LIVING QURAN : SKEMA WAHYU HIDUP DI TENGAH MASYARAKAT

Authors

  • Amaliyah Universitas Pamulang

Abstract

Al-Qur’an sebagai wahyu Ilahi diturunkan untuk menjadi pedoman hidup bagi seluruh umat manusia di setiap ruang dan waktu. Seiring  perkembangan zaman dan perubahan sosial, interaksi umat Islam terhadap Al-Qur’an tidak hanya berhenti pada pembacaan teks, tetapi berkembang menjadi berbagai bentuk penghayatan dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena ini melahirkan konsep Living Qur’an, yaitu studi tentang bagaimana wahyu “hidup” dan “dihidupkan” di tengah masyarakat. Metodologi dengan pendekatan living Quran, bukan terkait teks, akan tetapi, pada respon sosial terhadap Masyarakat. Perspektif Living Qur’an menunjukkan bahwa nilai-nilai wahyu termanifestasi dalam beragam dimensi kehidupan, seperti spiritualitas, moralitas, pendidikan, budaya, serta hubungan sosial. Tradisi keagamaan seperti tahlilan, khataman, atau penggunaan ayat tertentu dalam pengobatan (ruqyah) merupakan bentuk konkret dari internalisasi makna Al-Qur’an dalam budaya lokal. Arus modernisasi dan globalisasi, muncul tantangan besar berupa sekularisasi, degradasi moral, dan berkurangnya pemahaman kontekstual terhadap Al-Qur’an. Hal ini menyebabkan nilai-nilai wahyu perlahan terpinggirkan dari kehidupan sosial. Oleh karena itu, konsep Living Qur’an menjadi penting sebagai pendekatan metodologis dan reflektif untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Al-Qur’an di masyarakat modern. Hasil penelitian ini menemukan alur skema implementasi living Quran, dimulai dari komponen wahyu, proses internalisasi nilai wahyu, interaksi sosial manusia, manifestasi nilai qur’ani, dampak sosial. Dengan implikasi dimensi spiritual, dimensi moral dan sosial, dimensi budaya dan tradisi, dimensi intelektual dan pendidikan, dimensi sosio-politik dan ekonomi.

Downloads

Published

2025-12-01