Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 2 September 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
71
Sosialisasi Mengenai Program Pemberdayaan Remaja Melalui
Kegiatan Kepemudaan yang Positif dan Berpengaruh untuk
Melawan Pergaulan Bebas Remaja
Candra Nur Hidayat
a,1
, Serena Ghean Niagara
b,2
a, b
Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Pamulang
*1
dosen02435@unpam.ac.id;
2
dosen02436@unpam.ac.id
Naskah diterima: 9 April 2025, direvisi: 27 Juli 2025, disetujui: 25 Agustus 2025
Abstrak
Permasalahan pergaulan bebas remaja menjadi perhatian utama di SMA Negeri 2 Cibinong.
Hasil observasi dan diskusi bersama pihak sekolah menunjukkan bahwa kurangnya sosialisasi
mengenai pemberdayaan remaja melalui kegiatan kepemudaan yang positif menjadi faktor
penyebab. Tujuan dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini adalah untuk
memberikan pemahaman serta menyadarkan pentingnya peran kegiatan kepemudaan dalam
membentuk karakter dan menghindarkan remaja dari pergaulan bebas. Metode yang digunakan
adalah pendampingan melalui brainstorming, penyuluhan, dan edukasi untuk membuka
wawasan siswa mengenai dampak negatif pergaulan bebas serta pentingnya keterlibatan aktif
dalam kegiatan positif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terhadap
pentingnya pemberdayaan remaja dan keterlibatan masyarakat sekolah dalam mendukung
kegiatan kepemudaan. Kesimpulannya, pendekatan partisipatif dan edukatif efektif dalam
meningkatkan kesadaran serta peran aktif siswa dan masyarakat sekolah. Disarankan agar
program serupa dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak seperti orang
tua, guru, dan komunitas lokal untuk memperkuat hasil yang dicapai.
Kata-kata kunci: Pemberdayaan Remaja; Kepemudaan; Pergaulan Bebas
Abstract
The issue of juvenile delinquency and free association among teenagers is a major concern at
SMA Negeri 2 Cibinong. Based on intensive discussions with school stakeholders, the lack of
youth empowerment through positive activities is identified as a core issue. This Community
Service Program (PKM) aims to raise awareness and understanding about the importance of
youth engagement in character-building activities to prevent risky behaviors. The method used
includes mentoring through brainstorming, counseling, and education to broaden students’
perspectives on the negative impacts of free association and the benefits of active participation
in positive youth programs. The result shows an increased understanding among students
regarding youth empowerment and greater involvement from the school community in
supporting such programs. In conclusion, participatory and educational approaches are
effective in enhancing awareness and active roles of students and the school community. It is
recommended that similar programs be carried out continuously with involvement from
parents, teachers, and local communities to strengthen the impact.
Keywords: Youth Empowerment; Positive Activitie; Free Association
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 2 September 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
72
PENDAHULUAN
SMA Negeri 2 Cibinong merupakan
salah satu sekolah menengah atas negeri terbaik
di Kabupaten Bogor. Lingkungan akademik
yang aktif dan adanya berbagai organisasi
kepemudaan seperti OSIS, Pramuka, PMR, serta
kegiatan ekstrakurikuler lainnya memberikan
sekolah ini potensi besar dalam membentuk
karakter remaja lewat aktivitas yang positif.
Akan tetapi, di balik perubahan tersebut, terdapat
masalah serius yang dihadapi, yaitu
bertambahnya dampak pergaulan bebas di
kalangan pemuda. Keadaan sosial dan budaya di
lingkungan sekolah yang terletak di area
perkotaan semakin meningkatkan peluang
remaja terpengaruh oleh perilaku devian. Ini
mengindikasikan pentingnya adanya intervensi
terstruktur melalui program pemberdayaan bagi
remaja.
Remaja adalah sumber daya bangsa
dengan potensi luar biasa untuk pembangunan di
masa mendatang. Akan tetapi, proses
perkembangan yang mereka jalani sering kali
disertai dengan berbagai tantangan besar, baik
dari aspek psikologis, sosial, maupun budaya.
