Sumber Energi Alternatif Briket Arang dari Tempurung Kelapa dan Kulit Kopi dengan Perekat Tapioka
Keywords:
Briket, Biomassa, Tempurung Kelapa, Kulit Kopi, Tapioka, Bahan Bakar AlternatifAbstract
Briket merupakan salah satu bahan bakar alternatif berbasis biomassa yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar konvensional. Tempurung kelapa dan kulit kopi merupakan limbah biomassa yang berpotensi digunakan sebagai bahan baku briket. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik briket arang dari campuran tempurung kelapa, kulit kopi, dan perekat tapioka pada tiga variasi komposisi. Komposisi yang digunakan yaitu 55% tempurung kelapa : 35% kulit kopi : 10% tapioka; 45% tempurung kelapa : 45% kulit kopi : 10% tapioka; dan 35% tempurung kelapa : 55% kulit kopi : 10% tapioka. Pembuatan briket meliputi proses karbonisasi, penghalusan, pengayakan 60 mesh, pencampuran dengan perekat, pencetakan, pemadatan, dan pengeringan. Pengujian dilakukan terhadap kadar air, kadar abu, nilai kalor, dan laju pembakaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa briket dengan komposisi 55% tempurung kelapa, 35% kulit kopi, dan 10% tapioka memiliki kadar air terendah sebesar 6,39% dan nilai kalor tertinggi sebesar 6.283 kal/g. Sementara itu, komposisi 35% tempurung kelapa, 55% kulit kopi, dan 10% tapioka menghasilkan kadar air tertinggi sebesar 7,09% dan nilai kalor terendah sebesar 6.074 kal/g. Laju pembakaran berada pada rentang 0,24–0,27 g/menit. Berdasarkan hasil tersebut, komposisi dengan proporsi tempurung kelapa lebih tinggi menunjukkan karakteristik nilai kalor yang lebih baik dan berpotensi digunakan sebagai bahan bakar alternatif.
Abstract: Briquettes are an alternative solid fuel produced from organic materials or biomass that have not been optimally utilized. Various types of biomass waste, including coconut shells and coffee husks, have considerable potential as raw materials for briquette production. This study aims to investigate the characteristics of charcoal briquettes produced from a mixture of coconut shell charcoal, coffee husk charcoal, and tapioca binder using three different compositions. The compositions were 55% coconut shell charcoal : 35% coffee husk charcoal : 10% tapioca (Composition 1), 45% coconut shell charcoal : 45% coffee husk charcoal : 10% tapioca (Composition 2), and 35% coconut shell charcoal : 55% coffee husk charcoal : 10% tapioca (Composition 3). The briquette production process consisted of carbonization, grinding, sieving through a 60-mesh sieve, mixing with tapioca binder, molding, pressing, and sun drying for 1–3 days. The resulting briquettes were tested for moisture content, ash content, calorific value, and combustion rate. The results showed that Composition 1 produced the lowest moisture content of 6.39% and the highest calorific value of 6,283 cal/g. In contrast, Composition 3 produced the highest moisture content of 7.09% and the lowest calorific value of 6,074 cal/g. The combustion rate ranged from 0.24 to 0.27 g/min. These results indicate that a higher proportion of coconut shell charcoal tends to produce briquettes with a higher calorific value and lower moisture content, indicating their potential as an alternative solid fuel.
References
[1] N. A. Fitri, “Pembuatan Briket dari Campuran Kulit Kopi (coffea arabica) dan Serbuk Gergaji dengan Menggunakan Getah Pinus Sebagai Perekat,” UIN Alauddin Makassar, 2017.
[2] Arni, H. M. D. Labania, and A. Nismayanti, “Studi Uji Karakteristik Fisis Briket Bioarang sebagai Sumber Energi Alternatif,” Nat. Sci. J. Sci. Technol., vol. 3, no. 1, pp. 89–98, 2014.
[3] E. W. Kurniawan, M. Rahman, and R. K. Pemuda, “Studi Karakteristik Briket Tempurung Kelapa dengan Berbagai Jenis Perekat Briket,” Bul. Loupe, vol. 15, no. 01, pp. 31–37, Dec. 2019, doi: https://doi.org/10.51967/buletinloupe.v15i01.24.
[4] B. Agusta, “Analisis Nilai Kalor dan Laju Pembakaran pada Briket Campuran Kulit Kopi dan Buah Pinus dengan Menggunakan Getah Pinus sebagai Perekat,” ITN Malang, 2022.
[5] S. Putro, Musabbikhah, and S. B. T.-P. S. N. R. XIV, “Variasi Temperatur dan Waktu Karbonisasi untuk Meningkatkan Nilai Kalor dan Memperbaiki Sifat Proximate Biomassa Sebagai Bahan Pembuat Briket Yang Berkualitas.” Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta, pp. 282–288, 2015.
[6] I. A. Bahtiar, “Pengaruh Jenis dan Jumlah Campuran Perekat Terhadap Sifat Fisik Briket Arang Sekam Padi,” Universitas Jember, 2020.
[7] I. Muzi and S. A. Mulasari, “Perbedaan Konsentrasi Perekat antara Briket Bioarang Tandan Kosong Sawit dengan Briket Bioarang Tempurung Kelapa terhadap Waktu Didih Air,” J. Kesehat. Masy., vol. 8, no. 1, 2015.
[8] B. Setyawan and R. Ulfa, “Analisis Mutu Briket Arang dari Limbah Biomassa Campuran Kulit Kopi dan Tempurung Kelapa dengan Perekat Tepung Tapioka,” Edubiotik, vol. 4, no. 02, pp. 110–120, 2019.
[9] R. A. Nanda, Z. Fona, and Pardi, “Analisis Mutu Briket Arang Cangkang kopi, Cangkang Kemiri dan Tempurung Kelapa Ditinjau dari Kadar Perekat Kanji,” Proceeding Semin. Nas. Politek. Negeri Lhokseumawe, vol. 2, no. 1, pp. 19–22, 2018.
[10] M. H. Furqan, E. Elfiana, and Z. Amalia, “Pemanfaatan Limbah Kulit Kopi dan Tempurung Kelapa menjadi Briket Biomassa,” J. Teknol., vol. 25, no. 1, pp. 15–19, 2025, doi: http://dx.doi.org/10.30811/teknologi.v25i1.6282.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Edi Tri Astuti, Mohamad Sjahmanto, Deden Rosid Waltam

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.



