STATUS HUKUM MASYARAKAT SUKU BAJO DI KELURAHAN BAJOE KEC. TANETE RIATTANG TIMUR KABUPATEN BONE
DOI:
https://doi.org/10.32493/rjih.v8i2.56543Keywords:
Bajo People, Legal Status, Coastal AreaAbstract
Indonesia, as an archipelagic state, possesses the second-longest coastline in the world, with more than 70% of its population residing in coastal areas. Among these coastal communities, the Bajo people are renowned for their long-standing maritime culture and reputation as skilled seafarers. Social transformation has shifted much of the Bajo population from a nomadic life at sea to permanent settlements along the coast, including Kampung Bajo in Bajoe Village, Tanete Riattang Timur District, Bone Regency. This transition raises critical questions regarding the certainty of their legal status. This study examines the legal status of the Bajo community in Kampung Bajo, Bajoe Village, Tanete Riattang Timur District, Bone Regency. Employing a socio-legal research approach within the framework of empirical legal studies, the research utilizes both primary and secondary data, gathered through interviews with local government officials and community leaders, and complemented by literature review. The data were analyzed qualitatively. The findings indicate that within the classification of three types of coastal communities, the Bajo in Kampung Bajo fall into the category of Traditional Communities. Although they continue to uphold traditional values in settlement and fishing practices, their customary institutions no longer exist.
References
Buku
Djubedi, D. (2015). Hak ulayat laut di era otonomi daerah. Yogyakarta: Genta Press.
Irwansyah. (2021). Penelitian hukum (Pilihan metode dan praktik penulisan artikel) (Edisi revisi). Yogyakarta: Mirra Buana Media.
PeraturanPerundang-Undangan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2014 tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat.
Artikel Seminar/Jurnal/Website
Artanto, Y. K. (2017). Bapongka, sistem budaya Suku Bajo dalam menjaga kelestarian sumber daya pesisir. Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan, 12(1), 52–69. https://doi.org/10.14710/sabda.v12i1.15253
Febryaningrum, V., Mayangsari, S., & Pandin, M. Y. R. (2024). Peran ekonomi biru dalam memperkuat ketahanan ekonomi: Studi kasus kawasan wisata mangrove di Surabaya. Jurnal Manajemen dan Ekonomi Kreatif, 2(3), 67–84. https://doi.org/10.59024/jumek.v2i3.368
Greeners.co. (2022). 70% penduduk Indonesia gantungkan hidupnya pada laut. Greeners.co.
https://www.greeners.co/aksi/70-penduduk-indonesia-gantungkan-hidupnya-pada-laut
Hamka. (2017). Tipomorfologi kawasan permukiman nelayan pesisir pantai Pelabuhan Bajoe Kab. Bone. Spectra, 15(29), 41–52. https://eprints.itn.ac.id/3170/1/761-61-1276-1-10-20170807.pdf
Hermanto, P. A. (2023, Agustus 25). Mengenal Suku Bajo di Indonesia, hidup secara nomaden di atas perahu bertahun-tahun. Jurnal Flores (Aktual, Independen, Terpercaya). https://www.jurnalflores.co.id/news/7769935138/mengenal-suku-bajo-di-indonesia-hidup-secara- nomaden-diatas-perahu-bertahun-tahun
Indonesia Baik. (2017). Bahasa-bahasa daerah yang telah punah. Indonesia Baik.
https://indonesiabaik.id/infografis/bahasa-bahasa-daerah-yang-telah-punah
Iqbal Maulana. (2024, Desember 28). Suku Bajo: Keunikan kehidupan laut dan kearifan lokal yang terlupakan. Kompasiana. https://www.kompasiana.com/iqbalmaulana3077/676f630f34777c52a5460fb5/suku-bajo-keunikan- kehidupan-laut-dan-kearifan-lokal-yang-terlupakan
Kartika, R. D. (2024, Agustus 21). Berapa panjang garis pantai Indonesia? Ini jawabannya. Kompas.com. https://www.kompas.com/skola/read/2024/08/21/113830369/berapa-panjang-garis- pantai-indonesia-ini-jawabannya
La Hewi. (2015). Kemandirian usia dini di Suku Bajo. Jurnal Pendidikan Usia Dini, 9(1), 75–92. https://media.neliti.com/media/publications/117734-ID-kemandirian-usia-dini-di-suku-bajo.pdf
Nur, S. S. (2015). Pola penguasaan dan pemanfaatan wilayah perairan pesisir secara turun-temurun oleh Suku Bajo. Prosiding Seminar Nasional Multi Disiplin Ilmu & Call for Papers UNISBANK (SENDI_U). https://www.unisbank.ac.id/ojs/index.php/sendi_u/article/view/3329
Rustan. (2018). Adaptasi dan perubahan sosial pada kehidupan Suku Bajo: Studi kasus Suku Bajo Kelurahan Bajoe Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone [Tesis, Universitas Bosowa]. Universitas Bosowa Repository. https://repository.unibos.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/4113/2018%20Rustan%20MPW%2 04514014.pdf
Suryanegara, E., Suprajaka, & Nahib, I. (2015). Perubahan sosial pada kehidupan Suku Bajo: Studi kasus di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Majalah Ilmiah Globe, 17(1), 67–78. https://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=610238&val=10835
Syam, S. (2021). Sistem simbiosis mutualistis sebagai konsep Mallabu arsitektur permukiman Suku Bajo pendukung habitat perikanan laut [Disertasi, Universitas Hasanuddin]. Universitas Hasanuddin Repository. https://repository.unhas.ac.id/id/eprint/12104/3/P1300316003_disertasi.pdf
Syam, S., et al. (2017). Sambuangan Taguk Pulih sebagai wujud saujana arsitektur Suku Bajo.
Prosiding Seminar Heritage IPLBI, 227–234. https://doi.org/10.32315/sem.1.b227
Yola Amalia Ayuningsi. (2019). Arahan pengembangan permukiman masyarakat Suku Bajo di wilayah pesisir Kelurahan Bajoe, Kabupaten Bone [Skripsi tidak dipublikasikan]. Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin.
Zakaria, R. Y. (2014). Kriteria masyarakat (hukum) adat dan potensi implikasinya terhadap perebutan sumber daya hutan pasca-putusan MK Nomor 35/PUU-X/2012: Studi kasus Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Wacana: Jurnal Transformasi Sosial, 33, 99–135. https://www.aman.or.id/wp-content/uploads/2014/06/Wacana-_33.pdf.