Salah satu tantangan utama yang dialami remaja
saat ini adalah kebebasan bergaul yang meliputi
penyalahgunaan narkoba, seks di luar nikah,
serta keterlibatan dalam kegiatan yang tidak
bermanfaat. Penelitian menunjukkan bahwa
minimnya pengawasan, kurangnya pendidikan,
dan terbatasnya akses ke kegiatan yang positif
merupakan faktor utama remaja terjebak dalam
perilaku menyimpang (Retnawati, 2014: 6).
Faktor permasalahan yang
menyebabkan kenakalan remaja sangat
beragam. Penelitian oleh (Yolanda et al.,
2024) menunjukkan bahwa faktor internal,
seperti tekanan emosional dan pencarian
identitas, serta faktor eksternal, seperti
pengaruh teman sebaya dan lingkungan
keluarga, berkontribusi terhadap perilaku
menyimpang. Selain itu, kurangnya
komunikasi yang efektif antara orang tua dan
anak juga menjadi faktor penting yang
mempengaruhi kecenderungan kenakalan
remaja (Afrita & Yusri, 2000).
Dalam konteks Indonesia, statistik
perilaku remaja menunjukkan kecenderungan
yang mengkhawatirkan. Menurut informasi dari
Badan Narkotika Nasional (BNN), sekitar 2,29
juta siswa di Indonesia telah mencoba narkoba.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak (KPPPA) juga mencatat
bahwa kasus kekerasan seksual dan pernikahan
dini di kalangan remaja meningkat dalam lima
tahun terakhir. Data ini menunjukkan bahwa
dampak negatif dari pergaulan bebas tidak hanya
bersifat personal, tetapi juga telah menjadi
fenomena sosial yang membutuhkan perhatian
serius dari banyak pihak, termasuk lembaga
pendidikan.
Pendidikan karakter menjadi salah satu
strategi yang diandalkan untuk menghadapi
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 2 September 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
73
tantangan tersebut. Menurut Lickona (1991),
pendidikan karakter adalah usaha yang
direncanakan untuk membina nilai-nilai moral,
sosial, dan emosional siswa. Dalam
pelaksanaannya, pendidikan karakter dapat
diwujudkan melalui pengembangan kegiatan
ekstrakurikuler yang positif dan melibatkan
partisipasi. Agar efektif, kegiatan itu perlu
disusun dalam bentuk pemberdayaan yang
berkelanjutan dan melibatkan partisipasi aktif
dari siswa.
Hasil observasi dan diskusi dengan
SMA Negeri 2 Cibinong menunjukkan bahwa
mitra menghadapi masalah utama berupa
rendahnya pemahaman siswa mengenai
pentingnya pemberdayaan melalui kegiatan
kepemudaan. Keterbatasan sosialisasi,
kurangnya pemahaman mengenai konsekuensi
pergaulan bebas, serta belum maksimalnya
partisipasi siswa dalam organisasi yang
konstruktif menjadi tantangan yang signifikan.
Kondisi ini jelas menghalangi upaya
pembentukan karakter dan perlindungan hukum
untuk remaja yang seharusnya diberikan secara
komprehensif oleh masyarakat dan negara.
Secara teori, metode pemberdayaan
pemuda melalui aktivitas kepemudaan memiliki
fondasi yang kokoh dalam beragam teori sosial.
Teori perkembangan remaja menurut Erik
Erikson menyoroti signifikansi identitas dan
peran sosial selama masa remaja. Pada fase ini,
para remaja menggali identitas diri dan
cenderung mencoba berbagai hal. Apabila tidak
dibimbing dengan baik, pencarian identitas ini
bisa menuju pada tindakan yang menyimpang.
Di sinilah fungsi kegiatan kepemudaan sebagai
media untuk membentuk identitas yang positif
menjadi sangat krusial.
Di samping itu, teori labeling yang
dikemukakan Howard Becker menyatakan
bahwa remaja yang sering dicap "nakal" oleh
lingkungan cenderung memperkuat perilaku
menyimpang itu karena merasa telah terstigma.
Oleh karena itu, penting untuk mengadopsi
pendekatan yang positif dan meningkatkan
pemberdayaan agar remaja tidak merasa
diasingkan atau disalahkan, tetapi dapat
berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan yang
konstruktif.
