Membangun Budaya Anti Kenakalan Remaja Melalui Sosialisasi Edukatif
Abstract
Kasus kenakalan remaja di Indonesia terus meningkat setiap tahun dan banyak terjadi pada kelompok usia 13-17 tahun. Kondisi ini menunjukkan perlunya intervensi pendidikan yang berfokus pada pencegahan melalui penguatan kesadaran, karakter, dan lingkungan sosial remaja. Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan edukasi preventif kepada remaja putri anggota Klub Bola Voli GAVO Kota Salatiga agar mampu memahami risiko kenakalan remaja dan mengembangkan sikap serta keterampilan positif untuk menghindari perilaku menyimpang. Kegiatan dilaksanakan selama delapan sesi melalui metode sosialisasi, penyuluhan, diskusi interaktif, studi kasus, pelatihan keterampilan hidup, dan latihan olahraga bersama. Evaluasi dilaksanakan melalui angket respons peserta. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terkait bahaya NAPZA, kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, kesetaraan gender, dan strategi komunikasi efektif. Selain itu, peserta meunjukkan motivasi lebih tinggi dalam mengembangkan perilaku positif dan keterampilan hidup termasuk keterampilan kewirausahaan melalui pembuatan drum stick. Secara keseluruhan, skor evaluasi peserta mencapai rata-rata 3,56 yang berada pada kategori sangat baik. Kegiatan ini efektif dalam meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan sikap remaja dalam mencegah perilaku menyimpang. Tujuan dari Pengabdian Kepada Mayarakat (PKM) ini adalah memberikan edukasi kepada remaja tingkat SMA untuk tidak melakukan tawuran. Metode yang dilakukan dengan cara ceramah serta memberikan motivasi. Tumbuh kembang anak selalu menjadi perhatian bagi orang tuanya. Ketika memasuki dunia remaja, lingkungan memiliki pengaruh yang besar terhadap karakter anak. Salah satunya yaitu di lingkungan sekolah, jadi perlu ada kerjasama antara sekolah dengan orang tua. Hasil dari kegiatan pengabdian ini adalah tumbuhnya sikap percaya diri untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat dan tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Anak Remaja berani menolak melakukan tawuran alias anti tawuran. Serta sebelum melakukan sesuatu harus bisa mengilmuinya terlebih dahulu untuk menimbang itu baik atau buruk. Terwujudnya institusi pendidikan yakni lingkungan Sekolah Menengah Pertama yang aman dan menyenangkan dalam tempat belajar sebagai proses mencari jati diri bagi anak remaja. Dengan anak remaja yang semangat dalam menuntut ilmu itu potensi kuat negara ini memiliki generasi yang kuat akarnya.