PENDAHULUAN
SMA Negeri 2 Cibinong merupakan
salah satu sekolah menengah atas negeri terbaik
di Kabupaten Bogor. Lingkungan akademik
yang aktif dan adanya berbagai organisasi
kepemudaan seperti OSIS, Pramuka, PMR, serta
kegiatan ekstrakurikuler lainnya memberikan
sekolah ini potensi besar dalam membentuk
karakter remaja lewat aktivitas yang positif.
Akan tetapi, di balik perubahan tersebut, terdapat
masalah serius yang dihadapi, yaitu
bertambahnya dampak pergaulan bebas di
kalangan pemuda. Keadaan sosial dan budaya di
lingkungan sekolah yang terletak di area
perkotaan semakin meningkatkan peluang
remaja terpengaruh oleh perilaku devian. Ini
mengindikasikan pentingnya adanya intervensi
terstruktur melalui program pemberdayaan bagi
remaja.
Remaja adalah sumber daya bangsa
dengan potensi luar biasa untuk pembangunan di
masa mendatang. Akan tetapi, proses
perkembangan yang mereka jalani sering kali
disertai dengan berbagai tantangan besar, baik
dari aspek psikologis, sosial, maupun budaya.
Salah satu tantangan utama yang dialami remaja
saat ini adalah kebebasan bergaul yang meliputi
penyalahgunaan narkoba, seks di luar nikah,
serta keterlibatan dalam kegiatan yang tidak
bermanfaat. Penelitian menunjukkan bahwa
minimnya pengawasan, kurangnya pendidikan,
dan terbatasnya akses ke kegiatan yang positif
merupakan faktor utama remaja terjebak dalam
perilaku menyimpang (Retnawati, 2014: 6).
Faktor permasalahan yang
menyebabkan kenakalan remaja sangat
beragam. Penelitian oleh (Yolanda et al.,
2024) menunjukkan bahwa faktor internal,
seperti tekanan emosional dan pencarian
identitas, serta faktor eksternal, seperti
pengaruh teman sebaya dan lingkungan
keluarga, berkontribusi terhadap perilaku
menyimpang. Selain itu, kurangnya
komunikasi yang efektif antara orang tua dan
anak juga menjadi faktor penting yang
mempengaruhi kecenderungan kenakalan
remaja (Afrita & Yusri, 2000).
Dalam konteks Indonesia, statistik
perilaku remaja menunjukkan kecenderungan
yang mengkhawatirkan. Menurut informasi dari
Badan Narkotika Nasional (BNN), sekitar 2,29
juta siswa di Indonesia telah mencoba narkoba.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak (KPPPA) juga mencatat
bahwa kasus kekerasan seksual dan pernikahan
dini di kalangan remaja meningkat dalam lima
tahun terakhir. Data ini menunjukkan bahwa
dampak negatif dari pergaulan bebas tidak hanya
bersifat personal, tetapi juga telah menjadi
fenomena sosial yang membutuhkan perhatian
serius dari banyak pihak, termasuk lembaga
pendidikan.
Pendidikan karakter menjadi salah satu
strategi yang diandalkan untuk menghadapi