Beberapa studi sebelumnya telah
membuktikan keberhasilan program kegiatan
pemuda dalam menurunkan perilaku negatif di
kalangan anak muda. Sebagai contoh, Aulia
(2018: 1) mengungkapkan bahwa aktivitas
edukatif dan sosial dapat meningkatkan
pemahaman remaja hingga 88% mengenai
dampak negatif dari teknologi dan lingkungan.
Hal yang sama juga terlihat dalam pengabdian
Ningsih (2020: 45) yang mengindikasikan
bahwa pelatihan kepemudaan mampu
memperkuat karakter pemuda serta
mengarahkan mereka ke kegiatan yang lebih
produktif.
Sebaliknya, lingkungan pendidikan
memainkan peranan penting sebagai penggerak
perubahan sosial. Sekolah bukan hanya lokasi
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 2 September 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
74
pendidikan akademik, melainkan juga
lingkungan sosial di mana siswa belajar
berinteraksi, menyelesaikan permasalahan, dan
menumbuhkan kemampuan kepemimpinan.
Dalam konteks ini, pembentukan organisasi
pemuda yang solid menjadi alat efektif untuk
meningkatkan keterampilan sosial dan mencegah
perilaku menyimpang di kalangan remaja.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini
bertujuan untuk meningkatkan pemahaman
siswa SMA Negeri 2 Cibinong mengenai
signifikansi pemberdayaan pemuda melalui
program kepemudaan. Fokus utama dari
kegiatan ini adalah membimbing remaja untuk
terlibat dalam aktivitas yang positif,
meningkatkan pemahaman tentang dampak
buruk pergaulan bebas, serta membentuk
karakter yang mandiri dan bertanggung jawab.
Aktivitas ini bertujuan untuk memperkuat
kerjasama antara sekolah, masyarakat, dan
perguruan tinggi dalam mendukung kemajuan
remaja.
Keuntungan dari pengabdian ini
meliputi: (1) meningkatkan kesadaran siswa
mengenai risiko pergaulan bebas dan pentingnya
aktivitas yang constructif; (2) memberi sarana
bagi remaja untuk mengasah kemampuan diri
melalui organisasi di sekolah; (3) meningkatkan
keterlibatan masyarakat dalam pembinaan
remaja; serta (4) menyediakan layanan dan
pendampingan hukum kepada siswa jika
dibutuhkan melalui kerjasama dengan Lembaga
Bantuan Hukum di bawah Fakultas Hukum
Universitas Pamulang
Solusi yang disajikan dalam pengabdian
ini meliputi tiga pendekatan utama, yaitu:
pertama, sosialisasi dan penyuluhan tentang
pemberdayaan remaja serta efek pergaulan
bebas; kedua, edukasi melalui pelatihan,
seminar, dan diskusi interaktif; ketiga,
pendampingan berkelanjutan berupa konsultasi
dan penguatan organisasi kepemudaan di
sekolah. Pendekatan ini diharapkan dapat
memperluas pandangan siswa, menciptakan
kesadaran bersama, serta menciptakan suasana
sekolah yang lebih sehat dan produktif.
Melalui pengabdian ini, SMA Negeri 2
Cibinong diharapkan dapat menjadi contoh
sekolah yang dapat menciptakan suasana positif
untuk perkembangan remaja. Program ini tidak
hanya menekankan pada upaya pencegahan,
tetapi juga promosi dan pengobatan melalui
pemberdayaan yang terencana dan
berkelanjutan. Oleh sebab itu, aktivitas ini
memiliki tingkat urgensi yang tinggi dan
relevansi yang kuat terhadap kebutuhan
masyarakat, terutama dalam membangun
generasi muda yang mempunyai karakter dan
daya saing.
METODE
Kegiatan Pengabdian kepada
Masyarakat ini dilakukan oleh tim pengajar
Fakultas Hukum Universitas Pamulang pada
tanggal 8 sampai 10 Mei 2025 di Aula SMA
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 2 September 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
Negeri 2 Cibinong, Kabupaten Bogor.
