Program Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Pengungsi dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika: Studi Kasus di Bogor dan Jakarta
DOI:
https://doi.org/10.32493/acb.v6i1.59037Abstract
Bahasa merupakan pintu masuk bagi terciptanya koherensi budaya dan kesetaraan dalam kehidupan. Hal inilah yang melandasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) yang dilakukan oleh Fakultas Sastra dan Bahasa (FSB) untuk memberikan pembelajaran bahasa Indonesia bagi para pengungsi asal Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika yang bernaung di Cipayung, Puncak, Bogor. Melalui artikel ini, ditunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia bagi pengungsi tersebut memberikan manfaat terutama dalam menumbuhkan rasa percaya diri untuk berbaur dengan masyarakat sekitar. Kegiatan yang diinisiasi oleh Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang bekerja sama dengan Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia ini memberikan pembelajaran kosakata hingga kalimat sederhana untuk berkomunikasi sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara menyenangkan dengan metode collaborative dan active learning untuk memberikan kesempatan pada pengungsi untuk saling berkenalan, bermain, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan sesama pengungsi maupun orang Indonesia menggunakan bahasa Indonesia. Sebagian besar pengungsi belajar kosakata untuk meningkatkan kepercayaan diri, tampil, dan memperkenalkan identitasnya. Dari kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia ini dapat ditunjukkan bahwa mempelajari bahasa Indonesia dapat memberikan kesempatan luas untuk mengenal budaya Indonesia sekaligus membuka ruang selebar-lebarnya bagi pengungsi untuk mengekspresikan diri dan menumbuhkan kepercayaan diri dalam bergaul dengan masyarakat--mengubah stigma bahwa pengungsi merupakan kelompok yang rentan untuk menjadi manusia seutuhnya yang setara dan diterima.
References
Beiser, M., & Hou, F. (2001). Language acquisition, unemployment and depressive disorder among Southeast Asian refugees: A 10-year study. Social Science & Medicine, 53, 1321–1334.
Fitria, T. N. (2023). Introducing Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA): Method and challenges of teaching Indonesian as a Foreign Language (IFL). Inovasi Kurikulum, 20(2). https://doi.org/10.17509/jik.v20i2.60374
Hasbi, A. I. P., Abduh, A., Basri, M. A., & Tahir, M. (2025). The use of code mixing by foreign refugees in multilingual environment of Makassar City towards English language teaching in Indonesia. KLASIKAL: Journal of Education, Language Teaching and Science, 7(1), 229–239.
Jasemi, A., & Gottardo, A. (2023). Second language acquisition and acculturation: Similarities and differences between immigrants and refugees. Frontiers in Communication, 8, 1159026. https://doi.org/10.3389/fcomm.2023.1159026
Karlin, N. (2025). Refugee learning center in Indonesia: A habitat for refugee well-being in transit. European Journal of Education. https://doi.org/10.1111/ejed.12926
Keraf, G. (1991). Diksi dan gaya bahasa (Cet. 7). PT Gramedia Pustaka Utama.
Mixed Migration Centre. (2021). A transit country no more: Refugees and asylum seekers in Indonesia. https://mixedmigration.org/wp-content/uploads/2021/05/170_Indonesia_Transit_Country_No_More_Research_Report.pdf
Suyitno, I. (2018). Bahasa Indonesia untuk penutur asing: Teori, strategi, dan aplikasi pembelajarannya. PT Refika Aditama.
United Nations High Commissioner for Refugees. (2024). UNHCR di Indonesia. https://www.unhcr.org/id/unhcr-di-indonesia
Zunaidi, A. (2024). Metodologi pengabdian kepada masyarakat: Pendekatan praktis untuk memberdayakan komunitas. Yayasan Putra Adi Dharma.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Devina Christania, Susanne A.H. Sitohang, Jannes Freddy Pardede, Lea Maria Moningka, Yeni Masus, Yepsan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
