Pancasila. Konsepsi
itu sendiri adalah pengertian atau tafsiran
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Maret 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
6
seseorang terhadap suatu konsep tertentu dalam
kerangka yang sudah ada dalam pikirannya dan
setiap konsep baru didapatkan dan diproses
dengan konsep-konsep yang telah dimiliki
(Malikha & Amir, 2018).
Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada
masyarakat (PKM) ini adalah memberikan
penyuluhan kepada peserta didik untuk
memberikan pemahaman tentang urgensi dari
Pendidikan Pancasila serta bullying serta dampak
negative dan upaya pencegahannya. Selanjutnya
pengabdian masyarakat ini dapat memberikan
manfaat bagi, 1). Dosen dan mahasiswa untuk
terus mengembangkan pengetahuan mengenai
Pendidikan Pancasila dan bullying pada
Kurikulum Merdeka; 2). Bagi sekolah
memberikan pencerahan tentang bullying; dan 3).
Bagi peserta didik memberikan pemahaman serta
dampak, dan upaya pencegahan dan solusi dari
bullying tersebut.
Pelaksanaan Pengabdian Kepada
Masyarakat (PKM) ini diaksanakan dalam bentuk
penyuluhan di sekolah SMK Sasmita Jaya 2
Pamulang, dimana yang menjadi sasaran dari
PKM ini yaitu peserta didik beserta bapak/ ibu
guru-guru, dimana pengabdian ini temanya yaitu
Peran Pembelajaran Pendidikan Pancasila Dan
Kewarganegaraan Dalam Menangkal Bullying Di
Sekolah. Diharapkan dengan Pelaksanaan
Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dapat
memberikan pemahaman akan Prilaku Bullying
beserta aspek negative yang ditibulkannya,
dengan harapan setelah pelaksanaan PKM ini
dapat berimbas pada minimnya praktik Bullying
di lIngkungan Civitas SMK Sasmita Jaya 2
Pamulang.
METODE
Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)
dilaksanakan dilingkungan civitas sekolah SMK
Sasmita Jaya 2 Pamulang yang dilaksanakan
selama 2 hari yaitu hari /tanggal 8-9 Oktober
2024 yang dilaksanakan dari mulai Pukul 08.00
16.00 sore. Sasaran dari program penyuluhan
pengabdian masyarakat ini yaitu Peserta didik
SMK Sasmita Jaya 2 Pamulang, Kec.
Pamulang, Kota Tangrang selatan, Provinsi
Banten.
Pendekatan yang digunakan dalam
pengabdian masyarakat (PKM) ini yaitu melalui
kegiatan penyuluhan langsung dengan beberapa
metode yang digunakan, yaitu metode ceramah,
metode diskusi interaktif dan metode simulasi
sesuai tema dan audiens yang telah ditentukan.
Pelaksanaan kegiatan pengabdian
masyarakat (PKM), ini terdiri dari beberapa
tahapan. Berikut ini adalah tahapan pelatihan
yang dilakukan yaitu, 1). Tahapan awal
terdiri dari Survey awal, Penyusunan
bahan/materi, Contoh-contoh dan jenis-jenis
penyuluhan; 2). Tahap proses penyuluhan;
dan 3). Tahapan evaluasi kegiatan pengabdian
masyarakat (PKM).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penyuluhan yang di lakukan oleh tim
dosen Prodi Pendidikan Pancasila dan
kewarganegaraan dari hasil wawancara
dengan kepala sekolah SMK Sasmita Jaya 2
Pamulang gerhadap siswa-siswi di sana lebih
Pembelajaran Pendidikan Pancasila juga
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Maret 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
mengajarkan siswa pentingnya persatuan dan
solidaritas dalam keberagaman. Sila
persatuan Indonesia mendorong siswa untuk
menerima perbedaan dan menciptakan
lingkungan yang inklusif di sekolah. Dengan
pemahaman ini, potensi konflik yang sering
menjadi pemicu bullying, seperti
diskriminasi atas dasar suku, agama, atau
status sosial, dapat diminimalkan.
Pendidikan ini membantu siswa untuk
melihat keberagaman sebagai kekuatan,
bukan sebagai alasan untuk memicu
perpecahan atau intimidasi.di sekolah MK
Sasmita Jaya 2 Pamulang tidak saja bagi
siswa-siswi di sana juga bagi guru-guru
yang ada di sekolah SMK Sasmita Jaya 2
Pamulang Kota Tangerang Selatan.
