Harmoni dan Toleransi dalam Keragaman (Studi Kasus Umat Beragama pada Masyarakat Suku Baduy Lebak Banten)
DOI:
https://doi.org/10.32493/amq.v2i1.41807Keywords:
Kerukunan, Toleransi, Keberagaman, Umat Beragama, Suku BaduyAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis; (1) Untuk mengetahui tentang keberagaman agama masyarakat suku Baduy, (2) Untuk mengetahui bentuk kerukunan dan toleransi masyarakat suku Baduy, (3) Untuk mengetahui tingkat kerukunan, kebebasan dan konflik agama pada Suku Baduy. Lokasi penelitian ini di masyarakat Baduy Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Mereka mendiami wilayah Gunung Kendeng yang luasnya 5.101,85 hektar. Masyarakat Baduy dikenal dengan 3 kelompok sosial meliputi Baduy Tangtu (dalam), Baduy Panamping, Baduy Dangka dan Baduy Pajaroan (luar), Baduy memeluk agama Islam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Metode analisis data menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suku Baduy merupakan suku yang memegang teguh adat kepu'unan dan memiliki kepercayaan Sunda Wiwitan. Akan tetapi ada sebagian dari mereka yang merasa tidak kuat untuk mengikuti adat dan meninggalkan tanah Baduyyulayat, sehingga suku Baduy menjadi beraneka ragam. Keberagaman masyarakat Baduy tersebut terdiri dari: TangtuBaduy (dalam), PanampingBaduy, Dangka dan Pajaroan (luar) serta Baduy yang pindah agama/Islam. Wujud kerukunan suku Baduy dapat dilihat dari ketaatan mereka dalam menjunjung tinggi adat kepu'unan diantaranya; upacara serang nyacar, upacara serang nuaran, upacara serang ngaduruk, upacara serang ngaseuk, upacara serang ngored, buat serang, upacara kawalu, upacara ngalaksa dan upacara sebaBaduy. Sedangkan toleransi suku Baduy dapat dilihat dari (a) Saling menghargai keyakinan masing-masing, (b) Jika seorang muslim atau suku Baduy yang masuk Islam sedang berpuasa, maka suku Baduy yang lain tidak makan sembarangan atau tidak makan di luar. (c) Ketika merayakan hari raya Idul Fitri mereka (Baduy dalam maupun Baduy luar) akan datang bersilaturahmi dengan makanan.
References
Al Mu'tal As Saidi. 2002. Kebebasan Berfikir dalam Islam. Yogyakarta: Adi Wacana. Anis Malik Thoha. 2005. Tren Pluralisme Agama. Jakarta :Perspektif.
Adimihardja, K.,Dinamika Budaya Lokal. Bandung: Pusat Kajian LBPB.2008.
Ardan, R., Afinitas Antara Orang Baduy dan Sunda Sekitarnya Berdasarkan Ciri Morfologi pada Gigi dan pada Muka, Disertasi. Bandung. UniveristasPadjadjaran, 1993.
Abdullah, Masykuri, Pluralisme Agama dan Kerukunan dalam Keragaman, PenerbitBuku Kompas, Jakarta, 2001.
Arkoun, Mohammed, Islam Kontemporer Menuju Dialog Antar Agama, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001.
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta, 2006.
Asep Kurnia dan Ahmad Sihabudin, Saatnya Baduy Bicara, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010).
Clark, Walter Houston. The Religion of Childhood. Avaliable FTP: 2004, dalam http://www.philosophy.org/handout/religious. htm.
Danasasmita, S.,dan A. Djatisunda, U. Djunaedi, Masyarakat Kanakes. Bandung, Bappeda D.T. I Jabar. 1983.
Departmen Agama RI, Damai di Dunia, Damai Untuk Semua Pespektif Berbagai Agama, Badan Litbang, Jakarta, 2004.
Danasasmita, S., dan A. Djatisunda, Kehidupan Masyarakat Kenekes. Bandung: Bagian ProyekPenelitian dan Pengkajian Sundanologi Dirjen Kebudayaan Depdikbud. 1986.
Geise, NJ., Baduysen Moslim in Lebak Parahiang Zuid Banten. Lieden, N.V. Grafisch Bedrijfen Uitgeferij de Jong. 1952.
Garna, J., Masyarakat dan Kebudayaan BaduyI. Bandung: Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Unpad. 1974.
Bandung. SimposiumKebudayaan Indonesia- Malaysia, Universiti Kebangsaan Malaysia-Universitas Padjadjaran. 1987.
-------, Orang Baduy, Bangi, Selangor, Malaysia. Kualalumpur: University Kebangsaan. 1987.
-------, Tangtu Telu Jaro Tujuh: Kajian Struktural Masyarakat Baduy di Banten Selatan Jawa Barat.Malaysia. Thesis Ph.D., 1988.
Geertz, Clifford. Religion a Cultural System: A Reader in Comparative Religion—An Anthropological Approach, dalam William A. Lessa
Hasbullah Mursyiddkk. Kompilasi Peraturan Perundang-undangan Kerukunan hidup Umat Beragama. Jakarta.
Ismail, Faisal, Dinamika Kerukunan Antar umat Beragama, PT Remaja Rosdakarya , Bandung, 2014.
Ira Indrawardana, Berketuhanandalam Perspektif Kepercayaan Sunda Wiwitan, Jurnal Melintas, 2014.
Kusnaka Adimihardja, Orang Baduy di Banten Selatan, Manusia Air Pemelihara Sungai, Jurnal Antropologi Indonesia, 2000.
Lukman Hakim, Baduy Dalam Selubung Rahasia, Banten, Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Banten, 2012.
Mukhoyyaroh, Didin Saepudin, and M. Ikhsan Tanggok. "Chinese Culture in the Cirebon Sultanate: Symbolic and Philosophical Meanings." Insaniyat: Journal of Islam and Humanities 6, no. 1 2021
R. Cecep Eka Permana, Kearifan Lokal Masyarakat Baduy Dalam Mitigasi Bencana, (Jakarta; WadatamaWidiya Sastra, Cet. Ke-1, 2010.
Risna Bintari, Sejarah Perkembangan Sosial Ekonomi Masyarakat Baduy Pasca Terbentuknya Provinsi Banten Tahun, Vol. 1 No. 1 Tahun 2012.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2010.
Uten Sutendi, Kearifan Hidup Orang Baduy,Damaidengan Alam, Tangerang: Media Komunika, 2010.
Wiyani, Novan Ardy. Pendidikan Agama Islam Berbasis Pendidikan Karakter. Bandung: Alfabeta, 2013.
Zarkasyi, Hamid Fahmy. Islam HAM dan Kebebasan Beragama. Jakarta: INSIST, 2011.