Kegiatan dilaksanakan setiap hari mulai
pukul 09.00 WIB dan dihadiri oleh seluruh
siswa SMA Negeri 2 Cibinong, terutama
bagi yang telah memahami hukum dan
memerlukan informasi tepat mengenai
praktik perlindungan hukum serta penguatan
karakter melalui kegiatan kepemudaan yang
konstruktif. Sasaran pengabdian ditujukan
kepada siswa-siswa yang berisiko terhadap
dampak pergaulan bebas, tetapi memiliki
kemampuan besar untuk diberdayakan
melalui pendekatan yang edukatif dan
partisipatif.
Prosedur pelaksanaan PKM disusun
secara terstruktur, dimulai dari koordinasi
awal antara tim PKM dengan pihak sekolah
untuk menentukan lokasi target. Proses ini
diteruskan dengan survei dan pengamatan
lapangan untuk memahami keadaan sosial
siswa serta menentukan lokasi kegiatan yang
sesuai, yaitu aula sekolah. Sebelum kegiatan
dimulai, tim pengabdian meminta izin resmi
kepada pihak sekolah serta menyertakan
surat tugas dari Fakultas sebagai wujud
ketertiban administrasi.
Persiapan realisasi meliputi
penyusunan konten, pembuatan banner,
backdrop, serta pengadaan peralatan
pendukung seperti proyektor dan
dokumentasi. Materi penyuluhan dibuat oleh
tiga pembicara dalam format presentasi
PowerPoint yang mencakup: pemahaman
mengenai pergaulan bebas, aspek hukum
yang melindungi remaja dari dampak
negatif, dan strategi pemberdayaan melalui
aktivitas kepemudaan seperti OSIS,
Pramuka, dan PMR.
Serangkaian aktivitas diawali dengan
pendaftaran peserta, distribusi konsumsi, dan
pembukaan acara oleh Kepala Sekolah SMA
Negeri 2 Cibinong. Kegiatan selanjutnya
berupa sesi penyuluhan dari narasumber,
yang diiringi dengan diskusi interaktif serta
sesi tanya-jawab. Strategi yang diterapkan
mencakup pendidikan hukum, penyuluhan
berdasarkan tema, dan diskusi terbuka
sebagai bentuk konsultasi hukum di luar
litigasi kepada siswa.
Kegiatan ini bertujuan tidak hanya
untuk menambah pengetahuan, tetapi juga
untuk mengembangkan kesadaran hukum
dan tanggung jawab sosial di kalangan
remaja. Kegiatan diakhiri dengan pemaparan
kesimpulan, pemberian piagam penghargaan
kepada peserta dan narasumber, serta sesi
foto bersama. Usai kegiatan selesai, tim
PKM menyusun laporan akhir yang
diunggah ke sistem pelaporan Sintias
Universitas Pamulang sebagai bentuk
akuntabilitas administratif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Aktivitas pengabdian masyarakat di
SMA Negeri 2 Cibinong memberikan hasil
yang baik. Dari jumlah 108 siswa yang
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 2 September 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
76
berpartisipasi dalam kegiatan selama tiga
hari, sebagian besar menyatakan bahwa
acara ini sangat bermanfaat dan
meningkatkan pemahaman mereka mengenai
pentingnya pemberdayaan remaja serta risiko
pergaulan bebas.
Hasil evaluasi dari kuesioner yang
disebarkan sebelum dan sesudah kegiatan
menunjukkan adanya peningkatan yang
signifikan dalam pemahaman siswa
mengenai isu yang dibahas.
Tabel 1. Hasil Evaluasi Pemahaman Siswa
Sebelum dan Sesudah Kegiatan
Aspek
Pemahaman
Sebelum
Kegiatan
(%)
Sesudah
Kegiatan
(%)
Bahaya pergaulan
bebas
52%
92%
Peran organisasi
kepemudaan
47%
89%
Perlindungan
hukum bagi
remaja
43%
85%
Komitmen
mengikuti
kegiatan OSIS
33%
78%
Sumber: Data Kuesioner PKM, 2025.
Tabel di atas menggambarkan bahwa
aktivitas sosialisasi dan penyuluhan
memberikan pengaruh baik terhadap
peningkatan pengetahuan dan kesadaran
siswa. Peningkatan pemahaman paling besar
terjadi pada aspek perlindungan hukum dan
risiko pergaulan bebas, yang awalnya
dipahami secara sempit, tetapi setelah
mendengarkan penjelasan langsung dari ahli
hukum, para siswa menjadi lebih terbuka dan
menyadari hak serta kewajiban mereka
sebagai remaja.