Pentingnya Pengabdian Kepada
Masyarakat oleh Tim dosen ini sebagai salah
satu bentuk komunikasi yang dilakukan
penyuluh dalam hal ini sangat tepat, hal ini
sejalan dengan berbagai komunikasi massa
bahwa komunikasi massa memiliki efek
terhadap komunikannya. Selain itu proses
komunikasi dalam komunikasi melalui
Penyuluhan langsung yang dilakukan
melalui PKM dengan berbagai tujuan
komunikasi dan untuk menyampaikan
informasi kepada khalayak luas, kemampuan
untuk menjangkau masyarakat khususnya
siswa-siswi dan guru di SMK Sasmita Jaya 2
Pamulang, Selain itu jika kita melirik kepada
fungsi dari PKM itu maka secara umum
PKM dapat di katakana berhasil dengan
antusiasnya siswa-siswi serta guru-guru
terlihat menikmati dan belajar banyak dari
materi yang di sampaikan oleh narasumber
yang PKM di sekolah SMK Sasmita Jaya 2
Pamulang Kota Tangerang Selatan. Maka
PKM yang memiliki fungsi, yaitu: 1)
menyiarkan informasi 2) mendidik, 3)
penghibur, 4) memengaruhi dapat berjalan
dengan baik di SMK Sasmita jaya 2
Pamulang kota tangerang Selatan selama
berlangsung. Hal ini Selain menanamkan
nilai-nilai Pancasila, pembelajaran ini juga
menyediakan ruang untuk diskusi dan
refleksi tentang isu-isu sosial, termasuk
bullying.
Melalui kajian kasus dan simulasi,
siswa diajak untuk memahami dampak
negatif bullying terhadap korban, pelaku,
dan lingkungan sekolah secara keseluruhan.
Proses ini meningkatkan kesadaran siswa
akan pentingnya peran mereka dalam
menciptakan lingkungan yang aman dan
nyaman bagi semua. Dengan metode
pembelajaran yang interaktif, siswa dapat
lebih mudah menginternalisasi konsep-
konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih jauh, Pendidikan Pancasila
melatih siswa untuk menyelesaikan konflik
secara damai dan konstruktif. Siswa
diajarkan untuk mengatasi perbedaan
pendapat dengan dialog dan musyawarah,
sesuai dengan sila keempat Pancasila.
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Maret 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
8
Pendekatan ini mendorong siswa untuk
mengembangkan keterampilan komunikasi
yang efektif dan kemampuan berpikir kritis,
yang pada akhirnya membantu mencegah
tindakan kekerasan verbal maupun fisik di
sekolah. Dengan mengajarkan solusi yang
berbasis nilai-nilai kebangsaan, siswa lebih
siap untuk menghadapi situasi yang
kompleks tanpa melibatkan perilaku
intimidasi.
Urgensi pembelajaran Pendidikan
Pancasila berkontribusi dalam menciptakan
karakter siswa yang toleran, berempati, dan
bertanggung jawab. Ketika nilai-nilai
Pancasila diterapkan secara konsisten dalam
keseharian, budaya bullying di sekolah dapat
digantikan oleh budaya saling menghormati
dan kerja sama. Oleh karena itu,
keberhasilan pembelajaran Pendidikan
Pancasila dalam meningkatkan pencegahan
bullying sangat bergantung pada sinergi
antara guru, siswa, dan lingkungan sekolah
yang mendukung penerapan nilai-nilai ini
secara berkelanjutan. Dengan pendekatan
holistik ini, sekolah dapat menjadi tempat
yang aman, inklusif, dan kondusif bagi
semua pihak.
KESIMPULAN
Pembelajaran Pendidikan Pancasila
memiliki kontribusi penting dalam
membentuk karakter siswa yang toleran,
berempati, dan bertanggung jawab. Melalui
pengajaran nilai-nilai Pancasila, seperti
kemanusiaan yang adil dan beradab serta
persatuan Indonesia, siswa diajak untuk
memahami pentingnya menghargai
perbedaan, menjunjung tinggi martabat
manusia, dan bekerja sama dalam
keberagaman. Dengan pendekatan ini, siswa
dapat mengembangkan sikap saling
menghormati dan memperkuat hubungan
yang harmonis dalam kehidupan sehari-hari,
baik di lingkungan sekolah maupun
masyarakat.
Selain itu, Pendidikan Pancasila
memberikan landasan moral dan etika yang
kuat kepada siswa untuk bertindak secara
empati dan bertanggung jawab. Melalui
diskusi, refleksi, dan simulasi situasi nyata,
siswa diajak untuk memahami dampak
tindakan mereka terhadap orang lain serta
pentingnya menyelesaikan konflik secara
damai. Proses ini tidak hanya meningkatkan
kesadaran siswa terhadap kebutuhan orang
lain tetapi juga melatih kemampuan mereka
dalam mengambil keputusan yang bijaksana
dan berkontribusi positif bagi lingkungan
sekitarnya.
