Pelatihan Instalasi dan Perawatan Filter Teknologi Tepat Guna Air Bersih di Desa Kepuren, Serang Banten

Authors

  • Farid Wazdi Prodi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Pamulang, Tangerang Selatan
  • Kusdi Prijono Prodi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Pamulang, Tangerang Selatan

Keywords:

Kualitas Air Bersih, Filter Teknologi Tepat Guna

Abstract

Saat ini dengan meningkatnya populasi Masyarakat, maka kebutuhan air bersih makin meningkat. Jumlah warga yang semakin padat dan ketersediaan lahan untuk pengadaan air bersih makin berkurang. Penduduk Indonesia terutama menggunakan air permukaan yaitu air sungai dan air sumur. Dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri, air bersih didefinisikan sebagai air yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dapat diminum apabila dimasak. Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 82 tahun 2001 tentang pengendalian Pencemaran Air (Peraturan Pemerintah RI, 2001), disebutkan ada 4 macam penggolongan air berdasarkan peruntukannya yaitu: 1) Air golongan A; yakni air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu. 2) Air golongan B; yakni air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum. 3) Air golongan C; yakni air yang dapat digunakan untuk perikanan dan peternakan. 4) Air golongan D; yakni air yang dapat digunakan untuk pertanian, industri, pembangkit listrik tenaga air. Saat ini air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian dan penanganan yang serius. Pengadaan air bersih di Indonesia khususnya untuk skala besar saat ini masih terpusat di daerah perkotaan, dan dikelola oleh Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) kota dan daerah dan secara nasional jumlahnya masih belum mencukupi dan dapat dikatakan relative kecil yakni 16,08% (UNICEF Indonesia, 2012). Untuk daerah yang belum mendapatkan pelayanan air bersih dari PAM umumnya mereka menggunakan air tanah (sumur), air sungai, air hujan, air sumber (mata air) dan lainnya. Permasalahan yang timbul yakni sering dijumpai bahwa kualitas air tanah maupun air sungai yang digunakan masyarakat kurang atau tidak memenuhi syarat sebagai air minum yang sehat bahkan di beberapa tempat tidak layak untuk digunakan dalam keperluan sehari-sehari seperti mandi dan mencuci. Air yang layak diminum, mempunyai standar persyaratan tertentu yakni persyaratan fisis, kimiawi dan bakteriologis (Kemenkes RI, 2010), dan syarat tersebut merupakan satu kesatuan. Jadi jika ada satu saja parameter yang tidak memenuhi syarat maka air tesebut tidak layak untuk diminum. Pemakaian air minum yang tidak memenuhi standar kualitas tersebut dapat menimbulkan gangguan kesehatan, baik secara langsung dan cepat maupun tidak langsung dan secara perlahan, sehingga menurunkan kualitas hidup Dosen Teknik mesin Universitas Pamulang dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tingginya selalu melakukan pembimbingan baik sosialisasi maupun pelatihan kepada Masyarakat sekitar kampus dalam pemanfaat dalam pemanfaatan teknologi yang baik dan benar. Dalam program Pengabdian Kepada Masyarakat saat ini, yang akan dilakukan oleh dosen Teknik Mesin Universitas Pamulang adalah memberikan pelatihan instalasi dan perawatan filter teknologi tepat guna air bersih di Desa Kepuren. Proses perijinan hinggan monitoring hasil dari kegiatan program dilakukan dengan terus melakukan komunikasi dengan Masyarakat dan apparat Pemerintahan Desa Kepuren, Serang Banten. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan solusi masalah air bersih secara optimal dengan menggunakan teknologi yang sesuai dengan kondisi di Masyarakat Desa Kepuren. Dengan meningkatnya ketersediaan air bersih akan memberikan manfaat meningkatnya kesehatan warga dan lingkungan di Desa Kepuren tersebut. Hal ini juga akan berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat di desa tersebut.

References

[1] Boekoesoe, L. (2010). Tingkat Kualitas Bakteriologis Air Bersih di Desa Sosial Kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo. Jurnal Inovasi, 7(04).

[2] Ginanjar, R. (2008), Hubungan Jenis Sumber Air Bersih dan Kondisi Fisik Air Bersih dengan Kejadian Diare Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukmajaya. Jakarta: Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.

[3] Kemenkes RI. (2002). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

[4] Kemenkes RI. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

[5] Kusnaedi. (2010). Mengolah Air Kotor Untuk Air Minum, Cetakan I. Jakarta: Penebar Swadaya.

[6] Munfiah, S., Nurjazuli, & Setiani, O. (2013). Kualitas Fisik dan Kimia Air Sumur Gali dan Sumur Bor di Wilayah Kerja Puskesmas Guntur II Kabupaten Demak. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 12(2), 154-159.

[7] Peraturan Pemerintah RI. (2001). Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.

[8] Quddus, R. (2014). Teknik Pengolahan Air Bersih Dengan Sistem Saringan Pasir Lambat (Downflow) Yang Bersumber Dari Sungai Musi. Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan, 3(1), 669-675.

[9] Said, N. I., & Wahjono, H. D. (1999). Teknologi Pengolahan Air Bersih Dengan Proses Saringan Pasir Lambat. Jakarta: Kelompok Teknologi Pengolahan Air Bersih dan Limbah Cair, BPPT

[10] Warlina, L. (2004). Pencemaran Air: Sumber, Dampak dan Penanggulangannya. Bogor: Institut Pertanian Bogor (Unpublised).

Downloads

Published

2025-08-07

How to Cite

Wazdi, F., & Prijono, K. (2025). Pelatihan Instalasi dan Perawatan Filter Teknologi Tepat Guna Air Bersih di Desa Kepuren, Serang Banten. Garda: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 7(1), 14–28. Retrieved from https://openjournal.unpam.ac.id/index.php/grd/article/view/52562