Gambar 1. Dokumentasi Kegiatan
Penyuluhan dan Diskusi
Sumber: Dokumentasi Tim PKM Unpam, 2025
KESIMPULAN
Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat
yang dilakukan di SMA Negeri 2 Cibinong
berhasil mencapai tujuannya dalam
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 2 September 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
77
memberikan pemahaman lebih mendalam
kepada siswa tentang pentingnya pemberdayaan
remaja melalui aktivitas kepemudaan yang
positif sebagai upaya mencegah pergaulan
bebas. Semangat peserta, kemajuan yang jelas
dalam aspek pemahaman, serta partisipasi aktif
dalam diskusi menunjukkan bahwa metode
edukasi yang diterapkan telah sesuai. Aktivitas
ini tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi
juga menciptakan kesadaran bersama dan
mendorong semangat siswa untuk terlibat
dalam organisasi yang positif di lingkungan
sekolah. Dukungan yang solid dari sekolah dan
penggunaan metode interaktif merupakan kunci
sukses program ini, meskipun masih ada ruang
untuk perbaikan, terutama dalam melibatkan
orang tua dan memperpanjang waktu kegiatan
agar hasil yang dicapai lebih mendalam dan
berkelanjutan.
Berdasarkan hasil tersebut, disarankan
agar pihak pemerintah mulai melakukan
pembaruan regulasi mengenai pemberdayaan
remaja, terutama dalam konteks aktivitas
kepemudaan yang berorientasi pada sekolah
dan komunitas. Aturan itu harus mendukung
pengembangan program pendidikan karakter
secara terencana dan melibatkan lembaga
pendidikan tinggi sebagai mitra pelaksana. Di
samping itu, diharapkan masyarakat, terutama
orang tua dan lingkungan sekolah, lebih
proaktif dalam memahami serta mendukung
kegiatan pemberdayaan remaja agar dampak
dari pengaruh pergaulan bebas bisa
diminimalkan secara signifikan. Kerja sama
antar sektor menjadi sangat penting dalam
membangun ekosistem pendidikan yang aman,
sehat, dan memberdayakan remaja secara
komprehensif.
REFERENSI
Buku-buku
Badan Narkotika Nasional. (2023). Laporan
Tahunan Pencegahan Narkoba di
Kalangan Pelajar. Jakarta: BNN.
Sunarto, K. (2004). Pengantar Sosiologi.
Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi UI.
Jurnal-jurnal
Afrita, F., & Yusri, F. (2000). Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Kenakalan
Remaja. EDUCATIVO: JURNAL
PENDIDIKAN, 2(1), 4045.
Aulia, N. (2018). Pengaruh Kegiatan
Edukatif terhadap Pemahaman Remaja
terhadap Bahaya Lingkungan. Jurnal
Pendidikan Karakter, 6(2), 110.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak. (2022). Data
Kasus Kekerasan Seksual dan
Pernikahan Dini pada Remaja. Jakarta:
KPPPA.
Ningsih, R. (2020). Pelatihan Kepemudaan
sebagai Upaya Penguatan Karakter
Remaja di Sekolah Menengah. Jurnal
Pengabdian Masyarakat Unggul, 4(1),
Jurnal Loyalitas Sosial
Vol. 7 No. 2 September 2025
Journal of Community Services in Humanities and Social Sciences
p-ISSN 2655-9072 | e-ISSN 2686-1380
78
4050.
Retnawati, H. (2014). Pendidikan Remaja
dan Peran Strategis Sekolah dalam
Menghadapi Pergaulan Bebas. Jurnal
Pendidikan dan Kebudayaan, 20(1), 1
12.
Yolanda, S. G., Ummah, T., Hamado, H.,
Aza, D. W., & Astuti, D. A. (2024).
Studi Kualitatif Kenakalan Remaja.
Buletin Ilmu Kebidanan Dan
Keperawatan, 3(01), 2538.
https://doi.org/10.56741/bikk.v3i01.48