Secara keseluruhan, pembelajaran
Pendidikan Pancasila tidak hanya berfungsi
sebagai sarana pendidikan formal, tetapi juga
menjadi fondasi untuk menciptakan generasi
yang memiliki integritas dan rasa
kemanusiaan yang tinggi. Dengan
internalisasi nilai-nilai Pancasila, siswa dapat
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Maret 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
9
menjadi individu yang lebih toleran, peduli
terhadap sesama, dan mampu menjalankan
tanggung jawabnya sebagai bagian dari
masyarakat. Hal ini menjadikan Pendidikan
Pancasila sebagai elemen penting dalam
membentuk karakter bangsa yang kuat dan
beradab.
Pembelajaran Pendidikan Pancasila
dapat digunakan secara efektif untuk
menangkal bullying karena mengajarkan
nilai-nilai moral, empati, dan penghormatan
terhadap sesama yang menjadi dasar dalam
menciptakan hubungan yang harmonis.
Melalui pemahaman mendalam terhadap
sila-sila Pancasila, seperti kemanusiaan yang
adil dan beradab serta persatuan Indonesia,
siswa didorong untuk menghormati
perbedaan dan menjunjung tinggi nilai
kesetaraan. Pendidikan ini juga membekali
siswa dengan kemampuan untuk
menyelesaikan konflik secara damai melalui
dialog dan musyawarah, sehingga
mengurangi potensi terjadinya intimidasi dan
kekerasan. Selain itu, melalui refleksi dan
diskusi tentang dampak buruk bullying,
siswa diajak untuk mengembangkan empati
dan tanggung jawab sosial dalam
menciptakan lingkungan yang aman dan
inklusif. Dengan penerapan nilai-nilai
Pancasila secara konsisten, pembelajaran ini
dapat membangun budaya sekolah yang
bebas dari bullying, di mana setiap siswa
merasa dihargai dan dilindungi.
REFERENSI
Buku-Buku
Khoiri, A., Susilawati, E., Hamidah, M. P.,
Kusuma, J. W., Eko Suharyanto, S. T.,
Kom, M., ... & Kom, M. (2023). Konsep
Dasar Teori Pendidikan Karakter.
Cendikia Mulia Mandiri.
Jurnal-Jurnal
Fikhri, M., & Ramdhan, Z. (2020). Perancangan
Desain Karakter Animasi 2d Dampak
Kekerasan Di Sekolah (bullying) Terhadap
Korban Dalam Tugas Perkembangan
Remaja. eProceedings of Art &
Design, 7(2)
Julianti, J., Sutarto, S., & Putra, H. P.
(2024). Analisis Program BK Bidang
Pribadi dan Sosial dalam Membantu Siswa
Mencapai Tugas-Tugas Perkembangan di
MAN Rejang Lebong (Doctoral
dissertation, Institut Agama Islam Negeri
Curup).
Kusumawati, E. (2022). Sosialisasi Kurikulum
Merdeka Belajar Untuk Mewujudkan
Profil Pelajar Pancasila Di Jenjang Sekolah
Dasar Di Sd Al-Islam 2 Jamsaren
Surakarta. BERNAS: Jurnal Pengabdian
Kepada Masyarakat, 3(4), 886-893
Lestari, B., Permatasari, N., & Rohman, M. S.
(2016). Methanolic Extract of Ceplukan
Leaf (Physalis minima L.) Attenuates
Ventricular Fibrosis through Inhibition of
TNF‐α in Ovariectomized Rats. Advances
in Pharmacological and Pharmaceutical
Sciences, 2016(1), 2428052.
Rasyid, A. T., Ridha, R., Hajar, A., Armita, S., &
Saputra, F. T. (2023). Peran dosen dalam
pendidikan karakter mahasiswa
Universitas Muhammadiyah Bone. Jurnal
Ilmiah Profesi Pendidikan, 8(4), 2742-
2753.
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 1 Maret 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
10
Roza, I., & Ramadan, Z. H. (2023).
Implementasi Profil Pelajar Pancasila
Elemen Berkhebinekaan Global di Sekolah
Dasar. Jurnal Educatio FKIP UNMA, 9(4),
2206-2211.
Sartika, R., & Ndona, J. (2024). Peran
Pendidikan Pancasila Dalam Implementasi
Pendidikan Karakter Di Era 4.0. Pendas:
Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 9(04),
121-134.
Peraturan-Perundangan
Undang-Undang Republik Indonesia No.20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, dengan
Tambahan Lembaran Negara No.4301.
.
.