Melampaui Sekat Bahasa: Reorientasi Pembelajaran BIPA Berbasis Interkultural sebagai Katalis Integrasi Sosial Pengungsi Internasional

Authors

  • Juwita Elmina Saragih Universitas Kristen Indonesia
  • Devina Christania Universitas Kristen Indonesia
  • Susanne A.H. Sitohang Universitas Kristen Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.32493/acb.v6i1.58449

Abstract

Kemampuan berbahasa Indonesia merupakan fondasi utama bagi pengungsi internasional untuk mengatasi isolasi sosial dan mengakses layanan dasar. Namun, keterbatasan ruang aman untuk praktik bahasa serta minimnya pemahaman lintas budaya menjadi hambatan signifikan bagi pengungsi di kawasan Puncak–Cipayung, Bogor. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk mengimplementasikan pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) berbasis interkultural sebagai solusi untuk mendorong integrasi sosial pengungsi. Metode pelaksanaan meliputi tahap persiapan melalui identifikasi kebutuhan, pelaksanaan melalui sepuluh sesi pembelajaran interaktif dengan pendekatan active learning dan collaborative learning, serta tahap evaluasi. Hasil tahap awal menunjukkan dampak positif yang signifikan: sekitar 85% peserta merasa lebih percaya diri dalam berinteraksi, dan tingkat keberhasilan latihan percakapan mencapai 65–75%. Pendekatan interkultural melalui aktivitas cultural sharing terbukti efektif membangun solidaritas dan membantu adaptasi sosial peserta di lingkungan baru. Program ini merekomendasikan adanya kolaborasi berkelanjutan dengan Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia untuk memastikan dukungan integrasi sosial yang konsisten dan sistematis bagi pengungsi.

References

Bandura, A. (2004). Self-efficacy: The exercise of control. Freeman.

Byram, M. (1997). Teaching and assessing intercultural communicative competence. Multilingual Matters.

Deardorff, D. K. (2006). Identification and assessment of intercultural competence as a student outcome of internationalization. Journal of Studies in International Education, 10(3), 241–266.

Fozdar, F., & Hartley, L. (2013). Refugee settlement and language learning: A case study of English as a second language (ESL) provision in Western Australia. Journal of Refugee Studies, 26(4), 559–580.

JRS Indonesia. (2023). Laporan tahunan pelayanan pengungsi di kawasan Bogor dan sekitarnya. Jakarta: Jesuit Refugee Service.

Kementerian PPN/Bappenas. (2020). Peta jalan SDGs Indonesia: Peran pendidikan dan perdamaian dalam penanganan pengungsi. Jakarta: Kementerian PPN.

Kramsch, C. (1993). Context and culture in language teaching. Oxford University Press.

Kramsch, C. (1998). Language and culture. Oxford University Press.

Krashen, S. D. (1982). Principles and practice in second language acquisition. Pergamon Press.

Presiden Republik Indonesia. (2016). Peraturan Presiden Nomor 125 Tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi. Lembaran Negara RI Tahun 2016 No. 125. Jakarta: Sekretariat Negara.

Rahmawati, D., & Hidayat, T. (2021). Bahan ajar BIPA bagi pengungsi dewasa: Sebuah analisis kebutuhan. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 8(2), 112–125.

UNHCR. (2020). Global trends: Forced displacement in 2020. Geneva: United Nations High Commissioner for Refugees.

Jesuit Refugee Service Indonesia. (2022). Annual report: Education and community-based support for refugees. JRS Publications.

Universitas Kristen Indonesia. (2023). Laporan program pengabdian masyarakat: Bahasa dan budaya untuk pengungsi internasional. Fakultas Sastra dan Bahasa UKI.

Downloads

Published

2026-02-15

How to Cite

Juwita Elmina Saragih, Devina Christania, & Susanne A.H. Sitohang. (2026). Melampaui Sekat Bahasa: Reorientasi Pembelajaran BIPA Berbasis Interkultural sebagai Katalis Integrasi Sosial Pengungsi Internasional. ACITYA BHAKTI, 6(1), 45–52. https://doi.org/10.32493/acb.v6i1.58449